ii
MELEPAS, MEMASANG DAN
MENYETEL RODA
BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM
DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2004
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN
PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK MEKANIK OTOMOTIF
KODE MODUL
OPKR-40-017B
iii
KATA PENGANTAR
Modul Melepas, Memasang dan Menyetel Roda digunakan sebagai
panduan kegiatan belajar untuk membentuk salah satu kompetensi, yaitu:
Melepas, Memasang dan Menyetel Roda. Modul ini dapat digunakan untuk
peserta diklat Program Keahlian Mekanik Otomotif.
Modul ini memberikan latihan untuk mempelajari melepas, memasang dan
menyetel roda. Modul ini terdiri atas empat kegiatan belajar. Kegiatan
belajar 1 membahas tentang mengidentifikasi konstruksi jenis roda.
Kegiatan belajar 2 membahas tentang melepas roda-roda. Kegiatan
belajar 3 membahas tentang pemeriksaan roda, dan Kegiatan belajar 4
membahas tentang memasang roda.
Yogyakarta, Februari 2005
Penyusun.
Tim Fakultas Teknik
Universitas Negeri Yogyakarta
iv
DAFTAR ISI MODUL
Halaman
HALAMAN SAMPUL …….…………………………………………………………….... i
HALAMAN FRANCIS …….…………………………………………………………….... ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………iii
DAFTAR ISI ……….……………………………………………………………………………iv
PETA KEDUDUKAN MODUL ……….……………………………………………………vi
PERISTILAHAN/GLOSSARY ……..……………………………………………… ix
I. PENDAHULUAN …………………………………………………………………………1
A. DESKRIPSI ……..…………………………………………………………………… 1
B. PRASYARAT ………………………………………………………………………………1
C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ………………………………………… 1
1. Petunjuk Bagi Peserta Diklat ……..…………………………………………1…………
2. Peran Bagi Guru …….…………………………………………………… 2
D. TUJUAN AKHIR ………………………………………………………………………3
E. KOMPETENSI ……….…………………………………………………………………4
F. CEK KEMAMPUAN ……………………………………………………………………8
II. PEMELAJARAN ……..……………………………………………………………… 9
A. RENCANA BELAJAR PESERTA DIKLAT …………………………………………9……………
B. KEGIATAN BELAJAR ……..…………………………………………………………9
1. Kegiatan Belajar 1: Mengidentifikasi Konstruksi Jenis Roda 9
a. Tujuan kegiatan belajar 1 ……….………………………………. 9
b. Uraian materi 1 …….………………………………………………………10
c. Rangkuman 1 …….…………………………………………………………23
d. Tugas 1 …….…………………………………………………………………24
e. Tes formatif 1 ……..……………………………………………………….. 24
f. Kunci jawaban formatif 1 ……..………………………………………25
g. Lembar kerja 1 ……………………………………………………………27
2. Kegiatan Belajar 2 : Melepas Roda-roda …….……………………28
a. Tujuan kegiatan belajar 2 ……..………………………………….. 28
b. Uraian materi 2 ……..……………………………………………………2..8
c. Rangkuman 2 ……..………………………………………………………3..2
v
d. Tugas 2 ……..…………………………………………………………………33
e. Tes formatif 2 ……..………………………………………………………33
f. Kunci jawaban formatif 2 ………………………………………………34
g. Lembar kerja 2 ………………………………………………………………36
3. Kegiatan Belajar 3 : Pemeriksaan Roda ................................3..7
a. Tujuan kegiatan belajar 3 …………………………………………. 37
b. Uraian materi 3 ……..……………………………………………………37
c. Rangkuman 3 ……..………………………………………………………51
d. Tugas 3 ……….………………………………………………………………54
e. Tes formatif 3 ……..………………………………………………….....5..5
f. Kunci jawaban formatif 3 ……..………………………………………56
g. Lembar kerja 3 ……..………………………………………………………61
4. Kegiatan Belajar 4 : Memasang Roda ...................................6..2
a. Tujuan kegiatan belajar 4 …………………………………………. 62
b. Uraian materi 4 ……..……………………………………………………62
c. Rangkuman 4 ………………………………………………………………66
d. Tugas 4 ……..…………………………………………………………………66
e. Tes formatif 4 …………………………………………………………...... 66
f. Kunci jawaban formatif 4 ……..………………………………………67
g. Lembar kerja 4 ……..………………………………………………………69
III.EVALUASI ………………………………………………………………………………7..0
A. PERTANYAAN …….…………………………………………………………….....7..0
B. KUNCI JAWABAN …………………………………………………………………..7..0
C. KRITERIA KELULUSAN ……..……………………………………………………73
IV. PENUTUP …….…………………………………………………………………………74
DAFTAR PUSTAKA ………...……………………………………………………………75
vi
PETA KEDUDUKAN MODUL
A. Diagram Pencapaian Kompetensi
Diagram ini menunjukkan tahapan atau tata urutan pencapaian
kompetensi yang dilatihkan pada peserta diklat dalam kurun waktu tiga
tahun, serta kemungkinan multi entry–multi exit yang dapat diterapkan.
OPKR-40-017B
vii
Keterangan Diagram Pencapaian Kompetensi
Kode Kompetensi Judul Modul
OPKR 10-001B Pelaksanaan pemeliharaan/ servis
komponen
Pelaksanaan pemeliharaan/
servis komponen
OPKR 10-002B Pemasangan sistem hidrolik Pemasangan sistem hidrolik
OPKR 10-003B Pemeliharaan/servis sistem
hidrolik
Pemeliharaan/servis sistem
hidrolik
OPKR 10-005B Pemeliharaan/servis dan perbaikan
kompresor udara dan
komponen-komponennya
Pemeliharaan/servis dan perbaikan
kompresor udara dan
komponen-komponennya
OPKR 10-006B Melaksanakan prosedur pengelasan,
pematrian, dan pemotongan
dengan panas dan
pemansan
Melaksanakan prosedur
pengelas-an, pematrian, dan
pemotongan dengan panas dan
pemansan
OPKR 10-009B Pembacaan dan pemahaman
gambar teknik
Pembacaan dan pemahaman
gambar teknik
OPKR 10-010B Penggunaan dan pemeliharaan
alat ukur
Penggunaan dan pemeliharaan
alat ukur
OPKR 10-016B Mengikuti prosedur kesehatan
dan keselamatan kerja
Mengikuti prosedur kesehatan
dan keselamatan kerja
OPKR 10-017B Penggunaan dan pemeliharaan
peralatan dan perlengkapan
tempat kerja
Penggunaan dan pemeliharaan
peralatan dan perlengkapan
tempat kerja
OPKR 10-018B Konstribusi komunikasi di tempat
kerja
Konstribusi komunikasi di
tempat kerja
OPKR 10-019B Pelaksanaan operasi penangan an
secara manual
Pelaksanaan operasi
penanganan secara manual
OPKR 20-001B Pemeliharaan/servis engine dan
komponen-komponennya
Pemeliharaan/servis engine dan
komponen-komponennya
OPKR 20-010B Pemeliharaan/servis sistem
pendingin dan komponenkomponennya
Pemeliharaan/servis sistem
pendingin dan komponenkomponennya
OPKR 20-011B Perbaikan sistem pendingin dan
komponen-komponennya
Perbaikan sistem pendingin dan
komponen-komponennya
OPKR 20-012B Overhaul komponen sistem
pendingin
Overhaul komponen sistem
pendingin
OPKR 20-014B Pemeliharaan/servis sistem bahan
bakar bensin
Pemeliharaan/servis sistem
bahan bakar bensin
OPKR 20-017B Pemeliharaan/servis sistem injeksi
bahan bakar diesel
Pemeliharaan/servis sistem
injeksi bahan bakar diesel
OPKR 30-001B Pemeliharaan/servis kopling dan
komponen-komponennya sistem
pengoperasian
Pemeliharaan/servis kopling dan
komponen-komponennya sistem
pengoperasian
OPKR 30-002B Perbaikan kopling dan komponenkomponennya
Perbaikan kopling dan
komponen-komponennya
OPKR 30-003B Overhaul kopling dan komponenkomponennya
Overhaul kopling dan
komponen-komponennya
OPKR 30-004B Pemeliharaan/servis transmisi
manual
Pemeliharaan/servis transmisi
manual
OPKR 30-007B Pemeliharaan/servis transmisi
otomatis
Pemeliharaan/servis transmisi
otomatis
viii
Kode Kompetensi Judul Modul
OPKR 30-010B Pemeliharaan/servis unit final
drive/gardan
Pemeliharaan/servis unit final
drive/ gardan
OPKR 30-013B Pemeliharaan/servis poros roda
penggerak
Pemeliharaan/servis poros roda
penggerak
OPKR 30-014B Perbaikan poros penggerak roda Perbaikan poros penggerak roda
OPKR 40-001B Perakitan dan pemasangan sistem
rem dan komponen-komponennya
Perakitan dan pemasangan
sistem rem dan komponenkomponennya
OPKR 40-002B Pemeliharaan/servis sistem rem Pemeliharaan/servis sistem rem
OPKR 40-003B Perbaikan sistem rem Perbaikan sistem rem
OPKR 40-004B Overhaul komponen sistem rem Overhaul komponen sistem rem
OPKR 40-008B Pemeriksaan sistem kemudi Pemeriksaan sistem kemudi
OPKR 40-009B Perbaikan sistem kemudi Perbaikan sistem kemudi
OPKR 40-012B Pemeriksaan sistem suspensi Pemeriksaan sistem suspensi
OPKR 40-014B Pemeliharaan/servis sistem
suspensi
Pemeliharaan/servis sistem
suspensi
OPKR 40-016B Balans roda/ban Balans roda/ban
OPKR 40-017B Melepas, memasang dan menyetel
roda
Melepas, memasang dan
menyetel roda
OPKR 40-019B Pembongkaran, perbaikan, dan
pemasangan ban luar dan ban
dalam
Pembongkaran, perbaikan, dan
pemasangan ban luar dan ban
dalam
OPKR 50-001B Pengujian, pemeliharaan/servis
dan penggantian baterai
Pengujian, pemeliharaan/servis
dan penggantian baterai
OPKR 50-002B Perbaikan ringan pada rangkaian/
sistem kelistrikan
Perbaikan ringan pada
rangkaian/ sistem kelistrikan
OPKR 50-007B Pemasangan, pengujian, dan
perbaikan sistem penerangan dan
wiring
Pemasangan, pengujian, dan
perbaikan sistem penerangan
dan wiring
OPKR 50-008B Pemasangan, pengujian, dan
perbaikan sistem pengaman ke
listrikan dan komponennya
Pemasangan, pengujian, dan
perbaikan sistem pengaman ke
listrikan dan komponennya
OPKR 50-009B Pemasangan kelengkapan
kelistrikan tambahan (assesoris)
Pemasangan kelengkapan
kelistrikan tambahan (assesoris)
OPKR 50-011B Perbaikan sistem Pengapian Perbaikan sistem Pengapian
OPKR 50-019B Memelihara/servis sistem AC (Air
Conditioner)
Memelihara/servis sistem AC (Air
Conditioner)
B. Kedudukan Modul
Modul dengan kode OPKR-40-017B tentang “Melepas, memasang
dan menyetel roda” ini merupakan prasyarat untuk menempuh
modul OPKR-40-019B.
ix
PERISTILAHAN / GLOSSARY
PR (Play Rating) yaitu Rating merupakan satu istilah yang dipakai untuk
menyatakan kekuatan ban, berdasarkan pada kekuatan serat
katun yang ditentukan oleh JIS.
Carcass merupakan rangka ban yang keras, cukup kuat untuk menahan
udara yang bertekanan tinggi, tetapi harus cukup fleksibel untuk
meredam perubahan beban dan benturan.
Tread adalah lapisan karet luar yang melindungi carcass terhadap
keausan dan kerusakan yang disebabkan oleh permukaan jalan.
Sidewall adalah lapisan karet yang menutup bagian samping ban dan
melindungi carcass terhadap kerusakan dari luar.
Breaker adalah lapisan yang terletak diantara carcass dengan tread yang
memperkuat daya rekat keduanya.
Belt yang digunakan pada ban radial-ply dan diletakkan seperti sarung
mengelilingi ban diantara carcass dan karet tread, untuk menahan
carcass dengan kuat.
Bead yaitu untuk mencegah robeknya ban dari rim oleh karena berbagai
gaya yang bekerja, sisi bebas atau bagian samping ply dikelilingi
oleh kawat baja yang disebut kawat bead
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI
Modul Melepas, Memasang dan Menyetel Roda ini membahas
tentang beberapa hal penting yang perlu diketahui agar dapat
melepas, memasang dan menyetel roda secara efektif, efisien dan
aman. Cakupan materi yang akan dipelajari dalam modul ini meliputi :
(a) mengidentifikasi konstruksi jenis roda, (b) melepas roda-roda, (c)
pemeriksaan roda, dan (d) memasang roda.
Modul ini terdiri atas empat kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1
membahas tentang mengidentifikasi konstruksi jenis roda. Kegiatan
belajar 2 membahas tentang melepas roda-roda. Kegiatan belajar 3
membahas tentang pemeriksaan roda, dan Kegiatan belajar 4
membahas tentang memasang roda.
Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan dapat
memahami cara melepas, memasang dan menyetel roda.
B. PRASYARAT
Sebelum memulai modul ini, peserta diklat pada Bidang Keahlian
Mekanik Otomotif harus sudah menyelesaikan modul-modul prasyarat
seperti terlihat dalam diagram pencapaian kompetensi maupun peta
kedudukan modul. Prasyarat mempelajari modul OPKR-40-017B antara
lain adalah OPKR-10-018B.
C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Petunjuk Bagi Peserta diklat
2
Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam
menggunakan modul ini maka langkah-langkah yang perlu
dilaksanakan antara lain :
a. Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang
ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang
kurang jelas, peserta diklat dapat bertanya pada guru atau
instruktur yang mengampu kegiatan belajar.
b. Kerjakan setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui
seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap
materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.
c. Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik,
perhatikanlah hal-hal berikut ini :
1).Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang
berlaku.
2).Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan
baik.
3).Sebelum melaksanakan praktikum, identifikasi (tentukan)
peralatan dan bahan yang diperlukan dengan cermat.
4).Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar.
5).Untuk melakukan kegiatan praktikum yang belum jelas,
harus meminta ijin guru atau instruktur terlebih dahulu.
6).Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ke tempat
semula
d. Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi
pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada
guru atau instruktur yang mengampu kegiatan pembelajaran
yang bersangkutan.
2. Petunjuk Bagi Guru
Dalam setiap kegiatan belajar guru atau instruktur berperan untuk :
3
a. Membantu peserta diklat dalam merencanakan proses belajar
b. Membimbing peserta diklat melalui tugas-tugas pelatihan yang
dijelaskan dalam tahap belajar
c. Membantu peserta diklat dalam memahami konsep, praktik
baru, dan menjawab pertanyaan peserta diklat mengenai
proses belajar peserta diklat
d. Membantu peserta diklat untuk menentukan dan mengakses
sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan
f. Merencanakan seorang ahli / pendamping guru dari tempat
kerja untuk membantu jika diperlukan
D. TUJUAN AKHIR
Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam
modul ini peserta diklat diharapkan :
1. Memahami cara mengidentifikasi konstruksi jenis roda dengan baik.
2. Memahami cara melepas roda-roda dengan baik.
3. Memahami cara memeriksa roda dengan baik.
4. Memahami cara memasang roda dengan baik.
E. KOMPETENSI
Modul OPKR-40-017B membentuk subkompetensi mengidentifikasi konstruksi jenis roda, melepas roda-roda,
memeriksa roda, memasang roda yang merupakan unsur untuk membentuk kompetensi melepas, memasang dan
menyetel roda. Uraian subkompetensi ini dijabarkan seperti di bawah ini.
Sub Materi Pokok Pembelajaran
Kompetensi
Kriteria Unjuk
Kerja
Lingkup
Belajar Sikap Pengetahuan Ketrampilan
1. Mengidentifikasi
konstruksi jenis
roda.
1. Pengkonstruksian roda
dilaksanakan tanpa
menyebabkan
kerusakan-kerusakan
terhadap komponen
atau sistem lainnya.
2. Informasi yang benar
diakses dari spesifikasi
pabrik dan dipahami.
3. Memeriksa roda untuk
mengidentifikasi tanda
dan titik
pemasangannya.
4. Mengklasifikasikan
konstruksi roda dan
metode
pemasangannya.
1. Klasifikasi jenis
roda.
1. Membedakan jenisjenis
roda.
1.Persyaratan
keamanan
kendaraan/mesin/al
at industri/
perlengkapan.
2.Type dan klasifikasi
roda.
3.Konstruksi dan
bahan roda.
1. Melakukan pemilihan
macam-macam roda.
4
Sub Materi Pokok Pembelajaran
Kompetensi
Kriteria Unjuk
Kerja
Lingkup
Belajar Sikap Pengetahuan Ketrampilan
2. Melepas rodaroda.
1. Identifikasi prosedur
keamanan untuk
melepas roda.
2. Kunci-kunci dan
perlengkapan menjadi
tindakan diperiksa
lebih dahulu sebelum
digunakan sesuai
dengan spesifikasi dan
kondisi keamanan.
3. Penggunaan peralatan
dan perlengkapan
yang memadai serta
pengaturan area kerja
yang aman.
4. Perencanaan urutan
kerja dan titik-titik
pengujian
keselamatan
dibutuhkan.
5. Kendaraan/mesin/pera
latan diangkat dan
disangga.
6. Melepas kedua roda
pada permukaan/
lantai yang rata.
7. Mengikuti prosedur
untuk melepas rodaroda.
1. Prosedur
melepas roda
yang aman.
2. Prosedur
penggunaan
kunci-kunci,
peralatan dan
perlengkapan
yang sesuai.
1. Hati-hati dalam
pemasangan penyangga
kendaraan.
2. Pelepasan roda sesuai
dengan SOP.
1.Persyaratan
keselamatan diri.
2.Memahami cara
mengangkat dan
menyangga
kendaraan.
3.Memahami cara
melepas roda.
1. Melaksanakan
pengangkatan dan
menyangga kendaraan.
2. Melepas roda.
5
Sub Materi Pokok Pembelajaran
Kompetensi
Kriteria Unjuk
Kerja
Lingkup
Belajar Sikap Pengetahuan Ketrampilan
3. Pemeriksaan
roda.
1. Memeriksa roda dan
pemasangannya dari
kerusakan dan
keausan, kelayakan,
material asing dan
keretakan.
2. Memeriksa spesifikasi
dan membandingkan
kondisi keadaan ban.
3. Melaporkan temuan
yang didapat dan
merekomendasikan.
1. Prosedur
pemasangan
roda.
1. Cermat dan teliti
dalam pemeriksaan
roda.
1.Memahami kondisi
roda.
1. Memeriksa kondisi
velg.
2. Memeriksa kondisi
ban.
4. Memasang
roda.
1. Melaksanakan urutan
dan momen
pengencangan roda
sesuai dengan
spesifikasi.
2. Melaksanakan
pekerjaan sesuai
spesifikasi.
3. Penggunaan peralatan
dan perlengkapan
keamanan tempat.
4. Melaksanakan
pemasangan roda-roda
dengan aman dan
memastikan urutan
1. Prosedur
pemasangan
roda.
1. Memperhatikan
keselamatan kerja
ketika menangani
pemasangan roda.
2. Hati-hati dalam
menurunkan
kendaraan.
1. Mengetahui
momen
pengencangan
baut/mur roda.
2. Memahami cara
pemasngan roda.
1. Melaksanakan
pemasangan roda.
6
7
Sub Materi Pokok Pembelajaran
Kompetensi
Kriteria Unjuk
Kerja
Lingkup
Belajar Sikap Pengetahuan Ketrampilan
pengencangan dan
momen pengencangan
sesuai spesifikasi.
5. Memeriksa kerja roda
untuk pemasangan
roda yang benar dan
kemungkinan keausan.
6. Seluruh kegiatan
dilaksanakan
berdasarkan SOP
(Standard Operatio
Prosedures), undangundang
K3
(Keselamatan dan
Kesehatan Kerja),
peraturan perundangundangan
dan
prosedur/kebijakan
perusahaan.
7
F. CEK KEMAMPUAN
Sebelum mempelajari modul OPKR-40-017B, isilah dengan cek list (?) kemampuan yang telah dimiliki peserta
diklat dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan :
Sub Jawaban
Kompetensi
Pernyataan
Ya Tidak
Bila jawaban ‘Ya’,
kerjakan
1. Mengidentifikasi
konstruksi jenis
roda.
1. Saya mampu menjelaskan tentang identifikasi
konstruksi jenis roda dengan baik.
Soal Tes Formatif 1.
2. Melepas rodaroda.
2. Saya mampu menjelaskan tentang identifikasi
prosedur keamanan untuk melepas roda dengan baik.
Soal Tes Formatif 2
3. Pemeriksaan roda. 3. Saya mampu menjelaskan tentang pemeriksaan roda
dan pemasangannya dari kerusakan dan keausan,
kelayakan, material asing dan keretakan dengan baik.
Soal Tes Formatif 3.
4. Memasang roda. 4. Saya mampu menjelaskan tentang pemasangan rodaroda
dengan aman dan memastikan urutan
pengencangan dan momen pengencangan sesuai
spesifikasi dengan baik.
Soal Tes Formatif 4.
Apabila peserta diklat menjawab Tidak, pelajari modul ini.
8
9
BAB II
PEMELAJARAN
A. RENCANA BELAJAR PESERTA DIKLAT
Rencanakan setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di
bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai
mempelajari setiap kegiatan belajar.
Jenis Kegiatan Tanggal Waktu
Tempat
Belajar
Alasan
Perubahan
Paraf
Guru
1. Mengidentifikasi
konstruksi jenis roda.
2. Melepas roda-roda.
3. Pemeriksaan roda.
4. Memasang roda.
B. KEGIATAN BELAJAR
1. Kegiatan Belajar 1 : Mengidentifikasi Konstruksi Jenis Roda
a. Tujuan Kegiatan Belajar 1
1). Peserta diklat dapat menjelaskan pengkonstruksian roda
dilaksanakan tanpa menyebabkan kerusakan-kerusakan
terhadap komponen atau sistem lainnya.
2). Peserta diklat dapat menjelaskan informasi yang benar
diakses dari spesifikasi pabrik dan dipahami.
3). Peserta diklat dapat memeriksa roda untuk mengidentifikasi
tanda dan titik pemasangannya.
4). Peserta diklat dapat mengklasifikasikan konstruksi roda dan
metode pemasangannya
b. Uraian Materi 1
10
PELEK DAN BAN
Pada umumnya roda yang digunakan pada mobil seperti terlihat
pada gambar 1. Roda dapat dibagi menjadi pelek dan ban. Pelek
roda dan ban ini pada manusia dapat diumpamakan sebagai kaki
dan sepatu. Roda meluncur disepanjang jalan sambil memikul
berat kendaraan. Ban berfungsi meredam kejutan-kejutan yang
ditimbulkan oleh keadaan permukaan jalan dan mencegah kejutan
ini berpindah ke body.
Gambar 1. Pelek dan Ban
1). PELEK RODA (DISC WHEEL)
Ban tidak dapat dipasang langsung pada mobil, tetapi
dipasang pada roda-roda, biasanya pelek (disc wheel). Karena
roda merupakan bagian penting yang menyangkut
keselamatan mengemudi, maka harus cukup kuat untuk
menahan beban vertikal dan horisontal, beban pengendaraan
dan pengereman dan berbagai macam tenaga yang tertumpu
pada ban.
Disamping itu roda harus seringan mungkin. Tambahan
pula ban harus dibalance dengan baik, dengan demikian dapat
berputar lembut pada putaran tinggi, dan pelek harus dibuat
akurat agar dapat mengikat ban dengan baik.
11
Gambar 2. Penampang pelek roda
a). TIPE PELEK RODA
Pada gambar 2. memperlihatkan sebuah model roda
yang banyak digunakan pada mobil penumpang. Beberapa
roda ada yang menggunakan ruji-ruji, dan disc wheel yang
banyak digunakan ini terbuat dari baja plat yang dipres
dalam bentuk tertentu. Rim dilaskan menjadi satu dibagian
luar disekeliling roda untuk memungkinkan pemasangan
ban.
Roda dipasangkan pada hub atau poros (axle shaft)
dengan menggunakan empat atau enam buah baut tanam
(hub bolt). Mur roda dibuat sedemikian rupa sehingga pelek
dapat menempatkan posisinya dengan tepat dan center
secara otomatis pada axle hub saat pemasangan. Berat
pembalans (balance weight) kadang-kadang ada terpasang
12
diluar disekeliling rim untuk membalance roda. Baut-baut
yang dipasangkan pada roda disebut baut-baut hub, dan
tutup yang menutupi baut-baut ini disebut tutup roda
(wheel drop).
Pelek roda dapat dibedakan menurut metode
pembuatan dan bahannya. Ada dua tipe yang umumnya
digunakan sekarang : yaitu baja press dan campuran besi
tuang (cast light alloy).
Gambar 3. Tipe pelek roda
PELEK BAJA PRESS
Pelek tipe (pressed-steel disc wheel) ini terdiri dari rim
yang dilas. Disc dibuat dari lembaran baja yang dipres.
Konstruksi seperti ini mudah untuk diproduksi dalam jumlah
yang banyak. Pada umumnya mobil menggunakan tipe ini
karena tahan lama dan kualitasnya merata.
PELEK DARI BAHAN CAMPURAN BESI TUANG
Pelek (cast light-alloy disc wheel) ini terbuat dari
bahan campuran biasanya dari aluminium atau magnesium.
Pada umumnya digunakan untuk mengurangi berat dan
menambah penampilan kendaraan.
Pelek Baja Press Pelek dari Campuran Besi
13
Hal yang perlu diperhatikan dalam menangani pelek
aluminium adalah
? Pada kendaraan yang menggunakan pelek aluminium,
bila melepasnya untuk sementara, umpamanya untuk
rotasi ban, perbaikan, atau bila memasang pelek yang
baru pada kendaraan, maka setelah 1500 km roda
dipasang periksalah kekerasan mur rodanya.
? Bila menggunakan rantai ban, berhati-hatilah
memasangnya agar tidak merusak pelek aluminium.
? Gunakanlah khusus untuk pelek aluminium.
? Bila perlu membalance roda, gunakanlah balance weight
khusus untuk pelek aluminium. Gunakanlah palu plastik
atau karet dan bukan logam untuk memasangnya.
? Seperti halnya pelek jenis lainnya, periksalah pelek
aluminium secara teratur.
b). SISTEM KODE SPESIFIKASI PELEK
Ukuran pelek tercetak pada permukaan pelek itu
sendiri. Biasanya meliputi lebar, bentuk dan diameter pelek.
Misalnya: 5.50 F x 15 SDC
Keterangan 5.50 : Lebar pelek (dalam inchi)
F : Bentuk flens pelek
15 : Diameter pelek (dalam inchi)
SDC : Tipe rim
Gambar 4. Kode Spesifikasi Pelek
14
c). Pelek (Rim)
Penggunaan pelek (atau rim) yang betul akan bermanfaat
bagi kemampuan ban yang dipakai dan keamanan dalam
mengendarai mobil. Menurut standard industri Jepang
(JIS), pelek dibagi menjadi enam kategori sebagai berikut :
Nama Singkatan
Divided Type Rim D.T.
Drop Center Rim D.C.
Wide Drop Center Rim W.D.C.
Semi Drop Center Rim S.D.C.
Flat Base Rim I.R.
? Divide Type Rim
Gambar 5. Divide Type Rim
Pelek jenis ini digunakan untuk mobil kecil, mesin
pertanian, dan kendaraan industri (forklift dan
sebagainya). Devide Type Rim paling cocok untuk
keperluan buka dan pasang ban secara mudah.
Tempat kedudukan bead tidak datar, tetapi miring pada
kedua sisi, menurun kearah pusat dan membentuk apa
yang dinamakan “taper”. Bead yang miring mencegah
penggeseran dan akan menghasilkan pegangan yang
kuat dari bead dan pelek.
? Drop Center Rim
Pelek ini digunakan terutama untuk mobil sedan dan truk
kecil. Terdiri dari satu bagian saja (Devide type terdiri
dari dua bagian). Bentuk bagian tengah yang cekung
15
dimaksudkan untuk memudahkan pemasangan bead.
Disini juga ada “taper” untukmencegah pergeseran
diantara ban dan pelek.
Gambar 6. Drop Center Rim
? Wide Drop Center Rim
Gambar 7. Wide Drop Center Rim
Belakangan ini ban dengan tekanan angin rendah telah
digunakan untuk menambahkan kenyamanan dalam
mengendarai mobil. Ban-ban tersebut lebih lebar
daripada jenis yang biasa dan oleh karena itu,
memerlukan suatu Wide Drop Center Rim (lebih lebar).
Kebanyakan ban ini digunakan untuk mobil sedan dan
truk kecil.
? Semi Drop Center Rim
Gambar 8. Semi Drop Center Rim
16
Semi Drop Center Rim digunakan terutama untuk ban
truk kecil. Bentuk bagian tengah yang sedikit cekung
memudahkan penggantian ban. Kontak antara ban dan
pelek diperbesar dengan adanya “taper”. Hasilnya lebih
baik daripada yang diberikan oleh jenis Flat Base biasa.
Semi Drop Center Rim terdiri dari 3 bagian untuk
memudahkan penggantian ban. Cincin yang dipasang
diantara flens dan pelek induk disebut Cincin Pengunci
(Lock Ring).Tetapii dewasa ini, pelek dengan 2 bagian
(tanpa cincin pengunci) lebih sering digunakan, bagian
yang dapat dilepas disebut Cincin Samping (Side Ring).
? Flat Base Rim
Gambar 9. Flat Base Rim
Flat Base Rim dig Flat Base Rim digunakan untuk truk
dan bus. Struktur pelek rata dan kuat dan oleh karena
itu, dapat menahan beban yang lebih berat. Seperti pada
semi drop center rim, pelepasan dari cincin samping
adalah untuk pemasangan dan pelepasan ban. Pelek
jenis ini sekarang dibuat lebih lebar. Tempat kedudukan
bead sebelah kiri pada gambar 8, tidak begitu jelas
kelihatan tetapi ada “taper“ sedikit. Pada sisi dimana
cincin samping berada, tidak ada taper. Jadi disini
pasangan bead tidak begitu baik, karena itu tidak
direkomendasikan pemakaian pelek jenis ini.
17
? Interim Rim
Gambar 10. Interim Rim
Interim Rim mempunyai konstruksi yang sama dengan
Flat Base Rim yang lebar (Wide Base Rim) dan
merupakan model yang telah disempurnakan dari Flat
Base Rim. Dari hasil eksperimen yang bertahun-tahun
ditemukan bahwa perbandingan (ratio) yang terbaik
antara lebar pelek dan ban adalah sekitar 70%.
Penggunaan pelek yang lebih lebar memberikan
pencegahan yang baik terhadap pembangkitan panas
dalam ban, umur ban yang pendek (dibandingkan
dengan pelek yang lebih tua dengan lebar kira-kira 57 %
dari lebar ban).
d). Ukuran Pelek
Contoh : 5.00 S x 20 F.B.
Keterangan :
5.0 = Lebar pelek (=lebar dasar ban) dalam inchi.
S = bentuk flens dari pelek.
Ada 20 macam,dari A sampai V.
20 = diameter pelek dalam inchi.
F.B. = Flat Base Rim.
18
NAMA BENTUK DASAR PENGGUNAAN
D.T.
(Divided Type Rim)
D.C.
(Drop Center Rim)
S.D.C.
(Semi Drop Center Rim)
F.B.
(Flat Base Rim)
Gambar 11. Bentuk Dasar Pelek
2).BAN
Ban kendaraan dapat dibagi menjadi : ban bias, radial dan
tubeless (tanpa ban dalam).
a). Ban Bias
Ban ini dibuat dengan lapisan serat arah miring. Memiliki
tapak (tread) dengan daya serap benturan yang baik
sehingga memberikan kenyamanan berkendaraan. Adapun
ketahanan terhadap keausan dan guncangan (rol) tidak
sebaik ban radial.
19
b). Ban Radial
Lapisan serat pada ban ini menyilang lingkar ban, ditambah
lapisan sabuk searah lingkar ban. Tipe ban ini, sabuk
terbuat dari serat baja. Ban ini disebut ban radial baja.
Tapaknya lebih kaku, lebih tahan terhadap guncangan dan
keausan daripada tipe bias, namun kurang nyaman pada
jalan tidak rata.
TIRE
TUBE
FLAP WHEEL SIDE RING
Gambar 13. Roda Dengan Ban Dalam
RADIAL CORD
BELT
BIAS
CORD
BREAKER
LINER
CHAMFER
BEAD TIRE
RIM VALVE
Gambar 12. Roda dengan Ban Bias dan Ban
20
c). Ban Tubeless
Tipe ini dirancang untuk menahan udara langsung
didalamnya tanpa menggunakan ban dalam. Dilengkapi
dengan lapisan dalam untuk menghindari kebocoran udara
serta berfungsi untuk menghambat udara bocor dengan
cepat saat ban tertusuk, sehingga tingkat keamanannya
cukup baik. Keuntungan Ban Tubeles yaitu saat ban terkena
paku atau benda tajam lainnya, tread dan liner
mencengkeram kuat pada paku, sehingga dapat mencegah
kebocoran udara sehingga ban tidak cepat kempis. Karena
udara dalam ban berhubungan langsung dengan rim,
transfer radiasi panas akan lebih baik. Dengan
dihilangkannya ban dalam, flap dan side ring ban menjadi
lebih ringan.
Gambar 14. Roda Dengan Ban Tubeless
TREAD
BEAD
SIDEWALL
SHOULDER
CARCASS
(CORD)
BEAD WIRE
LINER
CHAMFER
BEAD WIRE
RIM VALVE
+
WHEEL DISK
TIRE
BEAD BASE
21
d). Kode ukuran ban dan roda
Umumnya ukuran ban dan roda berdasar lebar, kekerasan,
ketebalan, serta sifat lainnya.
Tabel 1. Kode ukuran ban dan roda
Jenis ban Contoh nominasi ban
Dengan Ban Ban bias 10.00 – 20 – 14PR
Dalam Ban radial 10.00 – 20 – 14PR
Tubeless Ban bias 11-22.5 – 14PR
Ban radial 11R22.5 – 14PR
Ban radial ultra flat 225 / 70 R22.5 – 14 0 / 137J
3). Membaca Kode Ban
a) Ban dengan ban dalam
10.0 – R – 20 – 14PR
Keterangan :
10.0 : Lebar ban (inchi)
R : Konstruksi radial
20 : Diameter rim (inchi)
14PR : Kekuatan ban (PR)
b) Ban tubeless
11 – R – 22.5 – 14PR
Keterangan :
11 : Lebar ban (inchi)
R : Konstruksi radial
22.5 : Diameter Rim (Inchi)
14PR : Kekuatan ban (PR)
4). Metode ISO
a)Ban radial ultra flat
225 / 70 – R – 22.5 – 140 – 137 – J
Keterangan :
225 : Lebar ban (inchi)
70 : Rasio Ketebalan
R : Konstruksi radial
22.5 : Diameter Rim (Inchi)
140 : Indek muatan (roda tunggal)
137 : Indek muatan (roda ganda)
J : Simbol kecepatan
Gambar 15. Kode Ban
OUTER DIAMETER
RIM DIAMETER
TIRE WIDTH
TIRE
HEIGHT
22
5). PR (Play Rating)
Rating merupakan satu istilah yang dipakai untuk menyatakan
kekuatan ban, berdasarkan pada kekuatan serat katun yang
ditentukan oleh JIS. Semakin banyak jumlah lapisan, semakin
tinggi kekuatan ban. Dengan kata lain, jumlah ini menyatakan
berapa banyak lapisan benang katun (carcass) yang membentuk
kerangka ban yang sama. 14PR tidak berarti bahwa ban
mempunyai 14 lapisan serat katun.
6). Rasio Ketebalan dan Tingkat Ketebalan
Gambar 16. Ratio Ketebalan dan Tingkat Kerataan
TIRE WIDTH (W)
TIRE HEIGHT (H)
W
Ratio Ketebalan : _____
H
W
Tingkat Kerataan : _____ x 100
H
23
7). Pola tapak ban (Tread pattern)
Jenis, ukuran dan play rating ban ditentukan pada tahap desain
kendaraan, tetapi pola tapak dapat ditentukan menurut kondisi
pelayanan. Menurut tapaknya secara umum ban diklasifikasikan
menjadi 5 pola dasar sebagai berikut.
c. Rangkuman 1
1). Roda dapat dibagi menjadi pelek dan ban. Pelek roda dapat
dibedakan menurut metode pembuatan dan bahannya yaitu baja
press dan campuran besi tuang (cast light alloy).
2). Menurut standard industri Jepang (JIS), pelek dibagi menjadi 6
kategori sebagai berikut : Divided Type Rim, Drop Center Rim,
Wide Drop Center Rim, Semi Drop Center Rim, Flat Base Rim.
3). Ban berfungsi untuk menahan seluruh berat kendaraan,
memindahkan gaya gerak dan gaya pengereman kendaraan ke
jalan, dan juga mengontrol start, akselerasi, deselerasi,
pengereman dan berbelok, juga mengurangi kejutan yang
disebabkan oleh permukaan jalan yang tidak beraturan.
LUG LURUS LUG MIRING
BLOCK COMPOSITE / KOMBINASI
RIB
Gambar 17. Pola Dasar Tread Pattern
24
4). Macam-macam pola tread : Rib, Lug, Rib – Lug, dan Block.
5). Menurut konstruksinya, ban dikelompokkan sebagai berikut : ban
bias-ply (cross-ply tire), ban radial-ply dan ban belted bias.
Menurut caranya menyimpan udara : ban dengan ban dalam
(Tubed) dan ban tanpa ban dalam (Tubeless).
d. Tugas 1.
1). Jelaskan arti dari kode pelek di bawah ini!
a) 4 ½ - J x 13
b) 5.50 F x 15 SDC
2). Jelaskan arti dari kode ban di bawah ini !
a) 250/70 R 17 - 120 110 O
b) 10-18 - 18PR
3). Jelaskan tentang bagian-bagian konstruksi ban!
e. Tes Formatif 1
1). Jelaskan secara singkat tentang pelek baja press dan campuran
besi tuang!
2). Terangkan tentang pelek Semi Drop Center Rim!
3). Jelaskan tentang jenis ban bias, radial dan tubeless!
25
f. Kunci Jawaban Formatif 1
1). Pelek tipe (pressed-steel disc wheel) ini terdiri dari rim yang
dilas. Disc dibuat dari lembaran baja yang dipres. Konstruksi
seperti ini mudah untuk diproduksi dalam jumlah yang banyak.
Pada umumnya mobil menggunakan tipe ini karena tahan lama
dan kualitasnya merata. Sedangkan pelek (cast light-alloy disc
wheel) ini terbuat dari bahan campuran terutama dari aluminium
atau magnesium. Pada umumnya digunakan untuk mengurangi
berat dan menambah penampilan kendaraan.
2). Semi Drop Center Rim
Pelek Semi Drop Center Rim
Semi Drop Center Rim digunakan terutama untuk ban truk kecil.
Bentuk bagian tengah yang sedikit cekung memudahkan
penggantian ban. Kontak antara ban dan pelek diperbesar
dengan adanya “taper”. Hasilnya lebih baik daripada yang
diberikan oleh jenis Flat Base biasa. Semi Drop Center Rim terdiri
dari 3 bagian untuk memudahkan penggantian ban. Cincin yang
dipasang diantara flens dan pelek induk disebut Cincin Pengunci
(Lock Ring).Tetapi dewasa ini, pelek dengan 2 bagian (tanpa
cincin pengunci) lebih sering digunakan, bagian yang dapat
dilepas disebut Cincin Samping (Side Ring).
26
3). Ban kendaraan dapat dibagi menjadi : ban bias, radial dan
tubeless (tanpa ban dalam).
a). Ban Bias
Ban ini dibuat dengan lapisan serat arah miring. Memiliki
tapak (tread) dengan daya serap benturan yang baik
sehingga memberikan kenyamanan berkendaraan. Adapun
ketahanan terhadap keausan dan guncangan (rol) tidak
sebaik ban radial.
b). Ban Radial
Lapisan serat pada ban ini menyilang lingkar ban, ditambah
lapisan sabuk searah lingkar ban. Tipe ban ini sabuk terbuat
dari serat baja disebut ban radial baja. Tapaknya lebih kaku,
lebih tahan terhadap guncangan dan keausan daripada tipe
bias, namun kurang nyaman pada jalan tidak rata.
c). Ban Tubeless
Tipe ini dirancang untuk menahan udara langsung didalamnya
tanpa menggunakan ban dalam. Dilengkapi dengan lapisan
dalam untuk menghindari kebocoran udara serta berfungsi
untuk menghambat udara bocor dengan cepat saat ban
tertusuk, sehingga tingkat keamanannya cukup baik.
Keuntungan Ban Tubeles yaitu saat ban terkena paku atau
benda tajam lainnya, tread dan liner mencengkeram kuat
pada paku, sehingga dapat mencegah kebocoran udara
sehingga ban tidak cepat kempis. Karena udara dalam ban
berhubungan langsung dengan rim, transfer radiasi panas
akan lebih baik. Dengan dihilangkannya ban dalam, flap dan
side ring ban menjadi lebih ringan.
27
g. Lembar Kerja 1
1). Alat dan Bahan
a). Dongkrak
b). Jack Stand
c). Kunci Roda
d). Roda dengan ring 13”
e). Lap / majun
f). Alat pengukur tekanan udara ban
2). Keselamatan Kerja
a). Gunakanlah peralatan tangan sesuai dengan fungsinya.
b). Ikutilah instruksi dari instruktur/guru atau pun prosedur kerja
yang tertera pada lembar kerja.
c). Jangan bekerja dibawah kendaraan yang tidak di jack stand
dengan kuat.
3). Langkah Kerja
a). Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif
dan seefisien mungkin.
b). Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru.
c). Lakukan pemeriksaan roda dan analisis kontruksi jenis roda!
d). Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktikum secara
ringkas.
e). Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang
telah digunakan seperti keadaan semula.
4). Tugas
a). Buatlah laporan kegiatan praktik saudara secara ringkas dan
jelas!
b). Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah
mempelajari kegiatan 1!
28
2. KEGIATAN BELAJAR 2 : Melepas Roda-roda
a. Tujuan Kegiatan Belajar 2
Peserta diklat memiliki kemampuan :
1). Menjelaskan tentang identifikasi prosedur keamanan untuk
melepas roda.
2). Menjelaskan penggunaan peralatan dan perlengkapan yang
memadai serta pengaturan area kerja yang aman.
3). Menjelaskan perencanaan urutan kerja dan titik-titik
pengujian keselamatan dibutuhkan.
4). Menjelaskan kendaraan/mesin/peralatan diangkat dan
disangga.
5). Menjelaskan cara melepas kedua roda pada permukaan/lantai
yang rata.
6). Menjelaskan prosedur untuk melepas roda-roda.
b. Uraian Materi 2.
1).PROSEDUR MELEPAS RODA
Melepas roda dari dudukan diperlukan apabila terjadi
kebocoran ban, mengganti roda dengan yang baru, dan lainlain.
Adapun momen pengerasannya : 103 N.m (1.050
kgf.cm, 76 ft.lbf)
Sebelum melepas roda, perlu diperhatikan
keselamatan kerja sebagai berikut :
a). Melepas kedua roda pada permukaan/ lantai yang rata.
b). Gunakan alat (kunci roda) sesuai dengan fungsinya.
c). Pada saat mengangkat kendaraan dengan menggunakan
dongkrak, pastikan posisinya kuat.
d). Sebelum didongkrak sebaiknya mur-mur roda dikendorkan
terlebih dahulu.
29
e). Pilihlah penyangga yang kuat menahan beban kendaraan.
f). Perhatikan benar-benar semua spesifikasi momen
pengencangan baut. Gunakan selalu kunci momen.
g). Mungkin SST (Alat Servis Khusus) diperlukan, tergantung
pada sifat perbaikan. Gunakanlah SST apabila
diinstruksikan dan ikuti prosedur sebaik-baiknya.
h). Pada saat mendongkrak dan menopang kendaraan,
hendaknya berhati-hati. Tempatkan dongkrak dan
penopang pada lokasi yang benar.
i). Apabila yang diangkat hanya bagian depan atau belakang
saja, ganjal-lah roda demi keselamatan.
j). Setelah kendaraan didongkrak, jangan lupa menopangnya.
Adalah sangat berbahaya; mengerjakan perbaikan dengan
kendaraan diangkat tanpa penopang, walau hanya untuk
pekerjaan yang kecil dan sebentar sekalipun.
Prosedur Melepas Roda (Roda Depan)
Gambar 18. Menempatkan kendaraan pada permukaan rata
Gambar 19. Melepas Unit Roda
30
a). Posisikan kendaraan pada tempat yang rata. Jangan lupa
berilah pengganjal pada roda belakang.
b). Bukalah tutup roda dan kendorkan sedikit mur-mur pengikat
baut roda (hanya dikendorkan sedikit saja, tidak sampai
lepas) dengan kunci roda berlawanan arah jarum jam.
c). Dongkrak mobil dan naikkan as depan kemudian dijamin
dengan jack stand pada bagian yang aman di dekat roda
yang akan dilepas.
d). Bukalah kap hub dengan menggunakan obeng ( - ).
e). Lepaskan mur-mur pengikat baut roda dengan
menggunakan kunci roda.
f). Lepaskan roda dari baut pengikatnya dengan menarik secara
perlahan.
g). Lakukan pemeriksaan dan diskusikan mengenai kondisi roda,
kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikan
serta kemungkinan akibat jika kerusakan terjadi dan
dibiarkan!
h). Lakukan pemasangan kembali komponen-komponen yang
dibongkar secara efektif dan efisien! (dengan kebalikan dari
langkah pelepasan).
Gambar 20. Melepas mur-mur pengikat baut roda
31
LOKASI PENGANGKATAN DAN PENOPANGAN KENDARAAN
Gambar 21. Lokasi pengangkatan dan penopangan kendaraan
POSISI DONGKRAK _________________________________
Depan ..................... Crossmember depan
Belakang ................. Batang axle belakang
PERHATIKAN : Saat mengangkat bagian depan dan belakang,
pastikan bahwa kendaraan tidak memuat beban
ekstra.
POSISI DONGKRAK PANTHOGRAPH _____________________
POSISI PENOPANGAN
Penopang (Safety stand) dan swing arm type lift .............
DEPAN
32
c. Rangkuman 2.
1). Sebelum melepas roda, perlu diperhatikan keselamatan kerja
sebagai berikut :
a). Melepas kedua roda pada permukaan/ lantai yang rata.
b). Gunakan alat (kunci roda) sesuai dengan fungsinya.
c). Sebelum didongkrak sebaiknya mur-mur roda dikendorkan
terlebih dahulu.
d). Perhatikan benar-benar semua spesifikasi momen
pengencangan baut. Gunakan selalu kunci momen.
e). Pada saat mendongkrak dan menopang kendaraan,
hendaknya berhati-hati. Tempatkan dongkrak dan penopang
pada lokasi yang benar.
f). Apabila yang diangkat hanya bagian depan atau belakang
saja, ganjal-lah roda demi keselamatan.
g). Setelah kendaraan didongkrak, jangan lupa menopangnya.
Adalah sangat berbahaya; mengerjakan perbaikan dengan
kendaraan diangkat tanpa penopang, walau hanya untuk
pekerjaan yang kecil dan sebentar sekalipun.
2). Prosedur Melepas Roda (Roda Depan)
a). Posisikan kendaraan pada tempat yang rata. Jangan lupa
berilah pengganjal pada roda belakang.
b). Bukalah tutup roda dan kendorkan sedikit mur-mur pengikat
baut roda (hanya dikendorkan sedikit saja, tidak sampai
lepas) dengan kunci roda berlawanan arah jarum jam.
c). Dongkrak mobil dan naikkan as depan kemudian ditopang
dengan jack stand pada bagian yang aman di dekat roda
yang akan dilepas.
d). Bukalah kap hub dengan menggunakan obeng ( - ).
33
e). Lepaskan mur-mur pengikat baut roda dengan menggunakan
kunci roda.
f). Lepaskan roda dari baut pengikatnya dengan menarik secara
perlahan.
g). Lakukan pemeriksaan dan diskusikan mengenai kondisi roda,
kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikan
serta kemungkinan akibat jika kerusakan terjadi dan
dibiarkan!
h). Lakukan pemasangan kembali komponen-komponen yang
dibongkar secara efektif dan efisien! (kebalikan dari langkah
pelepasan).
d. Tugas 2.
1). Jelaskan langkah kerja melepas roda kendaraan!
e. Tes Formatif 2.
1). Sebutkan tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang ada di
dalam prosedur melepas roda!
2). Jelaskan langkah-langkah dalam melepas roda!
34
f. Kunci Jawaban Formatif 2
1). Sebelum melepas roda, perlu diperhatikan keselamatan kerja
sebagai berikut :
a). Melepas kedua roda pada permukaan/ lantai yang rata.
b). Gunakan alat (kunci roda) sesuai dengan fungsinya.
c). Sebelum didongkrak sebaiknya mur-mur roda dikendorkan
terlebih dahulu.
d). Perhatikan benar-benar semua spesifikasi momen
pengencangan baut. Gunakan selalu kunci momen.
e). Pada saat mendongkrak dan menopang kendaraan,
hendaknya berhati-hati. Tempatkan dongkrak dan penopang
pada lokasi yang benar.
f). Apabila yang diangkat hanya bagian depan atau belakang
saja, ganjal-lah roda demi keselamatan.
g). Setelah kendaraan didongkrak, jangan lupa menopangnya.
Adalah sangat berbahaya; mengerjakan perbaikan dengan
kendaraan diangkat tanpa penopang, walau hanya untuk
pekerjaan yang kecil dan sebentar sekalipun.
2). Urutan langkah melepas roda yaitu antara lain :
a). Posisikan kendaraan pada tempat yang rata. Jangan lupa
berilah pengganjal pada roda belakang.
b). Bukalah tutup roda dan kendorkan sedikit mur-mur pengikat
baut roda (hanya dikendorkan sedikit saja, tidak sampai
lepas) dengan kunci roda berlawanan arah jarum jam.
c). Dongkrak mobil dan naikkan as depan kemudian dijamin
dengan jack stand pada bagian yang aman di dekat roda
yang akan dilepas.
d). Bukalah kap hub dengan menggunakan obeng ( - ).
35
e). Lepaskan mur-mur pengikat baut roda dengan menggunakan
kunci roda.
f). Lepaskan roda dari baut pengikatnya dengan menarik secara
perlahan.
g). Lakukan pemeriksaan dan diskusikan mengenai kondisi roda,
kemungkinan penyebab kerusakan, kemungkinan perbaikan
serta kemungkinan akibat jika kerusakan terjadi dan
dibiarkan!
h). Lakukan pemasangan kembali komponen-komponen yang
dibongkar secara efektif dan efisien! (dengan kebalikan dari
langkah pelepasan).
36
g. Lembar Kerja 2
1). Alat dan Bahan
a). Dongkrak
b). Jack Stand
c). Kunci Roda
d). Lap / majun
e). Alat pengukur tekanan udara ban
f). Roda dengan rim 13 ”
2). Keselamatan Kerja
a). Gunakanlah perlatan tangan sesuai dengan fungsinya.
b). Ikutilah instruksi dari guru atau pun prosedur kerja yang
tertera pada lembar kerja.
c). Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan
pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.
d). Pastikan kendaraan dalam keadaan kuat ditahan jack stand.
3). Langkah Kerja
a). Persiapkan alat dan bahan praktikum secara cermat, efektif
dan seefisien mungkin.
b). Perhatikan instruksi praktikum yang disampaikan oleh guru.
c). Lakukan pelepasan roda-roda dengan langkah yang efektif!
d). Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktikum secara
ringkas.
e). Setelah selesai, bereskan kembali peralatan dan bahan yang
telah digunakan seperti keadaan semula.
4). Tugas
a). Buatlah laporan praktik anda secara ringkas dan jelas!
b). Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah
mempelajari kegiatan belajar 2!
37
New Tread Worn Tread
TREAD WEAR INCICATOR
Location marks
3.KEGIATAN BELAJAR 3 : Pemeriksaan Roda
a. Tujuan Kegiatan Belajar 3
Peserta diklat memiliki kemampuan :
1). Menjelaskan pemeriksaan roda dan pemasangannya dari
kerusakan dan keausan, kelayakan, material asing dan
keretakan.
2). Menjelaskan pemeriksaan spesifikasi dan membandingkan
kondisi keadaan ban.
3). Menjelaskan temuan yang didapat dan merekomendasikan
secara lengkap.
b. Uraian Materi 3
BATAS PEMAKAIAN BAN LUAR
Indikator Keausan Ban (T.W.I = Tread Wear Indicator).
Indikator keausan ban adalah tonjolan di dalam tread yang
jumlahnya empat sampai enam di sekeliling ban. Tingginya 1,6
sampai 1,8 mm dari dasar tread. Apabila keausan tread mencapai
indikator, hal ini menunjukkan batas keausan ban dan saatnya ban
harus diganti. Berikut ini merupakan alasan mengapa ban yang
keausannya sudah mencapai TWI harus diganti.
Gambar 22. Indikator Keausan Ban (T.W.I)
38
Hydroplanning
Genangan air di jalan yang menjadi penyekat antara ban dengan
permukaan jalan, sehingga mengurangi daya cengkeram ban (road
holding).
Faktor yang mempengaruhi hydroplanning :
Aman Berbahaya
1). Kecepatan : Rendah Tinggi
2). Tekanan Angin : Tinggi Rendah
3). Alur Telapak Ban : Ada alur Gundul
Pengendaraan di Jalan Basah
Ban yang baik harus dapat mengalirkan air minimal sebanyak 4 s/d
5 liter per detik, ketika kendaraan berkecepatan 60 km/jam. Bila
ketentuan tersebut tidak terpenuhi, maka kemungkinankemungkinan
yang dapat terjadi ialah :
1). Terjadi peningkatan permukaan air di depan ban,
2). Bila kecepatan kendaraan meningkat, ban/kendaraan akan
berjalan di atas air (terjadi Aquaplane / Hydroplane),
3). Daya cengkeram kurang, kendaraan tidak dapat dikendalikan
dengan baik (ada resiko slip), mengurangi kemampuan
pengereman.
Pengendalian di Jalan Basah
Alur telapak ban dirancang sedemikian rupa untuk dapat
membuang / mengalirkan air dengan baik, agar terjadi kontak area
antara telapak ban dengan permukaan jalan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuangan air :
1). Kedalaman alur telapak
2). Kelebaran alur telapak
3). Jumlah alur telapak
4). Jenis pola telapak
5). Kecepatan kendaraan
39
Pemakaian pelek yang tidak sempurna akan mengakibatkan :
1). Posisi kedudukan bead kurang sempurna (tidak melekat dengan
baik).
2). Ketika menikung, ban mungkin lepas dari pelek.
3). Tidak dapat menjaga tekanan angin ban tubeless dengan
sempurna.
4). Ban dalam mungkin koyak karena terjepit bead pada pelek
yang lebih sempit.
5). Pada pelek yang lebih lebar, dinding samping ban terlalu tegang
(tidak lentur), sehingga pengendaraan menjadi keras.
PEMAKAIAN PELEK YANG TIDAK SEMPURNA
Pelek Standar Pelek Sempit Pelek Lebar
Gambar 23. Posisi Ban Terhadap Pelek
PENGGUNAAN BAN DAN PELEK YANG SESUAI
1). Ban luar radial harus memakai ban dalam radial.
2). Gunakan ban dengan spesifikasi teknis yang seragam.
3). Gunakan pelek ukuran standar, sesuai dengan ukuran ban.
4). Gunakan pelek Hump Rim untuk ban tubeless.
5). Mengemudi dengan cara yang wajar.
40
PEMERIKSAAN BAN LUAR
1). Kesesuaian ban terhadap pelek yang digunakan. Ukuran
ban harus sesuai dengan pelek yang digunakan. Pemeriksaan
dapat dilakukan dengan melihat ukuran ban yang tertera pada
sidewall dan dibandingkan dengan ukuran pelek yang
digunakan. Ukuran pelek biasanya tertera pada pelek tersebut.
Pemakaian pelek yang tidak sempurna akan mengakibatkan
akibat seperti telah diuraikan di atas. Penting juga memeriksa
run out pelek roda, yaitu seperti gambar dibawah ini.
Gambar 24. Memeriksa Run Out Pelek
2). Pemeriksaan keausan ban. Keausan ban dapat dilihat
dengan melihat indikator keausan ban pada tread. Apabila
keausan tread mencapai indikator, hal ini menunjukkan batas
keausan ban dan saatnya ban harus diganti.
Gambar 25. Pemeriksaan Keausan Ban
New Tread Worn Tread
TREAD WEAR INCICATOR
Location marks
41
3). Tekanan angin. Tekanan angin ban yang tidak sesuai akan
menyebabkan kerusakan pada ban dan memperpendek umur
ban, diantaranya : keausan tread tidak rata, lepasnya ikatan
ply-cord dari karet ban, dan keretakan pada daerah sidewall.
Oleh karena itu penting juga dilakukan memeriksa keolengan
roda, seperti gambar dibawah ini. (keolengan roda : 1,0 mm)
Gambar 26. Pemeriksaan run-out ban
4). Kerusakan luar. Kerusakan luar dari ban merupakan
kerusakan yang dapat diamati secara visual.
Gambar 27. Pemeriksaan Kerusakan Luar Ban
a).Rib Tear
Ada bagian alur Rib yang robek dan terlepas dari telapak
ban. Tear Rib disebabkan posisi telapak ban tidak menapak
ke permukaan jalan dengan sempurna, sehingga konsentrasi
berat hanya bertumpu pada sebagian kecil telapak. Karena
beban tidak sesuai dengan kekuatan bagian ban yang
memikul, maka terjadi kerusakan.
Gantilah ban Anda
Bila tanda slip sudah terlihat
42
b).Separation
Pada bagian luar ban terjadi benjolan (bagian yang
menggelembung) terutama pada shoulder, atau pada
sidewall. Ini disebabkan terlepasnya ikatan ply-cord dari
karet ban yang disebabkan beban berat, tekanan angin
kurang dan kecepatan tinggi.
c). C.B.U
Terputusnya ply-cord pada sidewall, kerusakan dapat dilihat
dari sisi dalam ban. Penyebab kerusakan ini adalah tekanan
ban sangat kurang, sehingga terjadi defleksi (pergerakanpergerakan)
yang besar pada sidewall. Gaya regang tarik
yang berulang-ulang menyebabkan ply-cord putus.
Macam dan Golongan Kerusakan Ban Luar
Tabel 2. macam dan Golongan Kerusakan Ban Luar
Macam dan Kondisi kerusakan Penggolongan
Ply-cord putus ( C.B.U ) Berbahaya
Mencapai benang /
kanvas
Retak alur Berbahaya
Belum mencapai
benang
Hati-hati
Mencapai benang /
kanvas
Rusak luar telapak Berbahaya
Belum mencapai
benang
Hati-hati
Mencapai benang /
kanvas
Retak dinding Berbahaya
samping
Belum mencapai
benang
Hati-hati
Kerusakan bead (Bead broken) Berbahaya
Lapisan ban terpisah (separation) Berbahaya
Kebocoran/perbaikan yang tidak sempurna
pada ban tubeless
Berbahaya
43
5). Keausan ban. Digolongkan menjadi dua, yaitu keausan karena
umur pemakaian dan keausan yang tidak wajar. Tread yang
aus secara merata merupakan keausan yang wajar yang terjadi
karena umur pemakaian ban. Apabila tanda indikator keausan
pada tread sudah terlihat, ban perlu diganti baru.
Berikut ini merupakan keausan yang tidak wajar yang terjadi
pada ban.
a).Ban Aus Pada Shoulder Atau Di Tengah
Penyebab utama keausan ban yang terpusat pada shoulder
atau di tengah adalah kesalahan tekanan ban. Kalau
tekanan ban terlalu rendah, maka bagian tengah akan
cekung, dan beban akan tertumpu pada shoulder sehingga
akan aus lebih cepat daripada bagian tengah. Beban yang
berlebihan juga akan berakibat sama.
Kalau tekanan ban terlalu tinggi, bagian tengah ban menjadi
cembung, dan sebagian besar beban akan tertumpu di
tengah sehingga keausannya lebih cepat daripada bagian
shoulder.
Gambar 28. Aus Pada Tengah Tread dan Pada Shoulder
b).Keausan Ban Sebelah Dalam Atau Sebelah Luar
(1) Keausan karena menikung, seperti terlihat di bawah
adalah yang disebabkan karena berbelok dengan
kecepatan yang berlebihan. Ban tergelincir dan
mengakibatkan jenis keausan diagonal. Ini adalah
masalah yang paling sering terjadi. Satu-satunya cara
Keausan
Keausan Keausan
44
pencegahannya adalah pengemudi harus memperlambat
kendaraan pada saat membelok.
(2) Deformasi atau kelonggaran yang berlebihan pada
bagian suspensi akan mempengaruhi front wheel
alignment, dan mengakibatkan keausan ban tidak
normal.
(3) Kalau sebelah tread keausannya lebih cepat dari yang
lain, penyebab utamanya adalah mungkin camber tidak
tepat. Karena besarnya bidang singgung ban dengan
jalan tergantung pada besarnya beban, ban dengan
camber positip, diameter sebelah luarnya lebih kecil
daripada sebelah dalam. Akibatnya, tread bagian luar
akan slip pada jalan untuk mengejar jarak tempuh yang
sama untuk tread bagian dalam. Kejadian slip ini
mengakibatkan keausan yang berlebihan di sebelah luar
tread. Untuk ban dengan camber negatip, keausan tread
di sebelah dalam akan lebih cepat.
Gambar 29. Aus Sebelah Dalam dan Luar
c). Keausan Akibat Toe-In Atau Toe-Out (Aus Berbulu)
Penyebab utama aus berbulu pada tread ban adalah
penyetelan toe-in yang tidak tepat. Toe-in yang terlalu besar
akan memaksa roda slip keluar dan menggesek bidang
singgung tread bagian dalam pada permukaan jalan, ini
menyebabkan terjadinya keausan toe-in. permukaan tread
Keausan
45
akan membentuk susunan seperti bulu seperti terlihat pada
gambar di bawah ini. Ini dapat diketahui dengan jalan
mengusapkan tangan pada tread dari bagian dalam ke
bagian luar ban.
Gambar 30. Keausan Ban Akibat Toe – in
Dalam hal lain, toe-out yang berlebihan akan menarik ban
ke dalam dan menggesek bidang singgung tread bagian
luar pada permukaan jalan. Keausan toe-out yang terjadi
bentuknya seperti gambar di bawah.
Gambar 31. Keausan Ban Akibat Toe – out
d).Keausan Toe-and-Heel
Keausan toe-and-heel adalah aus sebagian yang sering
terjadi pada ban dengan pola tread block dan lug. Ban
dengan tread berpola rib keausannya membentuk pola
seperti gelombang.
PENTING !
Kalau kedua ban menunjukkan keausan seperti ini, berarti
penyetelan front end tidak tepat. Kalau hanya sebelah ban yang
mengalami keausan seperti itu, kemungkinan penyebabnya adalah
steering knuckle arm bengkok. Ini mengakibatkan toe-in atau toeout
sebelah ban lebih besar dari lainnya.
Keausan Keausan
Keausan Keausan
46
Karena ban yang bukan penggerak roda tidak memperoleh
gaya penggerak, tetapi hanya gaya pengereman,
keausannya cenderung membentuk pola toe-and-heel.
Keausan seperti ini juga akan terjadi jika rem secara
berulang-ulang diinjak dan dilepaskan, yang mengakibatkan
ban tergelincir pada jarak yang pendek berkali-kali.
Gambar 32. Keausan Toe – and – Heel
e).Keausan Spot/Spot Wear (Cupping)
Keausan spot membentuk lekukan seperti mangkok pada
beberapa bagian tread roda dan terjadi jika kendaraan
berjalan pada kecepatan tinggi. Keausan semacam ini
terjadi karena tread roda mengalami slip pada interval yang
teratur, seperti diterangkan di bawah. Kalau bearing roda,
ball joint, tie rod end, dan lain-lain mengalami keausan yang
berlebihan, atau kalau spindle bengkok, ban akan
bergoyang pada titik tertentu di saat berputar dengan
kecepatan tinggi, sehingga mengakibatkan gesekan yang
kuat dan menyebabkan terjadinya keausan spot. Teromol
rem yang telah berubah bentuk atau aus tidak merata
menyebabkan terjadinya pengereman pada interval yang
teratur, dan ini mengakibatkan terjadinya keausan spot
dengan ukuran yang cukup besar melingkar pada ban.
47
Gambar 33. Keausan Spot
BATAS PEMAKAIAN BAN DALAM
1).Ban dalam yang keliling penampang luarnya telah
mengembang sampai 92% atau lebih, dibandingkan dengan
keliling penampang ban luar pada bagian dalam.
2). Ban dalam yang rusak / patah batang pentilnya.
3). Sudah melipat, aus, atau ada bagian yang lunak karetnya.
PEMILIHAN BAN DALAM
1).Ukuran ban dalam harus sesuai dengan ukuran ban luarnya.
2).Ban dalam baru dipasangkan dengan ban luar baru.
3).Gunakan merek ban dalam yang sama dengan merek ban
luarnya.
4).Pilih ban dalam dengan pentil yang sesuai dengan klasifikasi
ban luar dan jenis peleknya.
5).Pakailah isi pentil yang sesuai dengan jenis pentilnya dan
selalu gunakan penutup pentil.
PENTING !
? Kanvas yang dipasang pada tread ban untuk menambal
kebocoran atau tonjolan akan menyebabkan terjadinya
keausan spot.
? Start, pengereman dan belokan tajam yang mendadak juga
menyebabkan keausan spot.
? Roda yang tidak balance berlebihan juga menyebabkan
terjadinya keausan spot.
Keausan
48
PEMERIKSAAN BAN DALAM
Pemeriksaan ban dalam meliputi :
1). Kesesuaian dengan ban luar yang dipakai. Ban dalam dan
luar harus menggunakan ukuran dan jenis yang sama. Ban
luar radial harus menggunakan ban dalam radial juga.
2). Keliling penampang luar. Ban dalam yang keliling
penampang luarnya telah mengembang sampai 92% atau
lebih, dibandingkan dengan keliling penampang ban luar
pada bagian dalam harus diganti baru.
3). Kondisi pentil. Pentil yang sudah tidak bekerja dengan baik
(macet, karatan, bocor) tidak layak pakai dan harus diganti
baru. Batang pentil yang rusak (karatan/bocor)
menunjukkan ban dalam harus diganti. Pastikan tutup pentil
ada dan terpasang.
4). Karet ban. Ban dalam yang sudah aus, melipat, sobek
ataupun ada bagian yang lunak karetnya harus diganti baru.
Ban dalam dengan tambalan yang sudah terlalu banyak juga
harus diganti baru.
Gambar 34. Pemeriksaan Ban Dalam
49
PROSEDUR PEMERIKSAAN BAN DALAM DAN BAN LUAR
1). Memeriksa Kerusakan Ban Luar
Prosedur Pemeriksaan Kerusakan Ban
a). Bersihkan seluruh permukaan ban dari kotoran dan
benda-benda asing yang menempel, bila perlu cuci
dengan air bersih.
b). Secara visual, periksa kesesuaian ukuran ban dengan
pelek.
c). Secara visual, periksa ban jika terdapat cacat atau rusak
pada sisi luar dan sisi dalam dari ban. Kerusakan yang
sering terjadi pada ban diantaranya : ply-cord putus
(C.B.U), retak alur, rusak luar telapak, retak dinding
samping, kerusakan bead, lapisan ban terpisah
(separation), dan kebocoran/perbaikan yang tidak
sempurna pada ban tubeless.
d). Secara visual, periksa perubahan bentuk/keausan pada
pola ban. Keausan yang sering terjadi pada ban adalah
keausan normal dan keausan yang tidak normal, yakni :
aus pada shoulder, aus pada bagian tengah tread, aus
sebelah luar/dalam, aus menyamping/berbulu, aus tidak
rata (spot wear), dan toe-and-heel.
2). Memeriksa Kerusakan Ban Dalam
Prosedur Pemeriksaan Ban dalam
a). Bersihkan seluruh permukaan ban dalam dari kotoran
dan benda-benda asing yang menempel.
b). Periksa kesesuaian dengan ban luar yang dipakai. Ban
dalam dan luar harus menggunakan ukuran dan jenis
yang sama. Ban luar radial harus menggunakan ban
dalam radial juga.
50
c). Periksa keliling penampang luar. Ban dalam yang keliling
penampang luarnya telah mengembang sampai 92%
atau lebih, dibandingkan dengan keliling penampang ban
luar pada bagian dalam harus diganti baru.
d). Periksa kondisi pentil. Pentil yang sudah tidak bekerja
dengan baik (macet, karatan, bocor) tidak layak pakai
dan harus diganti baru. Batang pentil yang rusak
(karatan/bocor) menunjukkan ban dalam harus diganti.
Pastikan tutup pentil ada dan terpasang.
e). Periksa karet ban. Ban dalam yang sudah aus, melipat,
sobek ataupun ada bagian yang lunak karetnya harus
diganti baru. Ban dalam dengan tambalan yang sudah
terlalu banyak juga harus diganti baru.
3). Memeriksa dan Mengatur Tekanan Udara Ban
a). Item yang perlu disiapkan:
(1) Alat ukur ban
(2) Chock udara untuk ban
(3) Udara bertekanan
b). Prosedur
(1) Pastikan bahwa kendaraan berada pada tempat
yang rata dan roda diganjal (bila ban masih
terpasang).
(2) Periksa tekanan udara ban.
Senantiasa pasang tutup katup
Gambar 35. Pemeriksaan Tekanan Udara ban
(3) Pompa ban
(4) Atur tekanan udara sesuai spesifikasi.
51
New Tread Worn Tread
TREAD WEAR INCICATOR
Location marks
c). Tekanan Udara Standar (dengan/tanpa barang)
Tabel 3. Tekanan Udara Standar
Ukuran ban Tekanan udara (kg/cm2)
(depan & belakang)
10.0-20-14PR 6.75
10.0R20-14PR 7.25
11R22.5-14PR 7.00
11/70R22.5-14PR 8.00
11.1-20-16PR 7.00
Gambar 36. Pengaturan Tekanan Udara Ban
c. Rangkuman 3.
BATAS PEMAKAIAN BAN LUAR
Indikator Keausan Ban (T.W.I = Tread Wear Indicator). Indikator
keausan ban adalah tonjolan di dalam tread yang jumlahnya empat
sampai enam di sekeliling ban. Tingginya 1,6 sampai 1,8 mm dari
dasar tread. Apabila keausan tread mencapai indikator, hal ini
menunjukkan batas keausan ban dan saatnya ban harus diganti.
Gambar Indikator Keausan Ban (T.W.I)
SALAH
BETUL SALAH
Tekanan Angin
Kurang
Tekanan Angin
standar
Tekanan Angin
lebih
52
PEMERIKSAAN BAN LUAR
1). Kesesuaian ban terhadap pelek yang digunakan. Ukuran ban
harus sesuai dengan pelek yang digunakan
2). Pemeriksaan keausan ban. Keausan ban dapat dilihat dengan
melihat indikator keausan ban pada tread. Apabila keausan tread
mencapai indikator, hal ini menunjukkan batas keausan ban dan
saatnya ban harus diganti.
3). Tekanan angin. Tekanan angin ban yang tidak sesuai akan
menyebabkan kerusakan dan memperpendek umur ban.
4). Macam-macam kerusakan pada ban :
a). Rib Tear, yaitu adanya bagian alur Rib yang robek dan
terlepas dari telapak ban.
b). Separation, pada bagian luar ban terjadi benjolan (bagian
yang menggelembung) yang disebabkan terlepasnya ikatan
ply-cord dari karet ban.
c). C.B.U, yaitu terputusnya ply-cord pada sidewall.
Macam dan Golongan Kerusakan Ban
Tabel 12. macam dan Golongan Kerusakan Ban
Macam dan Kondisi kerusakan Penggolongan
Ply-cord putus ( C.B.U ) Berbahaya
Mencapai benang /
kanvas
Retak alur Berbahaya
Belum mencapai
benang
Hati-hati
Mencapai benang /
kanvas
Rusak luar telapak Berbahaya
Belum mencapai
benang
Hati-hati
Mencapai benang /
kanvas
Retak dinding samping Berbahaya
Belum mencapai
benang
Hati-hati
Kerusakan bead (Bead broken) Berbahaya
Lapisan ban terpisah (separation) Berbahaya
Kebocoran/perbaikan yang tidak sempurna pada
ban tubeless
Berbahaya
53
5). Keausan ban. Digolongkan menjadi dua, yaitu keausan karena
umur pemakaian dan keausan yang tidak wajar, diantaranya :
a). Ban Aus Pada Shoulder Atau Di Tengah, disebabkan terutama
karena tekanan ban.
b). Keausan Ban Sebelah Dalam Atau Sebelah Luar, dapat
disebabkan oleh : Keausan karena menikung, berbelok
dengan kecepatan yang berlebihan, kelonggaran yang
berlebihan pada bagian suspensi mengakibatkan keausan ban
tidak normal, dan sudut camber yang tidak tepat.
c). Keausan Akibat Toe-In Atau Toe-Out (Aus Berbulu), penyebab
utamanya adalah penyetelan toe-in yang tidak tepat.
d). Keausan Toe-and-Heel, aus sebagian yang sering terjadi pada
ban dengan pola tread block dan lug.
e). Keausan Spot/Spot Wear (Cupping), membentuk lekukan
seperti mangkok pada beberapa bagian tread roda.
PEMERIKSAAN BAN DALAM
Pemeriksaan ban dalam meliputi :
1). Kesesuaian dengan ban luar yang dipakai. Ban dalam dan luar
harus menggunakan ukuran dan jenis yang sama.
2). Keliling penampang luar. Ban dalam yang keliling penampang
luarnya telah mengembang sampai 92% atau lebih, dibandingkan
dengan keliling penampang ban luar pada bagian dalam harus
diganti baru.
3). Kondisi pentil. Pentil yang sudah tidak bekerja dengan baik
(macet, karatan, bocor) tidak layak pakai dan harus diganti baru.
Batang pentil yang rusak (karatan/bocor) menunjukkan ban
dalam harus diganti.
54
4). Karet ban. Ban dalam yang sudah aus, melipat, sobek ataupun
ada bagian yang lunak karetnya harus diganti baru. Ban dalam
dengan tambalan yang sudah terlalu banyak juga harus diganti
baru.
Hal-hal yang penting harus diperhatikan saat perbaikan
1). Selalu periksa tekanan ban untuk menghindari keausan yang
tidak rata. Lihat buku petunjuk bengkel untuk tekanan ban.
2). Pastikan ban yang double (belakang) bertekanan yang sama.
3). Pastikan tidak ada benda asing pada permukaan kontak antara
roda dan tromol rem pada saat pemasangan agar tidak terjadi
perubahan bentuk (deformasi) dan kencangkan baut roda secara
merata. Deformasi tromol rem mengakibatkan getaran saat
pengereman.
4). Ukur play roda seperti pada gambar untuk mengetahui adanya
deformasi serta kondisi pemasangan.
d. Tugas 3.
1). Ban 10.00-20-14PR diganti dengan 11.00-20-14PR pada roda
yang sama. Apa akibatnya pada performa kendaraan
(kecepatan, kemampuan menanjak, pembacaan pada
speedometer, dll)!
Vertical
play
Side play
Dial gauge
Gambar 37. Mengukur play roda
55
2). Jelaskan kecenderungan keausan ban bila :
a). Tekanan udara terlalu tinggi
b). Tekanan udara ban terlalu rendah
c). Toe-in terlalu besar
d). Toe-out terlalu besar
e). Camber terlalu besar
f). Camber terlalu kecil
e. Tes Formatif 3.
1). Jelaskan jenis-jenis kerusakan pada ban biasa dan ban tubeless,
dan jelaskan dengan gambar (sketsa) !
2). Jelaskan prosedur pemeriksaan kerusakan ban luar !
3). Jelaskan prosedur pemeriksaan kerusakan ban dalam !
56
f.Kunci Jawaban Formatif 3.
1). Jenis-jenis kerusakan pada ban biasa dan ban tubeless.
a). Rib Tear. Ada bagian alur Rib yang robek dan terlepas dari
telapak ban yang disebabkan posisi telapak ban tidak menapak
ke permukaan jalan dengan sempurna, sehingga konsentrasi
berat hanya bertumpu pada sebagian kecil telapak. Karena
beban tidak sesuai dengan kekuatan bagian ban yang memikul,
maka terjadi kerusakan.
b). Separation. Pada bagian luar ban terjadi benjolan (bagian
yang menggelembung) terutama pada shoulder, atau pada
sidewall. Ini disebabkan terlepasnya ikatan ply-cord dari karet
ban yang disebabkan beban berat, tekanan angin kurang dan
kecepatan tinggi.
c). C.B.U. Terputusnya ply-cord pada sidewall, kerusakan dapat
dilihat dari sisi dalam ban. Penyebab kerusakan ini adalah
tekanan ban sangat kurang, sehingga terjadi defleksi
(pergerakan-pergerakan) yang besar pada sidewall. Gaya
regang tarik yang berulang-ulang menyebabkan ply-cord putus.
d). Keausan ban. Digolongkan menjadi dua, yaitu keausan karena
umur pemakaian dan keausan yang tidak wajar. Tread yang
aus secara merata merupakan keausan yang wajar yang terjadi
karena umur pemakaian ban. Apabila tanda indikator keausan
pada tread sudah terlihat, ban perlu diganti baru.
Keausan yang tidak wajar yang terjadi pada ban:
(1) Ban aus pada shoulder atau di tengah, disebabkan oleh
kesalahan tekanan ban. Tekanan ban terlalu rendah/beban
yang berlebihan menyebabkan shoulder aus lebih cepat
daripada bagian tengah. Tekanan ban yang terlalu tinggi
57
akan mengebabkan bagian tengah tread aus lebih cepat
daripada bagian shoulder.
Gambar Aus Pada Tengah Tread dan Pada Shoulder
(2) Keausan Ban Sebelah Dalam Atau Sebelah Luar. Kalau
sebelah tread keausannya lebih cepat dari yang lain,
penyebab utamanya adalah mungkin camber tidak tepat.
Ban dengan camber positip, mengakibatkan keausan yang
berlebihan di sebelah luar tread. Untuk ban dengan
camber negatip, keausan tread di sebelah dalam akan
lebih cepat.
Gambar Aus Sebelah Dalam dan Luar
(3) Keausan Akibat Toe-In Atau Toe-Out (Aus Berbulu).
Penyebab utama aus berbulu pada tread ban adalah
penyetelan toe-in yang tidak tepat. Toe-in yang terlalu
besar akan memaksa roda slip keluar dan menggesek
bidang singgung tread bagian dalam pada permukaan
jalan, ini menyebabkan terjadinya keausan toe-in.
Gambar Keausan Ban Akibat Toe – in
Toe-out yang berlebihan akan menarik ban ke dalam dan
menggesek bidang singgung tread bagian luar pada
Keausan Keausan
Keausan
Keausan
Keausan Keausan
58
permukaan jalan. Keausan toe-out yang terjadi bentuknya
seperti gambar di bawah.
Gambar Keausan Ban Akibat Toe - out
(4) Keausan Toe-and-Heel. Keausan toe-and-heel adalah aus
sebagian yang sering terjadi pada ban dengan pola tread
block dan lug. Keausan seperti ini juga akan terjadi jika
rem secara berulang-ulang diinjak dan dilepaskan, yang
mengakibatkan ban tergelincir pada jarak yang pendek
berkali-kali.
Gambar Keausan Toe – and – Heel
(5) Keausan Spot/Spot Wear (Cupping). Keausan spot
membentuk lekukan seperti mangkok pada beberapa
bagian tread roda dan terjadi jika kendaraan berjalan pada
kecepatan tinggi. Keausan semacam ini terjadi karena
tread roda mengalami slip pada interval yang teratur,
seperti : bearing roda, ball joint, tie rod end mengalami
keausan yang berlebihan, teromol rem yang telah berubah
bentuk atau aus tidak merata menyebabkan terjadinya
keausan spot dengan ukuran yang cukup besar melingkar
pada ban.
Keausan Keausan
59
Gambar Keausan Spot
2). Prosedur pemeriksaan ban luar.
a). Bersihkan seluruh permukaan ban dari kotoran dan bendabenda
asing yang menempel, bila perlu cuci dengan air bersih.
b). Secara visual, periksa kesesuaian ukuran ban dengan pelek.
c). Secara visual, periksa ban jika terdapat cacat atau rusak pada
sisi luar dan sisi dalam dari ban. Kerusakan yang sering terjadi
pada ban diantaranya : ply-cord putus (C.B.U), retak alur, rusak
luar telapak, retak dinding samping, kerusakan bead, lapisan
ban terpisah (separation), dan kebocoran/perbaikan yang tidak
sempurna pada ban tubeless.
d). Secara visual, periksa perubahan bentuk/keausan pada pola
ban. Keausan yang sering terjadi pada ban adalah keausan
normal (karena umur pemakaian), dan keausan yang tidak
normal, yakni : aus pada shoulder, aus pada bagian tengah
tread, aus sebelah luar/dalam, aus berbulu, aus tidak rata (spot
wear), dan toe-and-heel.
3). Prosedur pemeriksaan ban dalam.
a). Bersihkan seluruh permukaan ban dalam dari kotoran dan
benda-benda asing yang menempel, bila perlu cuci dengan air
bersih.
b). Periksa kesesuaian dengan ban luar yang dipakai. Ban dalam
dan luar harus menggunakan ukuran dan jenis yang sama. Ban
luar radial harus menggunakan ban dalam radial
c). Periksa keliling penampang luar. Ban dalam yang keliling
penampang luarnya telah mengembang sampai 92% atau lebih,
Keausan
60
dibandingkan dengan keliling penampang ban luar pada bagian
dalam harus diganti baru.
d). Periksa kondisi pentil. Pentil yang sudah tidak bekerja dengan
baik (macet, karatan, bocor) tidak layak pakai dan harus diganti
baru. Batang pentil yang rusak (karatan/bocor) menunjukkan
ban dalam harus diganti. Pastikan tutup pentil ada dan
terpasang.
e). Periksa karet ban. Ban dalam yang sudah aus, melipat, sobek
ataupun ada bagian yang lunak karetnya harus diganti baru.
Ban dalam dengan tambalan yang sudah terlalu banyak juga
harus diganti baru.
61
g. Lembar Kerja 3
1). Alat dan Bahan
a). Roda dengan rim 13 “
b). Ban yang sudah dibongkar
c). Alat ukur tekanan ban
d). Chock udara untuk ban
e). Lap/majun
2). Keselamatan Kerja
a). Gunakanlah peralatan yang sesuai dengan fungsinya.
b). Ikutilah instruksi dari instruktur ataupun prosedur kerja yang
tertera pada lembar kerja.
c). Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan
pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.
d). Gunakan tekanan kompresor sesuai tekanan yang diizinkan.
3). Langkah Kerja
a). Persiapkan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif dan
seefisien mungkin.
b). Perhatikan penjelasan prosedur penggunaan alat, baca
lembar kerja dengan teliti.
c). Lakukan pemeriksaan roda dan tanda pemasangan !
d). Mintalah penjelasan pada instruktur, hal yang belum jelas.
e). Buatlah catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.
f). Setelah selesai, bersihkan dan kembalikan semua peralatan
dan bahan yang telah digunakan kepada petugas.
4). Tugas
a). Buatlah laporan kegiatan praktik saudara secara ringkas dan
jelas !
b). Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah
mempelajari kegiatan belajar 3 !
62
4. KEGIATAN BELAJAR 4 : Memasang Roda
a. Tujuan Kegiatan Belajar 4
Peserta diklat memiliki kemampuan :
1). Menjelaskan urutan dan momen pengencangan roda sesuai
dengan spesifikasi secara lengkap.
2). Melaksanakan pekerjaan sesuai spesifikasi.
3). Menjelaskan penggunaan peralatan dan perlengkapan
keamanan tempat.
4). Menjelaskan pemasangan roda-roda dengan aman dan
memastikan urutan pengencangan dan momen pengencangan
sesuai spesifikasi.
5). Menjelaskan pemeriksaan kerja roda untuk pemasangan roda
yang benar dan kemungkinan keausan.
6). Menjelaskan seluruh kegiatan dilaksanakan berdasarkan SOP
(Standard Operatio Prosedures), undang-undang K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja), peraturan perundangundangan
dan prosedur/kebijakan perusahaan.
b. Uraian Materi 4.
1). Prosedur Pemasangan Ban
a). Pastikan bahwa kendaraan berada pada tempat yang rata
dan roda diganjal.
Gambar 38. Kondisi rata dan terganjal
63
Gambar 39. Menambah Tekanan Ban
b).Pompa ban dengan kompresor dengan tekanan yang sesuai
dengan peruntukan ban. Peralatan yang perlu disiapkan
antara lain: Tire gauge (alat ukur tekanan ban), Chuck
udara untuk ban, udara bertekanan, kunci roda dan jack
stand.
Tabel 5. Standar Tekanan Ban
Ukuran ban Tekanan udara (kg/cm2) (depan
& belakang)
10.0-20-14PR 6.75
10.0R20-14PR 7.25
11R22.5-14PR 7.00
11/70R22.5-14PR 8.00
11.1-20-16PR 7.00
c). Tempatkan roda pada lubang baut-baut roda sehingga
posisinya tepat dan benar sesuai dengan tanda
pemasangannya.
Gambar 40. Tanda Pemasangan
64
Gambar 43. Pengencangan mur roda
d). Dongkraklah kendaraan dan kemudian ambil stand dari
bawah kendaraan.
e). Keraskan mur roda dengan urutan seperti pada gambar
disamping ini, Torsi : 600 kgf-cm (59 N.m; 43 lbf.ft).
? Kencangkan setiap mur roda dengan kunci mur roda dan
periksa jika ada yang kendor.
? Jika ada yang longgar, kencangkan sampai putaran yang
ditentukan.
? Putaran untuk mengencangkan: 4.000 - 4.800 kg.cm
Gambar 41. Mendongkrak kendaraan
4,000 - 4,800 kg.cm
1
2
3 4
5
Mur Hub
1
4
3
2
FOUR WHEEL NUTS
1
4 3
2 5
FIVE WHEEL NUTS
Gambar 42. Urutan Pemasangan Baut
65
2). Metode pengencangan baut
Metode pengencangan baut ada dua, yaitu: metode elastic
region (konvensional) dan metode plastic region (angle torque).
a).Metode elastic region
Pada metode ini momen pengencangan bertambah sesuai
dengan putaran sudut baut, bila baut dikeraskan melebihi
elastic region hanya sudut putaran yang bertambah tetapi
momennya tetap.
b).Metode plastic region
Pada tipe mesin tertentu, baut cylinder head dan main cap
bearing dikencangkan dengan metode plastic region. Pada
metode ini, pertama baut dikencangkan pada momen yang
mendekati yield point (titik getas), kemudian diputar lagi
sampai melewati yield point. Baut tipe ini menghalangi
tegangan aksial di daerah plastic region.
Grafik 1. Metode Pengencangan Baut
DAERAH ELASTIS
TITIK
GETAS
DAERAH PLASTIS
VARIASI KECIL
VARIASI
BESAR
TEKANAN AKSIAL BAUT
PATAH
PEMANJANGAN BAUT
66
c. Rangkuman 4
1). Prosedur Pemasangan Ban
a). Pastikan bahwa kendaraan berada pada tempat yang rata
dan roda diganjal.
b). Pompa ban dengan kompresor dengan tekanan yang sesuai
dengan peruntukan ban (menurut spesifikasi).
c). Posisikan roda pada lubang baut-baut roda sehingga
posisinya tepat dan benar sesuai dengan tanda
pemasangannya.
d). Dongkraklah kendaraan dan kemudian ambil stand dari
bawah kendaraan.
e). Keraskan mur roda dengan urutan seperti pada gambar
disamping ini, Torsi : 600 kgf-cm (59 N.m; 43 lbf.ft)
2). Metode pengencangan baut
Metode pengencangan baut ada dua, yaitu: metode elastic
region (konvensional) dan metode plastic region (angle torque).
d. Tugas 4.
1). Buatlah flow chart tentang prosedur pemasangan roda!
e. Tes Formatif 4.
1). Jelaskan tentang prosedur pemasangan roda dan pengencangan
mur roda !
67
f. Kunci Jawaban Formatif 4
1). Prosedur Pemasangan Ban
a). Pastikan bahwa kendaraan berada pada tempat yang rata
dan roda diganjal.
b). Pompa ban dengan kompresor dengan tekanan yang sesuai
dengan peruntukan ban. Peralatan yang perlu disiapkan
antara lain: Tire gauge (alat ukur tekanan ban), Chuck
udara untuk ban, udara bertekanan, kunci roda dan jack
stand.
c). Tempatkan roda pada lubang baut-baut roda sehingga
posisinya tepat dan benar sesuai dengan tanda
pemasangannya.
d). Dongkraklah kendaraan dan kemudian ambil stand dari
bawah kendaraan.
68
e). Keraskan mur roda dengan urutan seperti pada gambar
disamping ini, Torsi : 600 kgf-cm (59 N.m; 43 lbf.ft).
? Kencangkan setiap mur roda dengan kunci mur roda dan
periksa jika ada yang kendor.
? Jika ada yang longgar, kencangkan sampai putaran
yang ditentukan.
? Putaran untuk mengencangkan: 4.000 - 4.800 kg.cm
4,000 - 4,800 kg.cm
69
g. Lembar Kerja 4
1).Alat dan Bahan
a). Ban mobil lengkap dengan ban dalam dan peleknya
b). Alat ukur tekanan ban dan kunci roda
c). Lap/majun
2).Keselamatan Kerja
a). Gunakanlah peralatan yang sesuai dengan fungsinya.
b). Ikutilah instruksi dari instruktur ataupun prosedur kerja
yang tertera pada lembar kerja.
c). Mintalah ijin dari instruktur anda bila hendak melakukan
pekerjaan yang tidak tertera pada lembar kerja.
d). Gunakan tekanan kompresor sesuai tekanan yang diizinkan.
e). Bila perlu mintalah buku manual dari ban yang menjadi
training object.
f). Gunakanlah jack stand untuk menyangga kendaraan.
3). Langkah Kerja
a). Persiapkan alat dan bahan praktek secara cermat, efektif
dan efisien.
b). Perhatikan penjelasan prosedur penggunaan alat, baca
lembar kerja dengan teliti.
c). Lakukan pemasangan roda sesuai prosedur yang benar!
d). Mintalah penjelasan pada instruktur mengenai hal yang
belum jelas.
e). Buatlah catatan penting kegiatan praktek secara ringkas.
4). Tugas
a). Buatlah rangkuman pengetahuan yang anda peroleh setelah
mempelajari kegiatan belajar 4!
b). Buatlah laporan kegiatan praktik saudara secara ringkas dan
jelas!
70
BAB III
EVALUASI
A. PERTANYAAN
1. Gambarkan konstruksi dasar ban, berikan keterangan komponenkomponennya
!
2. Jelaskan prosedur pelepasan dan pemasangan roda !
B. KUNCI JAWABAN
1. Konstruksi dasar ban.
a. Carcass (Cassing)
Carcass merupakan rangka ban yang keras, cukup kuat untuk
menahan udara yang bertekanan tinggi, tetapi harus cukup
fleksibel untuk meredam perubahan beban dan benturan. Carcass
terdiri dari ply (layer) dari tire cord (lembaran anyaman paralel dari
bahan yang kuat) yang direkatkan menjadi satu dengan karet. Cord
pada ban-ban bus atau truck biasanya dibuat dari nylon atau baja,
sedangkan untuk mobil-mobil penumpang kecil biasanya terbuat
dari polyester atau nylon.
71
b. Tread
Tread adalah lapisan karet luar yang melindungi carcass terhadap
keausan dan kerusakan yang disebabkan oleh permukaan jalan. Ini
adalah bagian yang langsung berhubungan dengan permukaan
jalan dan menghasilkan tahanan gesek yang memindahkan gaya
gerak dan gaya pengereman kendaraan ke permukaan jalan.
Pola tread terdiri dari alur yang terdapat pada permukaan tread,
dan dirancang untuk memperbaiki kemampuan ban dalam
memindahkan gaya ke permukaan jalan.
c. Sidewall
Sidewall adalah lapisan karet yang menutup bagian samping ban
dan melindungi Carcass terhadap kerusakan dari luar. Sebagai
bagian ban yang paling besar dan paling fleksibel, sidewall secara
terus menerus melentur di bawah beban yang dipikulnya selama
berjalan. Di sidewall tercantum nama pabrik pembuat, ukuran ban,
dan informasi lainnya.
d. Breaker
Breaker adalah lapisan yang terletak diantara Carcass dengan
Tread yang memperkuat daya rekat keduanya. Breaker meredam
kejutan yang timbul dari permukaan jalan ke Carcass dan biasanya
digunakan pada ban dengan bias-ply. Ban untuk bus dan truck
serta truck ringan menggunakan breaker yang terbuat dari nylon,
sedangkan untuk mobil penumpang menggunakan bahan
polyester.
e. Belt (Rigid Breaker)
Ini adalah tipe breaker yang digunakan pada ban radial-ply dan
diletakkan seperti sarung mengelilingi ban diantara carcass dan
karet tread, untuk menahan Carcass dengan kuat. Ban untuk mobil
penumpang menggunakan rigid breaker yang tersusun dari kawat
72
baja, rayon atau polyester, sedangkan untuk bus dan truck
menggunakan rigid breaker dari kawat baja.
f. Bead
Untuk mencegah robeknya ban dari rim oleh karena berbagai gaya
yang bekerja, sisi bebas atau bagian samping ply dikelilingi oleh
kawat baja yang disebut kawat bead. Udara bertekanan di dalam
ban mendorong bead keluar pada rim pelek dan tertahan kuat
disana. Bead dilindungi dari kerusakan karena gesekan dengan
pelek dengan jalan memberinya lapisan karet keras yang disebut
Chafer strip.
Chafer
Bead Heeel
Bead Wire
Bead Toe
Flipper
Bead Base
2. Prosedur prosedur pelepasan dan pemasangan roda.
a). Pastikan bahwa kendaraan berada pada tempat yang rata dan
roda diganjal.
b). Pompa ban dengan kompresor dengan tekanan yang sesuai
dengan peruntukan ban (menurut spesifikasi).
c). Posisikan roda pada lubang baut-baut roda sehingga posisinya
tepat dan benar sesuai dengan tanda pemasangannya.
d). Dongkraklah kendaraan dan kemudian ambil stand dari bawah
kendaraan.
e). Keraskan mur roda dengan urutan seperti pada gambar
disamping ini, Torsi : 600 kgf-cm (59 N.m; 43 lbf.ft)
73
C. KRITERIA KELULUSAN
Aspek Skor
(1-10)
Bobot Nilai Keterangan
Kognitif (soal no 1 s/d 2) 5
Ketelitian pemeriksaan
pendahuluan
1
Ketepatan prosedur melepas,
memasang dan menyetel
roda
2
Ketepatan waktu 1
Keselamatan kerja 1
Nilai Akhir
Syarat lulus,
nilai minimal 70
dengan skor
setiap aspek
minimal 7
Keterangan :
Tidak = 0 (nol) (tidak lulus)
Ya = 70 s.d. 100 (lulus)
Kategori Kelulusan :
70 s.d. 79 : memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan
80 s.d. 89 : memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan
90 s.d. 100 : di atas minimal tanpa bimbingan
74
BAB IV
PENUTUP
Peserta diklat yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat
melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya, apabila peserta diklat
dinyatakan tidak lulus, maka peserta diklat harus mengulang modul ini
dan tidak diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.
Jika peserta diklat telah lulus menempuh modul ini, maka peserta
diklat berhak memperoleh serfikat kompetensi Melepas, Memasang, dan
Menyetel Roda.
75
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (1992). Basic Knowledge of Tire. Bogor : PT. Bridgestone Tire
Indonesia.
Anonim. (1992). Bridgestone Tire Advisor. Bogor : PT. Bridgestone Tire
Indonesia.
Anonim. (1992). Bridgestone Tire Maintenance. Bogor : PT.
Bridgestone Tire Indonesia.
Anonim. (1987). Dasar-dasar Automotive. Jakarta : PT. Toyota – Astra
Motor.
Anonim. (1995). Materi Pelajaran Chassis Group Step 2. Jakarta : PT.
Toyota – Astra Motor.
Anonim. (1995). New Step 1 Training Manual. Jakarta : PT. Toyota –
Astra Motor.
William K. Tobold & Larry Johnson. (1977). Automotive Encyyclopedia.
South Holland : The Good Heart – Wilcox Company Inc.
Publisher.
Kamis, 24 Januari 2013
Minggu, 20 Januari 2013
mesin diesel
MODUL PEMELIHARAAN/SERVIS
SISTEM BAHAN BAKAR DIESEL
BAB I
PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI
Modul Pemeliharaan/servis Sistem Bahan Bakar Diesel membahas
tentang sistem bahan bakar diesel beserta cara pemeliharaan/servisnya.
Tujuan dari modul ini agar mahasiswa memiliki subkompetensi yaitu
memelihara/servis sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel.
Materi modul yang akan dipelajari meliputi : (1) prinsip kerja sistem injeksi
bahan bakar diesel, (2) sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel
yang perlu dipelihara/diservis, dan (3) langkah kerja pemeliharaan/servis
sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel.
Modul ini terdiri dari atas 3 kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1
membahas tentang: prinsip kerja sistem injeksi bahan bakar diesel.
Kegiatan belajar 2 membahas tentang sistem dan komponen injeksi bahan
bakar diesel, yaitu meliputi saringan bahan bakar, pompa injeksi,
injector/pengabut, automatic timer, dan governor. Kegiatan belajar 3
membahas langkah kerja pemeliharaan/servis sistem dan komponen
injeksi bahan bakar diesel.
Setelah mempelajari modul ini diharapkan dapat memahami prinsip
kerja, sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel serta dapat
melakukan pemeliharaan/servis sistem dan komponen injeksi bahan bakar
diesel tersebut.
B. PRASYARAT
Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan
modul-modul yang harus dipelajari lebih awal sesuai dengan peta
kedudukan modul.
2
C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Petunjuk Bagi Peserta Diklat
Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam
mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu
dilaksanakan antara lain:
a. Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian materi
yang ada pada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada
materi yang kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru yang
mengampu kegiatan belajar tersebut.
b. Kerjakanlah setiap tugas formatif (soal latihan) untuk
mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki
terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap
kegiatanbelajar.
c. Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik,
perhatikanlah hal-hal berikut ini:
1) Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang
diberikan
2) Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan
Baik
3) Sebelum melaksanakan praktik, tentukan alat dan bahan
yang diperlukan secara cermat
4) Gunakan alat sesuai prosedur yang pemakaian yang benar
5) Untuk melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas,
harus meminta ijin guru lebih dahulu
6) Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat
semula
d. Jika belum menguasai tingkat materi yang diharapkan, ulangi
lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada
3
guru yang mengampu kegiatan pembelajaran yang
bersangkutan.
2. Petunjuk Bagi Guru
Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:
a. Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar
b. Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang
dijelaskan dalam tahap belajar
c. Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan
menjawab pertamnyaan siswqa mengenai proses belajarnya.
d. Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber
tambahan lain yang diperlukan untuk belajrar
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan
D. TUJUAN AKHIR
Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam
modul ini siswa diharapkan:
1. Memahami prinsip kerja sistem prinsip kerja sistem injeksi bahan
bakar diesel
2. Memahami sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel yang
perlu dipelihara/diservis.
3. Memahami langkah kerja pemeliharaan/servis sistem dan
komponen injeksi bahan bakar diesel.
E. KOMPETENSI
Modul OPKR-20-017 B ini membentuk subkompetensi memelihara/servis sistem dan komponen injeksi bahan bakar
diesel.
Sub Materi pokok pemelajaran
Kompetensi
Kriteria kinerja Lingkup Belajar
Sikap Pengetahuan Keterampilan
Memelihara/
servis sistem dan
komponen ijeksi bahan
bakar diesel
1.Pemeliharaan/servis sistem dan
komponen injeksi bahan bakar diesel
dilaksanakan tanpa menyebabkan
kerusakan terhadap komponen atau
sistem lainnya
2.Pemeliharaan/servis pompa/komponen
injeksi bahan bakar diesel dilaksnakan
berdsarkan spesifikasi pabrik
3.Pompa/komponen injeksi bahan bakar
diesel diuji dengan persyaratan kerja
4.Kegiatan pemeliharaan/servis sistem dan
komponen dilaksanakan berdasarkan SOP
1. Prinsip kerja sistem
injeksi bahan bakar
diesel
2. Sistem dan komponen
injeksi yang perlu
dipelihara/servis
3. Langkah kerja
pemeliharaan/servis
sistem dan komponen
injeksi bahan bakar
diesel
1. Mengikuti
prosedur
pemeliharan/servis
komponen /sistem
bahan bakar diesel
dilakukan sesuai
dengan SOP
2. Memper-hatikan
factor-faktor
keselamatan kerja
dan lingkungan
1. Memahami
prosedur
pemeliharaan/servis
(termasuk
pengeluaran)
2. Prinsip kerja sistem
injeksi bahan bakar
diesel dan komponen
3. Persyarata
keamanan
peralatan/bahan
4. Prosedur pengujian
5.Persyaratan
keselamatan kerja
Melaksanakan
pemeliharaan/servis
komponen/sistem
bahan bakar diesel
secara berkala
4
5
F. CEK KEMAMPUAN
Sebelum mempelajari modul OPKR 20-017 B, isilah dengan tanda cek (v) kemampuan yang telah dimiliki siswa
dengan sikap jujur dan dapat dipetanggungjawabkan.
Sub Jawaban
Kompetensi
Pernyataan
Ya Tidak
Bila jawaban ‘ya”
kerjakan
1. Saya mampu menjelaskan prinsip kerja sistem injeksi bahan
bakar diesel
Soal tes formatif 1
2. Saya dapat menjelaskan sistem dan komponen injeksi yang
perlu dipelihara/servis
Soal tes formatif 2
Memelihara/
servis sistem dan
komponen ijeksi bahan
bakar diesel
3. Saya mampu melakukan langkah kerja pemeliharaan/servis
sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel
Soal tes formatif 3
Apabila siswa menjawab Tidak, pelajari modul ini.
5
6
BAB II
PEMELAJARAN
A. Rencana Belajar Siswa
Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi table di
bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai
mempelajari setiap kegiatan belajar.
Jenis Kegiatan Tanggal Waktu
Tempat
Belajar
Alasan
Perubahan
Paraf
Guru
1. Prinsip kerja sistem injeksi
bahan bakar diesel
2. Sistem dan komponen
injeksi yang perlu
dipelihara/ servis
3. Langkah kerja
pemeliharaan/ servis
sistem dan komponen
injeksi bahan bakar diesel
B. Kegiatan Belajar
1. Kegiatan Belajar 1: Prinsip Kerja Sistem Injeksi Bahan
Bakar Diesel
a. Tujuan Kegiatan Belajar 1
1) Siswa dapat menjelaskan prinsip kerja mesin diesel
2) Siswa dapat menjelaskan perbedaan utama mesin diesel
dan mesin bensin
3) Siswa dapat menjelaskan proses pembakaran mesin diesel
4) Siswa dapat menjelaskan bentuk ruang bakar mesin diesel
5) Siswa dapat menjelaskan penyaluran bahan bakar pada
sistem bahan bakar mesin diesel
7
b. Uraian Materi 1
1) Prinsip Kerja Mesin Diesel
Mesin/motor diesel (diesel engine) merupakan salah satu
bentuk motor pembakaran dalam (internal combustion engine) di
samping motor bensin dan turbin gas. Motor diesel disebut
dengan motor penyalaan kompresi (compression ignition engine)
karena penyalaan bahan bakarnya diakibatkan oleh suhu
kompresi udara dalam ruang bakar. Dilain pihak motor bensin
disebut motor penyalaan busi (spark ignition engine) karena
penyalaan bahan bakar diakibatkan oleh percikan bunga api
listrik dari busi.
Cara pembakaran dan pengatomisasian (atomizing) bahan
bakar pada motor diesel tidak sama dengan motor bensin. Pada
motor bensin campuran bahan bakar dan udara melelui
karburator dimasukkan ke dalam silinder dan dibakar oleh nyala
listrik dari busi. Pada motor diesel yang diisap oleh torak dan
dimasukkan ke dalam ruang bakar hanya udara, yang
selanjutnya udara tersebut dikompresikan sampai mencapai suhu
dan tekanan yang tinggi. Beberapa saat sebelum torak mencapai
titik mati atas (TMA) bahan bakar solar diinjeksikan ke dalam
ruang bakar. Dengan suhu dan tekanan udara dalam silinder
yang cukup tinggi maka partikel-partikel bahan bakar akan
menyala dengan sendirinya sehingga membentuk proses
pembakaran. Agar bahan bakar solar dapat terbakar sendiri,
maka diperlukan rasio kompresi 15-22 dan suhu udara kompresi
kira-kira 600ºC.
Meskipun untuk motor diesel tidak diperlukan sistem
pengapian seperti halnya pada motor bensin, namun dalam
motor diesel diperlukan sistem injeksi bahan bakar yang berupa
8
pompa injeksi (injection pump) dan pengabut (injector) serta
perlengkapan bantu lain. Bahan bakar yang disemprotkan harus
mempunyai sifat dapat terbakar sendiri (self ignition).
Penampang mesin diesel secara sederhana dapat dilihat pada
gambar 1.
Gambar 1. Skema motor diesel
2) Perbedaan utama mesin diesel dan mesin bensin
Motor diesel dan motor bensin mempunyai beberapa
perbedaan utama, bila ditinjau dari beberapa item di bawah ini,
yaitu (lihat Tabel 1)
Tabel 1. Perbedaan utama motor diesel dan motor bensin
Item Motor Diesel Motor Bensin
Siklus Pembakaran Siklus Sabathe Siklus Otto
Rasio kompresi 15-22 6-12
Ruang bakar Rumit Sederhana
Percampuran
bahan bakar
Diinjeksikan pada
akhir langkah
Dicampur dalam
karburator
Metode penyalaan Terbakar sendiri Percikan busi
Bahan bakar Solar Bensin
Getaran suara Besar Kecil
Efisiensi panas (%) 30-40 22-30
9
Motor diesel juga mempunyai keuntungan dibanding motor
bensin, yaitu:
a) Pemakaian bahan bakar lebih hemat, karena efisiensi panas
lebih baik, biaya operasi lebih hemat karena solar lebih murah.
b) Daya tahan lebih lama dan gangguan lebih sedikit, karena
tidak menggunakan sistem pengapian
c) Jenis bahan bakar yang digunakan lebih banyak
d) Operasi lebih mudah dan cocok untuk kendaraan besar,
karena variasi momen yang terjadi pada perubahan tingkat
kecepatan lebih kecil.
Di samping itu motor diesel memiliki kerugian, yaitu:
a) Suara dan getaran yang timbul lebih besar (hampir 2 kali)
daripada motor bensin. Hal ini disebabkan tekanan yang
sangat tinggi (hampir 60 kg/cm2) pada saat pembakaran
b) Bobot per satuan daya dan biaya produksi lebih besar, karena
bahan dan konstruksi lebih rumit untuk rasio kompresi yang
tinggi
c) Pembuatan pompa injeksi lebih teliti sehingga perawatan lebih
sulit
d) Memerlukan kapasitas baterai dan motor starter yang besar
agar dapat memutar poros engkol dengan kompresi yang
tinggi.
Secara singkat prinsip kerja motor diesel 4 tak adalah sebagai
berikut:
a) Langkah isap, yaitu waktu torak bergerak dari TMA ke TMB.
Udara diisap melalui katup isap sedangkan katup buang
tertutup.
10
b) Langkah kompresi, yaitu ketika torak bergerak dari TMB ke
TMA dengan memampatkan udara yang diisap, karena kedua
katup isap dan katup buang tertutup, sehingga tekanan dan
suhu udara dalam silinder tersebut akan naik.
c) Langkah usaha, ketika katup isap dan katup buang masih
tertutup, partikel bahan bakar yang disemprotkan oleh
pengabut bercampur dengan udara bertekanan dan suhu
tinggi, sehingga terjadilah pembakaran. Pada langkah ini torak
mulai bergerak dari TMA ke TMB karena pembakaran
berlangsung bertahap
d) Langkah buang, ketika torak bergerak terus dari TMA ke TMB
dengan katup isap tertutup dan katup buang terbuka,
sehingga gas bekas pembakaran terdorong keluar.
Gambar 2. Prinsip kerja motor diesel 4 tak
3) Proses pembakaran mesin diesel
Proses pembakaran dibagi menjadi 4 periode:
a) Periode 1: Waktu pembakaran tertunda (ignition delay) (A -B)
Pada periode ini disebut fase persiapan pembakaran, karena
partikel-partikel bahan bakar yang diinjeksikan bercampur
dengan udara di dalam silinder agar mudah terbakar.
11
b) Periode 2: Perambatan api (B-C)
Pada periode 2 ini campuran bahan bakar dan udara tersebut
akan terbakar di beberapa tempat. Nyala api akan merambat
dengan kecepatan tinggi sehingga seolah-olah campuran
terbakar sekaligus, sehingga menyebabkan tekanan dalam
silinder naik. Periode ini sering disebut periode ini sering
disebut pembakaran letup.
c) Periode 3: Pembakaran langsung (C-D)
Akibat nyala api dalam silinder, maka bahan bakar yang
diinjeksikan langsung terbakar. Pembakaran langsung ini
dapat dikontrol dari jumlah bahan bakar yang diinjeksikan,
sehingga periode ini sering disebut periode pembakaran
dikontrol.
d) Periode 4: Pembakaran lanjut (D-E)
Injeksi berakhir di titik D, tetapi bahan bakar belum terbakar
semua. Jadi walaupun injeksi telah berakhir, pembakaran
masih tetap berlangsung. Bila pembakaran lanjut terlalu lama,
temperatur gas buang akan tinggi menyebabkan efisiensi
panas turun.
Gambar 3. Proses pembakaran motor diesel
12
4) Bentuk ruang bakar mesin diesel
Ruang bakar pada motor diesel lebih rumit dibanding
ruang bakar motor bensin. Bentuk ruang bakar pada motor
diesel sangat menentukan kemampuan mesin, sebab ruang
bakar tersebut direncanakan dengan tujuan agar campuran
bahan udara dan bahan bakar menjadi homogen dan mudah
terbakar sekaligus.
Ruang bakar motor diesel digolongkan menjadi 2 tipe,
yaitu:
a) Tipe ruang bakar langsung (direct combustion chamber)
b) Tipe ruang bakar tambahan (auxiliary combustion chamber)
Tipe ruang bakar tambahan terdapat dalm 3 macam, yaitu:
1). Ruang bakar kamar muka (precombustion chamber)
2). Ruang bakar pusar (swirl chamber)
3). Ruang bakar air cell (Air cell combustion chamber)
Ruang bakar langsung dapat dilihat pada gambar 4.
Gambar 4. Ruang bakar langsung
Keuntungan ruang bakar langsung adalah: (1) efisiensi
panas lebih tingi, pemakaian bahan bakar lebih hemat karena
bentuk ruang bakar yang sederhana, (2) start dapat mudah
dilakukan pada waktu mesin dingin tanpa menggunakan alat
13
bantu start busi pijar (glow plug), dan (3) cocok untuk mesinmesin
besar karena konstruksi kepala silinder sederhana.
Kerugian ruang bakar langsung adalah: (1) memerlukan
kualitas bahan bakar yang baik, (2) memerlukan tekanan injeksi
yang lebih tinggi, (3) sering terjadi gangguan nozzle, umur
nozzle lebih pendek karena menggunakan nozzle lubang banyak
(multiple hole nozzle), dan (4) dibandingkan dengan jenis ruang
bakar tambahan, turbulensi lebih lemah, jadi sukar untuk
kecepatan tinggi.
b) Ruang bakar tambahan.
1) Ruang bakar muka.
Dalam ruang bakar ini bahan bakar solar disemprotkan ke
dalam ruang bakar muka oleh nozzle injeksi. Sebagian
bahan bakr yang tidak terbakar di ruang bakar muka
didorong melalui saluran kecil antara ruang bakar muka dan
ruang bakar utama. Percampuran yang baik dan terbakar
seluruhnya berada pada ruang bakar utama. Lihat gb. 5.
Gambar 5. Ruang bakar kamar muka
Keuntungan ruang bakar muka adalah: (1) jenis
bahan bakar yang digunakan lebih luas, karena
turbulensinya sangat baik untuk pengabutan, (2) perawatan
14
pompa injeksi lebih mudah karena tekanan injeksi lebih
rendah dan tidak terlalu peka terhadap perubahan saat
injeksi, dan (3) detonasi berkurang serta mesin bekerja
lebih baik karena menggunakan nozzle lubang banyak.
Kerugian ruang bakar muka adalah: (1) biaya
pembuatan lebih mahal sebab perencanaan kepala silinder
lebih rumit, (2) memerlukan motor starter yang besar dan
kemampuan start lebih jelek sehingga harus menggunakan
alat pemanas, dan (3) pemakaian bahan bakar boros.
2) Ruang bakar pusar.
Ruang bakar model pusar ini berbentuk bundar. Ketika
torak memampatkan udara, sebagian udara akan masuk ke
dalam ruang bakar pusar dan membuat aliran turbulensi.
Bahan bakar diinjeksikan ke dalam udara turbulensi dan
terbakar di dalam ruang bakar pusar, tetapi sebagian bahan
bakar yang belum terbakar masuk ke ruang bakar utama
melalui saluran tersebut. Selanjutnya capuran tersebut akan
terbakar di tuang bakar utama. Lihat gambar 6.
Gambar 6. Ruang bakar pusar
Keuntungan ruang bakar pusar adalah: (1) dapat
menghasilkan putaran tinggi, karena turbulensi yang sangat
baik pada saat kompresi, (2) Gangguan pada nozzle
15
berkurang karena menggunakan nozzle tipe pin, dan (3)
putaran mesin lebih tinggi dan operasinya lebih lembut,
menyebabkan jenis ini cocok untuk mobil.
Kerugian ruang bakar pusar adalah: (1) konstruksi
kepala silinder rumit, (2) efisiensi panas dan pemakaian
bahan bakar lebih boros dibandingkan dengan tipe ruang
bakar langsung, (3) penggunaan alat pemanas tidak begitu
efektif, sebab ruang bakar sangat luas, dan (4) detonasi
lebih besar pada kecepatan rendah.
3) Ruang bakar Air Cell
Pada ruang bakar air cell ini bahan bakar disemprotkan
langsung ke dalam air cell dan terbakar langsung di ruang
bakar utama. Sebagian bahan bakar yang yang
disemprotkan ke air cell dan terbakar, mengakibatkan
tekanan dalam air cell bertambah. Bila torak bergerak ke
TMB, udara dalam air cell keluar ke ruang bakar utama
membantu menyempurnakan pembakaran. Pada
ruangbakar ini tidak memerlukan pemanas.
Gambar 7. Ruang bakar Air Cell
Keuntungan ruang bakar air cell adalah: (1) mesin
bekerja lebih lembut karena pembakaran terjadi secara
berangsur-angsur, (2) tidak memerlukan pemanas, (3)
16
gangguan nozzle berkurang karena menggunakan nozzle
tipe pin.
Kerugian ruang bakar air cell adalah: (1) saat injeksi
bahan bakar sangat mempengaruhi kemampuan mesin, (2)
suhu gas buang sangat tinggi karena pembakaran lanjut
sangat panjang, dan (3) bahan bakar boros.
4) Penyaluran bahan bakar pada mesin diesel
Berdasarkan uraian tentang prinsip kerja mesin diesel
yang membakar bahan bakar berdasarkan suhu kompresi
secara bertahap, maka penyaluran bahan bakar pada mesin
diesel harus memenuhi syarat:
(a) Mesin diesel harus mempunyai perbandingan kompresi
yang tinggi agar mempunyai suhu dan tekanan kompresi
yang tinggi sehingga mampu membakar bahan bakar
yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar. Bahan bakar
mesin diesel mempunyai sifat titik nyalanya tinggi
sehingga harus dibuat menjadi partikel atau butiran yang
lebih kecil.
(b) Agar bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam silinder
mesin diesel dapat mudah terbakar maka diperlukan ruang
bakar yang dapat memungkinkan bahan bakar dan udara
dapat bercampur secara homogen dalam bentuk partikel
yang lebih kecil-kecil dari sebelumnya.
(c) Di samping mesin diesel harus memiliki ruang bakar yang
memungkinkan atomisasi bahan bakar, maka bahan bakar
yang disalurkan ke dalam ruang bakar harus dengan
injeksi. Dengan injeksi maka bahan bakar akan berbentuk
partikel-partikel atau butiran-butiran yang kecil. Oleh
karena itu dalam mesin diesel diperlukan peralatan untuk
17
injeksi yaitu pompa injeksi dan injector (pengabut). Pompa
injeksi berfungsi menekan bahan bakar dari tangki ke
injector, sedangkan injector berfungsi menyemprotkan
bahan bakar tepat waktu ketika diperlukan pada akhir
langkah kompresi.
(d) Berdasarkan 3 hal di atas maka pada mesin diesel
diperlukan suatu sistem bahan bakar yang dapat
memenuhi syarat agar terjadi pembakaran yang baik.
Sistem bahan bakar yang baik harus terdiri dari
komponen-komponen yang baik pula.
c. Rangkuman 1
1. Motor diesel disebut dengan motor penyalaan kompresi
(compression ignition engine) karena penyalaan bahan
bakarnya diakibatkan oleh suhu dan tekanan kompresi
udara dalam ruang bakar.
2. Perbedaan motor diesel dan motor bensin dapat ditinjau
dari: siklus pembakaran, rasio kompresi, ruang bakar,
penyampuran bahan bakar, metode penyalaan, jenis bahan
bakar, getaran, suara, dan efisiensi panas.
3. Proses pembakaran motor diesel berlangsung dalam 4
tahap, yaitu: pembakaran tertunda, perambatan,
pembakaran langsung, dan pembakaran lanjut
4. Ruang bakar mesin diesel dapat berupa ruang bakar
langsung dan ruang bakar tambahan yang berbentuk:
ruang bakar muka, ruang bakar pusar, dan ruang bakar air
cell.
5. Penyaluran bahan bakar pada mesin diesel harus
memenuhi syarat syarat yaitu: mesin memiliki
perbandingan kompresi yang tinggi, memiliki ruang bakar
18
yang memungkinkan turbulensi penyampuran bahan bakar
secara baik, bahan bakar harus ditekan dengan pompa
injeksi dan injector harus menyemprotkan bahan bakar
tersebut dalam bentuk kabut atau partikel kecil. Oleh
karena itu pada mesin diesel diperlukan sistem bahan bakar
yang didukung komponen yang baik.
d. Tugas 1
1. Sebuah motor diesel ketika distart tidak segera hidup
dengan mudah. Buatlah daftar kemungkinan penyebab
sulitnya mesin diesel hidup, ditinjau dari sistem bahan
bakar yang telah anda ketahui.
2. Gambarkan proses penyaluran bahan bakar pada motor
diesel yang anda temui di bengkel sekolah, dan jelaskan
apakah sesuai dengan diagram alir penyaluran bahan bakar
yang strandar.
e. Tes Formatif 1
1. Jelaskan prinsip kerja pada mesin diesel!
2. Jelaskan tahapan proses pembakaran pada mesin diesel
dan mengapa demikian?
3. Jelaskan fungsi alat pemanas alat pemanas (glow plug)
pada mesin diesel dan pada mesin diesel apa alat tersebut
digunakan?
4. Jelaskan jenis ruang bakar pada mesin diesel dan dimana
digunakan?
19
f. Kunci Jawaban Formatif 1
1. Prinsip kerja mesin diesel adalah seperti pada mesin
bensin hanya saja yang diisap adalah hanya udara, dan
bahan bakar baru disemprotkan di saat akhir kompresi
dan bahan bakar menyala karena suhu kompresi.
2. Proses pembakaran motor diesel berlangsung dalam 4
tahap, yaitu: pembakaran tertunda, perambatan,
pembakaranlangsung, dan pembakaran lanjut. Hal
tersebut karena sifat bahan bakar yang berbeda dengan
bensin
3. Untuk pemanas awal saat start dan digunakan pada
ruang bakar tambahan
4. Ruang bakar mesin diesel dapat berupa ruang bakar
langsung untuk injeksi langsung dan ruang bakar
tambahan untuk injeksi tidak langsung yang berbentuk:
ruang bakar muka, ruang bakar pusar, dan ruang bakar
air cell.
20
g. Lembar Kerja 1
1) Alat dan Bahan
a) 1 (satu) unit mesin diesel
b) 1 (satu) buah toolbox
c) Kunci sock dan kunci momen
d) Majun
2) Keselamatan Kerja
a) Gunakan peralatan servis yang sesuai dengan
fungsinya
b) Ikutilah instruksi dari guru ataupun langkah kerja
yang tertulis pada lembar kerja
c) Mintalah ijin kepada guru anda bila akan melakukan
pekerjaan yang tidak tertulis pada lembar kerja
d) Bila perlu mintalah buku manual mesin sesuai
dengan obyek yang digunakan
3) Langkah kerja
a) Persiapkan alat dan bahan praktik secara cermat,
efektif dan seefisien mungkin.
b) Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh
guru.
c) Lakukan diskusi tentang prinsip kerja sistem injeksi
bahan bakar diesel!
d) Lakukan analisis tentang perbedaan utama mesin
diesel dan mesin bensin!
e) Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktik
secara ringkas
f) Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang
telah digunakan ke tempat semula.
21
4) Tugas
a) Buatlah laporan praktik secara ringkas dan jelas
b) Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda
peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan
belajar 1.
22
2. Kegiatan Belajar 2: Sistem dan Komponen Injeksi Bahan
Bakar Diesel yang perlu
dipelihara/servis.
a. Tujuan Kegiatan Belajar 2
1) Siswa dapat menjelaskan jenis sistem injeksi bahan bakar
pada mesin diesel
2) Siswa dapat menjelaskan konstruksi dan cara kerja
komponen-komponen injeksi bahan bakar yang perlu
dipelihara/diservis untuk tiap-tiap jenis sistem injeksi bahan
bakar.
b. Uraian Materi 2
1) Pengertian Sistem Injeksi Bahan Bakar Mesin Diesel
Sistem injeksi bahan bakar pada mesin diesel merupakan
sistem paling penting di antara sistem-ssitem yang lain. Dengan
sistem injeksi bahan bakar yang baik dan tepat akan
menghasilkan tenaga mesin yang optimal. Sebaliknya sistem
injeksi bahan bakar yang kurang baik dan kurang tepat dapat
menyebabkan tenaga mesin diesel kurang optimal, bahkan
mungkin saja mesin diesel tidak dapat dijalankan sama sekali.
Banyak orang yang menyatakan bahwa sistem injeksi bahan
bakar pada mesin diesel merupakan jantung hidup matinya
mesin.
Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel mencakup
rangkaian komponen-komponen yang berhubungan dengan
bahan bakar, yang berfungsi mengisap bahan bakar dari tangki
bahan bakar, memompakan bahan bakar, sampai bahan bakar
tersebut diinjeksikan ke dalam ruang bakar silinder mesin dalam
rangfka memperoleh tenaga.
23
2) Fungsi Sistem Injeksi Bahan Bakar
Berdasarkan pengertian sistem injeksi bahan bakar pada
mesin diesel di atas, maka fungsi sistem injeksi bahan bakar
mesin diesel yaitu:
a) Menyimpan bahan bakar
b) Menyaring bahan bakar
c) Memompa atau menginjeksi bahan bakar ke dalam ruang
bakar silinder mesin
d) Mengabutkan bahan bakar ke dalam ruang bakar silinder
mesin
e) Memajukan saat penginjeksian bahan bakar
f) Mengatur kecepatan mesin sesuai dengan bebannya
melalui pengaturan penyaluran bahan bakar
g) Mengembalikan kelebihan bahan bakar ke dalam tangki
bahan bakar.
3) Syarat sistem injeksi bahan bakar mesin diesel
Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Memberikan sejumlah tertentu bahan bakar. Sistem injeksi
bahan bakar harus setiap saat tertentu memberikan
sejumlah tertentu bahan bakar ke tiap-tiap silinder mesin
diesel.
b) Menepatkan saat penginjeksian bahan bakar
Bahan bakar harus diinjeksikan ke dalam silinder tepat
pada saat kemungkinan mesin diesel mampu
menghasilkan tenaga yang maksimum. Bahan bakar yang
diinjeksikan terlalu cepat atau terlalu lambat selama
langkah usaha menyebabkan terjadinya kerugian tenaga.
24
c) Mengendalikan kecepatan pengiriman bahan bakar.
Kerja mesin diesel yang halus pada tiap-tiap silinder
tergantung pada lama waktu yang diperlukan untuk
menginjeksikan bahan bakar. Kecepatan mesin yang lebih
tinggi harus dicapai dengan pemasukan bahan bakar yang
lebih cepat pula.
d) Mengabutkan bahan bakar.
Bahan bakar harus sepenuhnya tercampur dengan udara
untuk pembakaran sempurna. Dalam hal ini bahan bakar
harus dikabutkan menjadi partikel-pertikeal yang halus.
Dengan demikian penginjeksian bahan bakar ke dalam
silinder mesin diesel harus pada saat yang tepat dan
jumlah yang tepat pula sesuai dengan jumlah yang
diperlukan.
4) Komponen-komponen Sistem Injeksi Bahan Bakar
Mesin Diesel
Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel dapat dibedakan
menjadi 2 (dua) cara yaitu:
a) Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi sebaris
b) Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
distributor
a)Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
sebaris (inline fuel injection pump)
Sistem injeksi bahan bakar yang menggunakan pompa
injeksi sebaris dapat dilihat pada gambar 8, yaitu dengan
pompa injeksi Bosch.
25
Gambar 8. Sistem injeksi bahan bakar dengan
pompa injeksi sebaris (Tipe Bosch)
Pada sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
sebaris seperti di atas, terdiri dari empat elemen pompa yang
melayani empat buah silinder. Dengan demikian tiap silinder
mesin diesel akan dilayani oleh satu elemen pompa secara
individual.
b) Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
distributor
Pada sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
distributor, pompa injeksinya hanya memiliki satu buah
elemen pompa. Dengan demikian satu elemen pompa akan
melayani empat buah silinder mesin diesel melalui saluran
distribusi pada pompa. Sebagai contoh sistem bahan bakar
dengan pompa distributor dapat dilihat pada gambar 9 dan
gambar 10.
26
Gambar 9. Sistem bahan bakar dengan pompa injeksi distributor DPA
Gambar 10. Sistem bahan bakar dengan pompa injeksi distributor VE
27
Gambar 9 menunjukkan sistem bahan bakar dengan
pompa injeksi distributor tipe DPA dan gambar 10 adalah
dengan pompa injeksi distributor tipe VE. Pompa injeksi
distributor tipe DPA saat ini sudah jarang digunakan,
sedangkan pompa injeksi distributor tipe VE masih banyak
digunakan
Pompa injeksi sebaris pada umumnya digunakan untuk
mesin diesel bertenaga besar dengan ruang bakar langsung
dan penyemrotan langsung (direct injection), sedangkan
pompa injeksi distributor banyak digunakan untuk mesin
diesel bertenaga menengah dan kecil dengan ruang bakar
tambahan.
Berdasarkan gambar 8, gambar 9 dan gambar 10 di
atas maka secara umum komponen-komponen injeksi bahan
bakar mesin diesel adalah:
a) Tangki bahan bakar (fuel tank)
b) Saringan bahan bakar (fuel filter)
c) Pompa pemindah bahan bakar (fuel transfer pump)
d) Pompa injeksi bahan bakar (fuel injection pump)
e) Pipa-pipa injeksi bahan bakar (fuel injection lines)
f) Injektor (fuel injector)
g) Pipa-pipa pengembali bahan bakar (fuel return lines)
Di samping komponen-komponen utama di atas, komponen
sistem injeksi tambahan yang lain adalah:
h) Pengatur kecepatan (governor)
i) Pengatur untuk memajukan saat injeksi otomatis
(advancer/automatic timer)
28
Komponen-komponen tersebut di atas terangkai menjadi satu
kesatuan dan saling berhubungan dan saling membantu dalam
rangka penginjeksian bahan bakar ke dalam silinder mesin
dengan saat yang tepat dengan jumlah yang tepat pula.
a) Tangki bahan bakar (fuel tank)
Tangki bahan bakar berfungsi menyimpan atau
menampung bahan bakar. Tangki bahan bakar dibuat dengan
berbagai ukuran dan tiap ukuran serta bentuk tangki tersebut
dirancang untuk maksud persyaratan tertentu.
Kapasitas tangki tangki harus cukup untuk suatu jarak
tempuh tertentu atau cukup untuk digunakan dalam jangka
waktu tertentu. Bentuk dan ukuran tangki tergantung pada
ketersediaan tempat (space) serta kapasitas yang
dikehendaki. Misalnya untuk ruang mesin yang panjang atau
pendek, berbentuk bulat atau persegi.
Tangki bahan bakar harus tertutup untuk mencegah
masuknya kotoran, namun demikian harus mempunyai lubang
pernafasan (ventilation) dan untuk lubang pengisian bahan
bakar sebagai pengganti bahan bakar yang telah dipakai.
Dengan demikian paling tidak harus ada tiga buah lubang,
yaitu untuk mengisi, mengalirkan keluar dan lubang untuk
mengeringkan (draining). Kadangkala terdapat lubang untuk
saluran kebocoran bahan bakar (fuel overflow/fuel leak-off).
b) Saringan bahan bakar (fuel filter)
Penyaringan bahan bakar mesin diesel sangat penting karena
bahan bakar diesel cenderung tidak bersih baik dari kotoran
partikel atau dari air, sedangkan elemen pompa injeksi dan
29
injector dibuat presisi. Untuk memisahkan air dari bahan bakar
digunakan juga water sedimenter yang bekerja atas sifat
gravitasi air sendiri yang lebih besar daripada bahan bakarnya.
Gambar 11. Saringan bahan bakar dan sedimenter
Bila air sampai masuk ke dalam elemen pompa maka dapat
menyebabkan kerusakan pada elemen pompa karena korosi
dan pengabutan menjadi terganggu.
Untuk mengetahui bahwa air yang berada dalam
sedimenter telah banyak maka diketahui dari sistem lampu
peringatan yang sirkit kelistrikannya dapat dilihat pada
gambar 12.
Gambar 12. Sistem kelistrikan sedimenter
30
Bila volume air dalam sedimenter telah cukup banyak
(200 cc) maka pelampung akan menghubungkan water switch
(lead switch) dengan masa. Akibatnya arus listrik akan
mengalir dari baterai ke lampu filter terus ke masa,
akibantnya lampu filter akan menyala untuk memberi
peringatan kepada pengendara bahwa air yang berada pada
sedimenter perlu segera dikeluarkan.
Konstruksi sedimenter dan bagian-bagiannya dapat
dilihat pada gambar 13.
Gambar 13. Konstruksi sedimenter
Pada sistem injeksi bahan bakar sering dijumpai lebih dari
satu penyaringan bahan bakar, yaitu:
(1) Penyaring pada tangki (filter screen) atau pada pompa
pemindah, yang berfungsi Manahan partikel besar,
(2) Penyaring primer (primary filter) berfungsi menyaring
partikel-partikel kecil, dan
(3) Penyaring sekunder (secondary filter) berfungsi menyaring
partikel yang lembut.
31
c) Pompa pemindah bahan bakar (fuel transfer pump)
Pompa pemindah bahan bakar ini berfungsi untuk
mengisap bahan bakar dari tangki dan menekan bakar melalui
saringan bahan bakar ke ruang pompa injeksi. Pompa ini
dinamakan juga pompa pemberi (feed pump) atau pompa
pencatu bahan bahan bakar (fuel supply pump) atau priming
pump.
Pompa pemindah bahan bakar untuk sistem injeksi
bahan bakar dengan pompa injeksi sebaris dapat dilihat pada
gambar 14.
Gambar 14. Pompa pemindah untuk pompa injeksi sebaris
Pompa pemindah untuk pompa injeksi sebaris adalah model
pompa kerja tunggal (sigle acting) dipasang pada sisi pompa
injeksi dan digerakkan oleh poros nok pompa injeksi. Pompa
pemindah ini dilengkapi dengan pompa tangan untuk
membuang udara yang terdapat pada aliran bahan bakar
sebelum mesin dihidupkan.
Bahan bakar di dalam pompa injeksi selamanya harus cukup,
untuk itu perlu pengiriman bahan bakar ke pompa injeksi
dengan tekanan tertentu. Bila tekanan rendah di bawah
32
spesifikasi, elemen pompa tidak mampu memberikan bahan
bakar yang cukup pada kecepatan tinggi. Oleh karena itu,
tekanan pengisian harus di atas 1,8–2,2 kg/cm2 (2,56–3,11
psi).
Cara kerja pompa pemindah pada pompa injeksi sebaris dapat
dilihat pad gambar 15.
Gambar 15. Cara kerja pompa pemindah pada pompa sebaris
Pompa pemindah ini digerakkan oleh poros nok (1)
sehingga piston (5) bergerak bolak-balik untuk mengisap dan
menekan bahan bakar bila tekanan masih rendah. Bahan
bakar yang diisap akan ditekan ke dalm pompa injeksi melalui
saluran keluar (8) dan katup tekan (9) membuka sedangkan
katup masuk (6) menutup. Bila poros nok tidak menekan
tappet roller(2) maka katup tekan tetutup sedangkan katup
isap terbuka terjadilah pengiapan. Jika tekanan bahan bakar
telah melebihi spesifikasi maka tegangan pegas (7) tidak
mampu mendorong piston. Akibatnya piston tidak bergerak
dan pompa pemindah ini tidak bekerja lagi. Setelah tekanan
turun maka pompa pemindah ini akan bekerja lagi.
Pompa pemindah atau priming pump untuk pompa
injeksi distributor dapat dilihat pada gambar 16.
33
Gambar 16. Priming pump untuk pompa injeksi distributor
Priming pump untuk pompa injeksi distributor ini dilengkapi
dengan penyaring bahan bakar dan sedimenter. Cara kerja
priming pump ini adalah sebagai berikut:
Tekan handle pompa diafragma ke bawah dan bahan
bakar atau udara dalam ruang pompa akan akan membuka
outlet check valve dan mengalir ke saringan bahan bakar.
Pada saat yang sama inlet check valve akan menutup dan
mencegah bahan bakar mengalir kembali. Lihat gambar 17.
Gambar 17. Penekanan priming pump untuk membuang udara
Bila handle poma dibebaskan, tegangan pegas
mengembalikan diafragma ke posisi semula danmenimbulkan
vakum di dalam ruang pompa. Hal tersebut menyebabkan
34
inlet valve terbuka disebabkan adanya kevakuman dan bahan
bakar akan mengalir ke dalam ruang pompa. Pada saat yang
sama outlet valve akan menutup mencegah kembalinya aliran
bahan bakar. Bekerjanya turun dan naik dengan berulangulang
dan menyebabkan bahan bakar dikirim ke saringan
bahan bakar (Gambar 18).
Gambar 18. Pengisapan bahan bakar pada priming pump.
d) Pompa injeksi bahan bakar (fuel injection pump)
Pompa injeksi bahan bakar berfungsi untuk menekan bahan
bakar dengan tekanan yang cukup melalui kerja elemen
pompa. Seperti telah diuraikan di atas bahwa pompa injeksi
bahan bakar berupa pompa injeksi sebaris (gambar 19) dan
pompa injeksi distributor (gambar 20).
Gambar 19. Pompa injeksi sebaris tipe Bosch (PE)
35
Gambar 20. Pompa injeksi distributor tipe VE
(1) Pompa injeksi sebaris
Pompa injeksi sebaris banyak digunakan untuk mesin
diesel yang bertenaga besar, karena pompa injeksi ini
mempunyai kelebihan bahwa tiap elemen pompa melayani
satu silinder mesin.
Gambar 21 menunjukkan elemen pompa yang terdiri dari
plunyer (plunger) dan silinder (barrel) yang keduanya sangat
presisi, sehingga celah antara plunyer dan silindernya sekitar
1/1000 mm. Ketelitian ini cukup baik untuk menahan tekanan
tinggi saat injeksi, walaupun pada putaran rendah. Sebuah
alur diagonal yang disebut alur pengontrol (control groove),
adalah bagian dari plunyer yang dipotong pada bagian atas.
Alur ini berhubungan dengan bagian atas plunyer oleh sebuah
lubang.
Bahan bakar yang dikirimkan oleh pompa pemindah
masuk ke pompa injeksi dengan tekanan rendah. Plunyer
bergerak turun naik dengan putaran poros nok pompa injeksi.
Gerakan bolak-balik ini sesuai dengan cara kerja sebagai
berikut (Lihat gambar 22 dan gambar 23)
36
Gambar 21. Elemen pompa injeksi sebaris
Gambar 22. Proses kerja elemen pompa injeksi sebaris
Keterangan:
1= Plunyer 6= Sleeve pengontrol plunyer
2= Silinder (barrel) 7= Pinion pengontrol plunyer
3= Alur pengontrol 8= Plunger driving face
4= Lubang masuk elemen 9= Batang pengatur (control rack)
5= Katup penyalur
37
Gambar 23. Cara kerja elemen pompa injeksi sebaris
(a) Pada saat plunyer berada pada titik terbawah, bahan
bakar mengalir melalui lubang masuk (feed hole) pada
silinder ke ruang penyalur (delivery chamber) di atas
plunyer.
(b) Pada saat poros nok pada pompa injeksi berputar dan
menyentuh tappet roller maka plunyer bergerak ke atas.
Apabila permukaan atas plunyer bertemu dengan bibir
atas lubang masuk maka bahan bakar mulai tertekan dan
mengalir keluar pompa melalui pipa tekanan tinggi ke
injector.
(c) Plunyer tetap bergerak ke atas, tetapi pada saat bibir atas
control groove bertemu dengan bibir bawah lubang
masuk, maka penyaluran bahan bakar terhenti.
(d) Gerakan pluyer ke atas selanjutnya menyebabkan bahan
bakar yang tertinggal dalam ruang penyaluran masuk
melalui lubang pada permukaan atas plunyer dan mengalir
ke lubang masuk menuju ruang isap, sehingga tidak ada
lagi bahan bakar yang disalurkan.
38
Ukuran elemen pompa dapat dilihat pada gambar 24.
Tinggi pengangkatan nok adalah 8 mm, sehingga gerakan
plunyer naik turun juga sebesar 8 mm. Pada saat plunyer
pada posisi terbawah, plunyer menutup lubang masuk kirakira
1,1 mm dari besar diameter lubang masuk sebesar 3
mm. Dengan demikian plunyer baru akan menekan setelah
bergerak ke atas kira-kira 1,9 mm. Langkah ini disebut
“prestroke” dan pengaturannya dapat dilakukan dengan
menyetel baut pada tappet roller. Prestroke ini berkaitan
dengan saat injeksi (injection timing) bahan bakar keluar
pompa.
Gambar 24. Ukuran pada elemen pompa
Jumlah pengiriman bahan bakar dari pompa diatur oleh
governor sesuai dengan kebutuhan mesin. Governor mengatur
gerakan control rack yang berkaitan dengan control pinion
yang diikatkan pada control sleeve. Control sleeve ini berputar
bebas terhadap silinder. Bagian bawah plunyer (flens)
berkaitan dengan bagian bawah control sleeve. Jumlah bahan
bakar yang dikirim tergantung pada posisi plunyer dan
perubahan besarnya langkah efektif (Gambar 25). Langkah
efektif adalah langkah plunyer dimulai dari tertutupnya lubang
masuk oleh plunyer sampai control groove bertemu dengan
39
lubang masuk. Langkah efektif akan berubah sesuai dengan
posisi plunyer dan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan
sesuai dengan besarnya langkah efektif.
Gambar 25. Pengontrolan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan
Penekanan bahan bakar dari elemen pompa ke injector
diatur oleh katup penyalur (delivery valve). Katup penyalur ini
berfungsi ganda, yaitu selain mencegah bahan bakar dalam
pipa tekanan tinggi mengalir kembali ke plunyer juga
berfungsi mengisap bahan bakar dari ruang injector setelah
penyemprotan (Gambar 26).
Gambar 26. Katup penyalur
40
Dengan demikian katup penyalur pada pompa injeksi ini
menjamin injektor akan menutup dengan cepat pada saat
akhir injeksi, karena untuk mencegah bahan bakar menetes
yang dapat menyebabkan pembakaran awal (pre-ignition)
selama siklus pembakaran berikutnya.
Cara kerja katup penyalur dapat dilihat pada gambar 27.
(a) Pada saat awal penginjeksian, maka katup penyalur pada
posisi terangkat dari dudukan, dengan adanya tekanan
bahan bakar yang dipompa keluar dari pompa plunyer.
Hal ini memungkinkan bahan bakar dengan tekanan
dialirkan ke nosel injeksi.
(b) Bila tekanan penyaluran menurun dan pegas katup
penyalur menekan katup penyalur ke bawah, maka relief
valve akan menutup hubungan antara ruang penyalur
dengan pipa injeksi dan selanjutnya katup akan masuk ke
dalam sampai dudukan bersentuhan dengan body
mencegah menurunnya katup.
Gambar 27. Cara kerja katup penyalur
(2) Pompa injeksi distributor (VE)
Pompa injeksi distributor tipe VE ini dirancang dengan
plunyer tunggal untuk mengatur banyaknya bahan bakar yang
diinjeksikan dengan tepat dan membagi pemberian bahan
41
bakar ke setiap silinder mesin sesuai dengan urutan
penginjeksiannya.
Kelebihan pompa injeksi distributor tipe VE adalah:(a)
Kompak dan ringan, karena hanya 4,5 kg dan komponenkomponennya
sedikit jumlahnya, (b) mampu digunakan untuk
mesin diesel putaran tinggi, (c) seragam dalam jumlah
penginjeksian bahan bakar, (d) mudah dalam menghidupkan
mesin, (e) putaran idle yang stabil, (f) pelumasan dengan
bahan bakar sendiri, (g) mudah dalam penyetelan jumlah
bahan bakar yang diinjeksikan, (h) dilengkapi dngen solenoid
penghenti bahan bakar, (i) alat pengatur saat penginjeksian
yang bekerja secara hidrolik, dan (j) konstruksinya dirancang
sedemikian rupa sehingga kalau terjadi mesin berputar balik,
pompa tidak akan memberikan bahan bakar ke silinder.
Pompa injeksi distributor terdiri dari komponenkomponen:
(a) Pompa pemberi (feed pump) tipe sudu rotary yang
mengalirkan bahan bakar dari tangki ke dalam rumah
pompa injeksi,
(b) Katup pengatur tekanan bahan bakar di dalam feed pump
(pressure regulating valve)
(c) Katup pelimpah (overflow) untuk menyalurkan kelebihan
bahan bakar dari pompa ke tangki.
(d) Plat nok (cam plate) yang digerakkan oleh poros pompa
(drive shaft) yang menggerakkan plunyer dalam bentuk
berputar dan bolak-balik, karena plunyer bersatu dengan
cam plate
42
(e) Governor mekanik (mechanical governor) yang mengatur
jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang
bakar
(f) Pewaktu otomatis (automatic timer) yang mengatur saat
injeksi (injection timing) yang bekerja menurut tekanan
bahan bakar.
(g) Solenoid penutup bahan bakar (fuel cut-off solenoid) yang
digunakan untuk menutup aliran bahan bakar ke dalam
elemen pompa.
(i) Katup penyalur (delivery valve) berfungsi mencegah
bahan bakar dari dalam pipa tekanan tinggi masuk ke
dalam ruang elemen pompa dan mengisap sisa bahan
bakar dari injector pad akhir injeksi.
Komponen-komponen di atas dijelaskan sebagai berikut:
(a) Pompa pemberi (feed pump), Gambar 28
Pompa pemberi tipe rotari ini berada dalam pompa
injeksi yang menyalurkan bahan bakar dari tangki ke dalam
rumah pompa melalui sedimenter dan filter. Pompa pemberi
ini digerakkan oleh poros penggerak (drive shaft) dan selama
rotor berputar sudu pompa menekan keluar akibat gaya
sentrifugal. Rotor yang tidak sepusat (eksentrik) ini
menyebabkan bahan bakar akan terisap dan ditekan ke ruang
pompa.
Gambar 28. Cara kerja katup pemberi
43
(b) Katup pengatur tekanan bahan bakar (regulating valve)
Gambar 29. Katup pengatur tekanan bahan bakar
Besarnya tekanan bahan bakar pada pompa pemberi
ditentukan oleh tekanan pegas pada piston katup pengatur ini,
sedangkan piston tertekan oleh tekanan bahan bakar. Bila
kecepatan pompa bertambah maka bertambah pula tekanan
bahan bakarnya.
(c) Plunyer dan plat nok
Penyaluran bahan bakar pada pompa injeksi bahan bakar
distributor tipe VE melalui kerja komponen-komponen yang
dapat dilihat pada gambar 30 di bawah ini.
Gambar 30. Penyaluran bahan bakar pada pompa injeksi distributor tipe VE
44
Pertautan antara komponen-komponen utama pada
gambar 30 di atas dijelaskan sebagai berikut:
Pompa pemberi dan plat nok digerakkan oleh poros
penggerak (drive shaft). Plunyer dan plat nok ditekan oleh dua
buah pegas plunyer melawan roller. Plat nok mempunyai 4
buah muka nok (cam face), yang bila berputar muka nok
berada di atas roller dan plunyer bergerak maju, sehingga bila
plat nok dan plunyer berputar satu kali maka plunyer bergerak
4 kali maju mundur. Bahan bakar disalurkan ke tiap silinder
setiap ¼ putaran plunyer dan satu kali plunyer bergerak
bolak-balik. Plunyer mempunyai 4 alur pengisian (suction
groove) dan satu lubang distribusi (distribution port). Dengan
demikian pada silinder pompa terdapat 4 saluran distribusi
(distribution passage). Pengisapan terjadi bila salah satu alur
pengisian segaris dengan lubang isap, dan penyaluran bahan
bakar berlangsung bila lubang distribusi segaris dengan salah
satu dari 4 saluran distribusi.
Proses penyaluran bahan bakar terdiri dari pengisapan
(suction), penyaluran (delivery), akhir penekanan
(termination), dan penyamaan tekanan (pressure
equalization). Lihat gambar 31, 32, 33 dan 34.
Gambar 31. Pengisapan
45
Gambar 32. Penyaluran
Gambar 33. Akhir penekanan
Gambar 34. Penyamaan tekanan
46
Pada pompa injeksi distributor tipe VE ini dilengkapi
dengan penutup aliran bahan bakar ke pompa yang disebut
dengan fuel cut-off solenoid. Lihat gambar 35. Bila kunci
kontak diputar ke posisi ON maka katup solenoid akan tertarik
oleh kemagnitan sehingga saluran isap akan terbuka (gambar
35a). Bila kuncikontak diputar ke arah OFF maka kemagnitan
pada solenoid hilang dan katup solenoid akan menutup
saluran bahan bakar ke elemen pompa (Gambar 35 b).
(a) (b)
Gambar 35. Solenoid penutup bahan bakar
d) Injektor Bahan bakar (fuel injector)
Injektor bahan bakar kadangkala disebut juga
dengan pengabut atau ada yang menyebut dengan nosel
(nozzle). Disebut injector karena tugas dari komponen ini
adalah menginjeksi, dan disebut pengabut karena bahan
bakar keluar dari komponen ini dalam bentuk kabut,
sedangkan disebut nosel karena ujung komponen ini luas
penampangnya makin mengecil.
Secara garis besar nosel injeksi dapat diklasifikasikan
ke dalam 2 tipe yaitu:
(1) tipe lubang (hole type), dan
(2) tipe pin (pin type)
47
Tipe lubang terdapat dalam 2 jenis yaitu: (a) lubang satu
(single hole type) dan, dan (b) lubang banyak (multiple
hole type).
Tipe pin terdapat dalam 2 jenis yaitu: (a) tipe throttle
(throttle type), dan (b) tipe pintle (pintle type). Lihat
gambar 36.
Gambar 36. Konstruksi dan tipe nosel injeksi
Tipe nosel injeksi sangat menentukan bagi proses
pembakaran dan bentuk ruang bakar. Tipe lubang banyak
pada umumnya digunakan untuk mesin diesel dengan
injeksi langsung (direct injection), sedangkan tipe pin pada
umumnya digunakan untuk mesin diesel yang mempunyai
ruang bakar muka (precombustion chamber) dan ruang
bakar pusar (swirl chamber).
Kebanyakan nosel injeksi model pin adalah yang berjenis
throttle yang pada saat permulaan injeksi jumlah bahan
bakar yang ditekan ke dalam ruang bakar muka hanya
sedikit, tetapi pada akhir injeksi jumlah bahan bakar
semakin banyak. Kerja nosel injeksi tipe pin dapat dilihat
pada gambar 37.
48
Gambar 37. Kerja nosel injeksi tipe pin
Nosel injeksi ditempatkan pada mesin diesel dengan
pemegang nosel (nozzle holder) yang dapat menentukan
jumlah bahan bakar dan mengatur tekanan injeksi. Pada
gambar 38 ditunjukkan konstruksi nosel injeksi. Jarum
nosel ditahan oleh pena tekanan (pressure pin) dan pegas
tekan (pressure spring) yang dapat diatur oleh sekrup
penyetel (adjusting screw) sehingga membukanya nosel
injeksi dapat diatur.
Gambar 38. Konstruksi nosel injeksi
49
c. Rangkuman 2
1. Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel dibedakan
berdasarkan pompa injeksi yang digunakan, yaitu dengan
pompa injeksi sebaris dan dengan pompa injeksi distributor.
Persamaan kedua sistem injeksi tersebut adalah mempunyai
fungsi menyalurkan bahan bakar dari tangki ke dalam ruang
bakar mesin diesel. Perbedaannya utamanya adalah pada
sistem injeksi dengan pompa sebaris adalah tiab silinder
mesin dilayani oleh satu elemen pompa, sedangkan pada
sistem injeksi dengan pompa distributor semua silinder
mesin dilayani oleh satu elemen pompa.
2. Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel memiliki tugas
utama: (a) menepatkan saat penginjeksian bahan bahar ke
dalam ruang bakar mesin diesel, (b) mengatur jumlah bahan
bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar, (c)
mengendalikan kecepatan penyaluran bahan bakar ke dalam
silinder mesin, dan (d) mengabutkan bahan bakar yang
diinjeksikan ke dalam silinder mesin.
3. Komponen-komponen sistem injeksi bahan bakar secara
lengkap adalah: (a) tangki bahan bakar, (b) saringan/filter
bahan bakar dan sedimenter air, (c) pompa pemindah bahan
bakar, (d) pompa injeksi bahan bakar, (e) injector atau nosel
injeksi, (f) automatik timer, dan (g) governor. Masing-masing
komponen mempunyai fungsi sendiri dalam rangka
memenuhi fungsi utama sistem injeksi bahan bakar. Bila
salah satu komponen mempunyai masalah maka seluruh
sistem injeksi akan mengalami masalah pula.
4. Filter bahan bakar menjaga agar bahan bakar bersih dari
kotoran/deposit berbentuk padat, sedangan sedimenter
50
menampung air yang tercampur dalam bahan bakar. Bila
tidak ada filter yang baik dalam sistem injeksi bahan bakar
maka elemen pompa yang presisi akan macet. Demikian pula
tanpa sedimenter air dalam sistem injeksi bahan bakar maka
air dalam bahan bakar dapat menyebabkan korosi pada
elemen pompa yang dampaknya elemen pompa tidak dapat
berfungsi.
5. Pompa pemindah mempunyai fungsi memompa bahan bakar
dari tangki ke ruang pompa ijeksi. Di samping itu pompa
pemindah yang dilengkapi dengan pompa tangan berfungsi
menghilangkan udara (bleiding) dari sistem injeksi bahan
bakar khususnya yang berasal dari aliran tangki ke pompa
injeksi.
6. Elemen pompa injeksi pada kedua jenis pompa injeksi di
samping berbeda jumlahnya juga berbeda bentuknya.
Elemen pompa pada pompa injeksi sebaris mempunyai
lubang di dalamnya dan alur pengontrol, sedangkan elemen
pompa pada pompa injeksi distributor tipe VE mempunyai 4
alur pemasukan dan satu lubang distributor.
7. Baik pada pompa injeksi sebaris maupun pada pompa injeksi
distributor memiliki governor yang berfungsi sama tetapi
berbentuk berbeda. Begitu juga komponen untuk
memajukan saat injeksi yaitu automatik timer atau advancer
mempunyai bentuk mekanisme yang berbeda meskipun
mempunyai fungsi yang sama.
8. Injektor atau nosel injeksi mempunyai bentuk utama tipe
lubang dan tipe pin. Nosel injeksi tipe lubang mempunyai
jenis lubang satu dan lubang banyak. Nosel tipe pin
mempunyai jenis trotlle dan pintle/pasak. Tipe lubang
51
biasanya digunakan pada mesin diesel dengan injeksi
langsung. Tipe pin biasanya digunakan pada mesin diesel
dengan ruang bakar muka dan ruang bakar pusar.
d. Tugas 2
1. Bila terjadi jumlah bahan bakar yang diinjeksikan pada nosel
injeksi tidak sama, maka sebutkan penyebabnya baik pada
pompa injeksi sebaris maupun pompa injeksi distributor.
2. Gambarkan secara skematis komponen-komponen sistem
injeksi bahan bakar dalam suatu sistem injeksi bahan bakar
yang lengkap dengan saluran pengembalinya.
e. Tes Formatif 2
1. Terdapat 2 macam sistem injeksi bahan bahan bakar pada
mesin diesel. Jelaskan persamaan dan perbedaan utama
dari 2 macam sistem injeksi bahan bakar tersebut!
2. Jelaskan 4 fungsi pokok sistem injeksi bahan bakar mesin
diesel!
3. Sebutkan 4 komponen penting sistem injeksi bahan bakar
mesin diesel yang perlu diservis/dipelihara! Apakah
dampaknya bila hal itu tidak dilaksanakan?
4. Jelaskan 2 fungsi utama dari pompa pemindah (transfer
pump) dalam sistem injeksi bahan bakar mesin diesel?
5. Jelaskan urutan pemasangan fliter dan sedimenter air pada
sistem injeksi bahan bakar, manakah yang lebih dahulu
dipasang? Apakah dampak yang terjadi bila kedua
komponen tersebut tidak terpasang pada sistem injeksi
bahan bakar?
6. Fungsi utama pompa injeksi bahan bakar adalah
menepatkan saat injeksi dan mengatur jumlah bahan
52
bakar. Jelaskan kedua fungsi tersebut pada kedua jenis
pompa injeksi dan komponen apa saja yang mengatur!
7. Jelaskan perbedaan bentuk elemen pompa pada pompa
injeksi sebaris dan pompa injeksi distributor tipe VE !
8. Jelaskan jenis nosel injeksi pada sistem injeksi bahan bakar
mesin diesel dan digunakan pada mesin diesel jenis apa?
9. Jelaskan fungsi katup penyalur pada elemen pompa injeksi!
53
f. Kunci Jawaban Formatif 2
1. Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi sebaris
dan dengan pompa injeksi distributor. Persamaannya
adalah mempunyai fungsi menyalurkan bahan bakar dari
tangki ke dalam ruang bakar mesin diesel. Perbedaannya
adalah pada sistem injeksi dengan pompa sebaris adalah
tiap silinder mesin dilayani oleh satu elemen pompa,
sedangkan pada sistem injeksi dengan pompa distributor
semua silinder mesin dilayani oleh satu elemen pompa.
2. Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel memiliki tugas:
(a) menepatkan saat penginjeksian bahan bahar ke
dalam ruang bakar mesin diesel, (b) mengatur jumlah
bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar, (c)
mengendalikan kecepatan penyaluran bahan bakar ke
dalam silinder mesin, dan (d) mengabutkan bahan bakar
yang diinjeksikan ke dalam silinder mesin.
3. Saringan, pompa pemindah, pompa injeksi dan nosel
injeksi. Bila tidak diservis maka kemungkinan mesin tidak
hidup dengan baik dan komponen tersebut akan cepat
rusak
4. Pompa pemindah mempunyai fungsi memompa bahan
bakar dari tangki ke ruang pompa ijeksi. Di samping itu
pompa pemindah yang dilengkapi dengan pompa tangan
berfungsi menghilangkan udara (bleiding) dari sistem
injeksi bahan bakar khususnya yang berasal dari aliran
tangki ke pompa injeksi.
5. Filter bahan bakar menjaga agar bahan bakar bersih dari
kotoran/deposit berbentuk padat, sedangan sedimenter
menampung air yang tercampur dalam bahan bakar. Bila
54
tidak ada filter yang baik dalam sistem injeksi bahan
bakar maka elemen pompa yang presisi akan macet.
Demikian pula tanpa sedimenter air dalam sistem injeksi
bahan bakar maka air dalam bahan bakar dapat
menyebabkan korosi pada elemen pompa yang
dampaknya elemen pompa tidak dapat berfungsi.
Sedimenter mendahului filter.
6. Fungsi menepatkan agar injeksi tepat pada saat
diperlukan pembakaran dan jumlah juga akan
menentukan daya mesin saat diperlukan. Komponen
tersebut pada elemen pompa
7. Elemen pompa sebaris mempunyai bentuk yang
berlubang di tengah dan satu alur berbentuk helix,
sedangkan pada pompa distributor mempunyai bentuk
berlubang ditengah dengan empat alur lurus.
8. Injektor atau nosel injeksi mempunyai bentuk utama tipe
lubang dan tipe pin. Nosel injeksi tipe lubang
mempunyai jenis lubang satu dan lubang banyak. Nosel
tipe pin mempunyai jenis trotlle dan pintle/pasak. Tipe
lubang biasanya digunakan pada mesin diesel dengan
injeksi langsung. Tipe pin biasanya digunakan pada
mesin diesel dengan ruang bakar muka dan ruang bakar
pusar.
9. Katup penyalur ini berfungsi ganda, yaitu selain
mencegah bahan bakar dalam pipa tekanan tinggi
mengalir kembali ke plunyer juga berfungsi mengisap
bahan bakar dari ruang injector setelah penyemprotan
55
g. Lembar Kerja 2
1) Alat dan Bahan
a) 1 (satu) unit mesin diesel
b) 1 (satu) unit pompa injeksi sebaris
c) 1 (satu) unit pompa injeksi distributor
d) 1 (satu) unit nosel injeksi
e) 1 (satu) buah toolbox
f) Kunci sock dan kunci momen
g) Majun
2) Keselamatan Kerja
a) Gunakan peralatan servis yang sesuai dengan
fungsinya
b) Ikutilah instruksi dari guru ataupun langkah kerja
yang tertulis pada lembar kerja
c) Mintalah ijin kepada guru anda bila akan melakukan
pekerjaan yang tidak tertulis pada lembar kerja
d) Bila perlu mintalah buku manual mesin sesuai dengan
obyek yang digunakan
3) Langkah kerja
a) Persiapkan alat dan bahan praktik secara cermat,
efektif dan seefisien mungkin.
b) Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh
guru.
c) Lakukan diskusi tentang jenis sistem injeksi bahan
bakar pada mesin diesel!
d) Lakukan analisis tentang konstruksi dan cara kerja
komponen-komponen sistem injeksi bahan bakar!
e) Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktik
secara ringkas
56
f) Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang telah
digunakan ke tempat semula.
g) Bersihkan tempat kerja
4) Tugas
a) Buatlah laporan praktik secara ringkas dan jelas
b) Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda
peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan
belajar 2.
57
3. Kegiatan Belajar 3: Langkah Kerja Pemeliharaan/
Servis Sistem dan Komponen
Injeksi Bahan Bakar Diesel
a. Tujuan Kegiatan Belajar 3
1) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pada tangki bahan
bakar dengan cara yang sesuai standar yang ditentukan
2) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pompa pemindah
bahan bakar dengan cara yang sesuai standar yang
ditentukan
3) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pada saringan
bahan bakar dengan cara yang sesuai standar yang
ditentukan
4) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pada pompa
injeksi bahan bakar sesuai standar yang ditentukan
5) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pada nosel injeksi
dengan cara yang sesuai standar yang ditentukan
b. Uraian Materi 3
Yang dimaksud pemeliharaan/servis komponen sistem
injeksi bahan bakar motor diesel dalam hal ini adalah meliputi
pemeriksaan, atau pengujian atau perbaikan komponen
tersebut agar sesuai dengan spesifikasi dari pabrik atau paling
tidak mendekati spesifikasi tersebut. Pemeliharaan/servis
tersebut harus dilakukan secara berkala sesuai dengan tugas
komponen dalam sistem tersebut.
Langkah kerja yang dilakukan dalam pemeliharaan/servis
tersebut adalah meliputi: pembongkaran, pembersihan,
perbaikan, penyetelan, pemasangan dan perngujian.
58
1) Pemeliharaan/servis pada tangki bahan bakar
Tangki bahan bakar biasanya mengalami persoalan, yaitu
adanya kebocoran, pengembunan dan kotor. Untuk
membersihkan dan memperbaiki tangki bahan bakar harus hatihati
karena dapat membahayakan. Bila perbaikan tangki
dilakukan di dekat percikan api, rokok, atau nyala api dapat
mengakibatkan kebakaran.
Langkah pemeriksaan dan perbaikan pada tangki bahan
bakar adalah sebagai berikut:
a) Melepaskan tangki dari unit mesinnya
b) Membersihkan tangki dengan air panas atau uap
c) Mengeringkan tangki dengan udara kompresor
d) Memeriksa kebocoran tangki dengan:
(1) Cara basah
Cara basah ini dilakukan dengan menutup lubang
keluar tangki dan membersihkan permukaan sampai
kering. Selanjutnya tangki diletakkan ditempat yang
mudah dilihat seluruh permukaannya. Tangki diisi
dengan air sedangkan lubang masuk tangki
dihubungkan dengan udara yang bertekanan. Bila
terdapat kebocoran dapat dilihat adanya titik-titik air
pada permukaan tangki tersebut.
(2) Cara tekanan udara
Cara tekanan adalah dengan cara menutup lubang
masuk sedangkan lubang keluar dihubungkan dengan
udara bertekanan. Selanjutnya tangki direndam ke
dalam air. Bila terdapat kebocoran akan muncul
gelembung (bubbles).
59
e) Bila ada kebocoran dilanjutkan dengan pematrian
(soldering) atau pengelasan (welding)
2)Pemeliharaan/servis pada pompa pemindah bahan
bakar
Pemeliharaan/servis pada pompa pemindah/penyalur
bahan bakar (khususnya pada pompa injeksi sebaris) dilakukan
sebagai berikut:
a) Pengujian pompa pemindah
(1) Pengujian kapasitas hisap (dengan test bench)
(a) Mengoperasikan pompa pemindah ini dengan 60
langkah per menit. Pompa pemindah untuk pompa
injeksi sebaris harus sudah keluar dalam 25 langkah
(b) Mengatur penguji pompa penyalur pada 150 rpm,
dan menguji kapasitas hisap. Bahan bakar harus
keluar dalam 40 detik. Lihat gambar 39
Gambar 39. Pengujian kapasitas hisap pompa pemindah
(pada pompa injeksi sebaris)
(2) Pengujian kemampuan pompa
Menghubungkan pengukur tekanan pada bagian
tekanan pompa pemindah ini.
(a) Pompa diputar dengan 600 rpm. Tekanan keluar
lebih besar dari : 1,8 –2,2 kg/cm2
60
(b) Mengoperasikan pompa pemindah pada 1000 rpm
dan mengukur volume pengeluaran dari pompa
lebih besar dari 900 cc/menit
Gambar 40. Pengujian kemampuan pompa pemindah
(pada pompa injeksi sebaris)
b)Pembongkaran pompa pemindah
Bila pompa pemindah akan dipersihkan/diperbaiki maka
harus dibongkar sesuai dengan nomor urut pada bagian pompa
(Gambar 41). Bila batang pendorong (10) masih cocok dengan
rumah pompa penyalur, diusahakan jangan dibuka bila tidak
perlu. Bila dibuka perhatikan posisi pemasangannya (Gb. 42)
Gambar 41. Bagian-bagian pompa pemindah bahan bakar
61
Gambar 42. Posisi batang pendorong
c) Pemeriksaan pompa pemindah
(1) Memeriksa piston (no. 9), batang pendorong (no.10) dan
rumah pompa dari keausan atau kerusakan (Gb. 43).
Celah standar: Piston = 0,009-0,013 mm.
Batang pendorong= 0,003-0,006 mm
Gambar 43. Pemeriksaan piston pada rumah pompa
(2) Memeriksa keausan Check valve (no. 5) dan dudukan
katup (Gambar 44)
Gambar 44. Pemeriksaan Check Valve dan dudukan katupnya
62
(3) Memeriksa keausan tappet (no.7) dan roller (Gb. 45)
Gambar 45. Pemeriksaan tappet dan roller
(4) Memeriksa kemungkinan kerusakan pada katup
pengatur dan pegas piston (Gambar 46)
Gambar 46. Pemeriksaan katup pengatur dan pegas piston
(5) Pemeriksaan tekanan dan isapan pada pompa dengan
cara menutup lubang masuk pompa priming dengan
jari kuat-kuat (Gambar 47)
Gambar 47. Pemeriksaan tekanan dan isapan pompa
63
e) Perakitan Pompa Pemindah
Setelah pemeriksaan dan pembersihan komponen
pompa pemindah maka selanjutnya pompa dirakit
kembali sesuai dengan nomor urut pada gambar 48 di
bawah ini.
Gambar 48. Perakitan komponen pompa pemindah
3) Pemeliharan/servis Saringan Bahan Bakar
a) Pembongkaran saringan bahan bakar
Saringan bahan bakar pada mesin diesel secara ideal
tidak hanya satu buah , tetapi dapat berjumlah 3 buah
saringan, yairu: (1) saringan pada tangki atau pompa
pemindah (filter screen), untuk penahan partikel besar, (2)
saringan primer (primary filter), untuk penyaring partikel
kecil, dan (3) saringan sekunder (secondary filter), untuk
penyaring partikel halus.
Dalam hal ini akan ditunjukkan pembongkaran pada satu
buah saringan saja (Gambar 49). Pembongkaran dilakukan
menurut nomor urut yang tercantum pada gambar tersebut.
64
Adapun langkah pembongkaran dan pemeriksaan
sebagai berikut:
Keterangan: 1 = Baut tengah, paking dan bodi bawah
2 = Paking dan elemen
3 = Paking, plat dan pegas
4 = Paking
Gambar 49. Urutan pembongkaran saringan bahan bakar
(1) Mengendorkan baut pengikat dan melepaskan bodi
bagian bawah (Gambar 50)
Gambar 50. Mambuka bodi bawah saringan bahan bakar
65
(2) Membersihkan bagian-bagian yang dibongkar (Gb. 51)
Gambar 51. Membersihkan bagian saringan yang dibongkar
(3) Memeriksa lubang di bagian tengah dari kemungkinan
tersumbat, kotor atau bengkok (Gambar 52)
Gambar 52. Memeriksa lubang dari kotoran dan kebengkokan
b) Perakitan saringan bahan bakar
(1) Perakitan saringan bahan bakar dilakukan sesuai dengan
urutan nomor-nomor gambar 53 di bawah ini
(2) Memasang ring O (Gambar 54)
(3) Memasang bodi bawah dan mengencangkan bautnya
(Gambar 55)
(4) Setelah pemasangan selesai, memeriksa saringan dari
kebocoran (Gambar 56)
66
Keterangan: 1= Paking
2= Paking, plat dan pegas
3= Paking dan elemen
4= Baut pengikat, paking dan bodi bawah
Gambar 53. Urutan perakitan komponen saringan bahan bakar
Gambar 54. Memasang ring O
67
Gambar 55. Memasang bodi bawah dan mengencangkan bautnya
Gambar 56. Memeriksa saringan dari kebocora
4) Pemeliharan/servis Pompa Injeksi Bahan Bakar
a) Pembongkaran pompa injeksi
Pembongkaran pompa injeksi didasarkan pada hasil
kalibrasi pompa injeksi pada mesin penguji/kalibrasi (test
bench). Bila ternyata hasil kalibrasi menunjukkan adanya
kerusakan, pompa injeksi dibongkar untuk diperiksa
kerusakan tersebut. Pembongkaran bagian-bagian (part)
pompa injeksi diusahakan menggunakan alat servis khusus
(Special Service Tool/SST) yang telah tersedia sesuai dengan
tipe pompa injeksi yang tercantum pada buku petunjuk
servis dari pabrik (manual book). Pembongkaran meliputi:
(1) governor, (2) Control rack, (3) Poros nok, (4) Tappet
68
roller, (5) Pegas pengontrol, (6) Elemen pompa (plunyer dan
silinder/barrel), dan (7) Katup pemberi, dudukan katup
pemberi dan pemegangnya.
b) Pemeriksaan dan perbaikan
Sebelum melaksanakan perbaikan bahwa jangan
menyentuh permukaan dari plunyer dan katup pemberi.
Beberapa bagian pompa injeksi yang perlu diperiksa dan
diperbaiki di antaranya:
(1) Pemeriksaan Katup pemberi (delivery valve), sebagai
berikut:
(a) Menarik katup ke atas dan menutup lubang pada bagian
dasar dudukan katup dengan ibu jari. Bila katup
dilepaskan akan turun dengan cepat dan berhenti di
tempat ring pembebas menutup dudukan lubang katup
(Gambar 57). Bila tidak demikian berarti katup rusak dan
diganti satu set.
Gambar 57. Memeriksa kerapatan katup pemberi
(b) Menutup lubang dasar dudukan katup dengan ibu jari.
Selanjutnya katup dimasukkan ke dalam dudukan katup
69
dan ditekan dengan jari. Bila jari dilepaskan katup akan
naik ke atas pada posisi semula dan bila tidak demikian
berarti katup telah aus, dan harus diganti satu set
(Gambar 58)
Gambar 58. Memeriksa keausan katup pemberi
(c ) Menarik katup ke atas. Bila katup dilepaskan katup akan
turun akibat beratnya sendiri. Bila rusak harus diganti
satu set (Gambar 59)
Gambar 59. Memeriksa kerja katup pemberi
(2) Pemeriksaan Plunyer dan Silinder/Barrel, diperiksa
sebagai berikut:
70
(a) Memiringkan sedikit silinder dan mengeluarkan plunyer.
Bila plunyer dilepaskan akan turun pelan-pelan oleh beratnya
sendiri. Selanjutnya plunyer diputar dan melakukan
pemeriksaan seperti sebelumnya. Bila pada satu posisi tidak
baik, plunyer dan silinder diganti satu set (Gambar 60).
Gambar 60. Memeriksa presisi plunyer dan silinder
(3) Pemeriksaan Control rack dan pinion
Pemeriksaan ini dilakukan dengan permukaan gigi pinion
dari kerusakan atau keausan.
(4) Pemeriksaan tappet dan roller dan bushing dari
kemungkinan aus dan kerusakan. Diperiksa pula
kelonggarannya pada kondisi terpasang.
(5) Pemeriksaan poros nok dari keausan dan kerusakan.
Diperiksa pula perapat olinya, bantalannya.
5)Pemeliharaan/servis Nosel Injeksi (Injektor)
a) Pembongkaran nosel injeksi
(1) Nosel injeksi sebelum diservis lebih dahulu dilepaskan
dari unit sistem injeksi bahan bakar. Selanjutnya
nosel ditempatkan menurut urutan nomor silinder
mesin.
(2) Pengujian injeksi, dilakukan dengan memasang nosel
pada tester, dan mengeluarkan udara melalui
71
pemegangnya (Gb. 61). Selanjutnya tekanan injeksi
diuji dengan memompa tester sebanyak 50-60 kali
tiap menit (Gb. 62). Hasil tekanan selanjutnya dilihat
(Standar nosel baru lebih tinggi daripada nosel bekas).
Bila diperlukan penyetelan tekanan dapat dilakukan
pada mur penyetel (Gb. 63)
Gambar 61. Pembuangan udara pada tester nosel injeksi
Gambar 62. Menguji tekanan nosel injeksi pada tester
Gambar 63. Penyetelan tekanan pada nosel injeksi
72
(3) Kondisi semprotan bahan bakar dari nosel injeksi harus
berbentuk lingkaran (dengan kertas pada jarak 30 cm
dari ujung nosel) (Gambar 64). Pada nosel injeksi harus
tidak terdapat tetesan (Gambar 65).
Gambar 64. Bentuk semprotan pada nosel injeksi
Gambar 65. Bentuk semprotan bahan bakar yang baik
(4) Selanjutnya bila dilakukan pengujian kekedapan solar,
pada tekanan 100 kg/cm2 tidak terdapat kebocoran pada
dudukan katup nosel dan mur pengikatnya (Gambar 66)
(5) Pembongkaran bagian-bagian nosel injeksi
Gambar 66. Uji kekedapan solar
73
b)Pembersihan nosel
Mencuci dan membersihkan nosel dengan menggunakan
pembersih dan solar. Pembersih dapat berupa kayu atau
sikat tembaga yang lembut. Dudukan nosel dibersihkan
dengn skrap pembersih. Lubang bodi nosel injeksi
dibersihkan dengan jarum pebersih.
c) Menguji peluncuran jarum nosel (Gambar 67)
(1) Membersihkan bodi dan jarum dengan solar
(2) Menarik jarum nosel kira-kira sampai setengahnya di
dalam bodi dan melepaskan
(3) Jarum akan meluncur dengan lembut akibat beratnya
(4) Putar sedikit posisi jarum dan lakukan test yang sama
(5) Bila salah satu posisi jarum peluncuran tidak lembut,
nosel harus diganti dalam satu set
Gambar 67. Menguji peluncuran jarum nosel
d)Merakit nosel injeksi bahan bakar
Merakit bagian-bagian nosel injeksi dengan urutan
kebalikan dari pembongkaran
74
c. Rangkuman 3
1) Langkah kerja dalam pemeliharaan/servis sistem dan
komponen injeksi bahan bakar pada motor diesel adalah
meliputi pembongkaran, pembersihan, pemeriksaan,
perbaikan, perakitan/pemasangan, dan pengujian.
2) Pemeliharaan/servis pada tangki bahan bakar berupa
pemeriksaan dari kebocoran dan perbaikan.
3) Pemeliharaan/servis pada pompa pemindah/pemberi berupa
pengujian kapasitas dan tekanan pemompaan,
pembongkaran, pemeriksaan keausan, perbaikan, perakitan
dan pengujian kebocoran
4) Pemeliharaan/servis pada pompa injeksi didasarkan pada hasil
kalibrasi kemampuan pompa injeksi pada test bench.
Berdasarkan hasil kalibrasi dapat dilakukan penyetelan atau
perbaikan. Perbaikan pada pompa injeksi harus dilakukan
pembongkaran bagian (part) pompa injeksi tersebut dengan
menggunakan SST yang tersedia.
5) Pemeliharaan/servis pada elemen pompa meliputi
pemeriksaan kebersihan, presisi dan keausan pada plunyer
dan silindernya
6) Pemeliharaan/servis pada katup pemberi adalah juga pada
kebersihan, presisi dan keausan pada katup pemberi dan
dudukan katup pemberinya.
7) Pemeliharaan/servis bagian pompa yang lain juga dilakukan
pada tappet roller dengan lubang tappet tersebut, poros nok
dan dudukannya/bantalannya yang dilperiksa keausannya dan
kebengkokannya
75
8) Pemeliharaan/servis pada nosel injeksi meliputi kemampuan
tekanan injeksi, kebersihan, presisi dan keausan jarum nosel
terhadap dudukannya.
d. Tugas 3
1) Bukalah elemen pompa yaitu plunyer dan silinder suatu
pompa injeksi sebaris, selanjutnya buatlah kesimpulan tentang
kondisi elemen pompa dan tanda-tanda pemasangan pada
elemen pompa tersebut.
2) Ujilah tekanan injeksi pada nosel-nosel injeksi suatu unit
mesin diesel dan simpulkan kondisi tiap noselnya. Bila perlu
lakukaknlah penyetelan tekanan tersebut.
e. Tes Formatif 3
1) Suatu unit mesin diesel dengan pompa injeksi sebaris
mengalami kehabisan bahan bakar dan mati. Setelah diisi
bahan bakar mesin sulit dihidupkan. Lakukanlah suatu
pekerjaan sehingga mesin tersebut dapat hidup kembali.
2) Setelah dikalibrasi diperoleh suatu silinder menghasilkan
kapasitas bahan bakar paling sedikit dibandingkan silinder
lainnya. Lakukanlah perbaikan pada silinder tersebut
3) Diperoleh hasil uji tekanan injeksi pada nosel-nosel injeksi
suatu unit mesin diesel 4 silinder tidak sama. Lakukanlah
penyetelan pada nosel tersebut agar tekanan injeksi sama
76
f. Kunci Jawaban Formatif 3
1) Melakukan pembleidingan (mengeluarkan udara dari sistem
injeksi bahan bakar) dengan memanfaatkan pompa priming
2) Bila dilakukan penyetelan tetap tidak menghasilkan kapasitas
injeksi yang sama maka dlakukan pembongkaran,
pemeriksaan, perbaikan/penggantian unit elemen pompa yang
bersangkutan dan perakitan serta pengujian kembali.
3) Masing-masing nosel injeksi diuji dengan tester, dibongkar,
dibersihkan, ditambah/dikurangi ring/perapat/shim dan diuji
kembali tekanan injeksinya sampai terjadi kesamaan tekanan.
77
g. Lembar Kerja 3
1) Alat dan Bahan
a) (satu) unit mesin diesel
b) 1 (satu) unit pompa injeksi sebaris
c) 4 (empat) buah nosel injeksi
d) 1 (satu) buah toolbox
e) Kunci sock dan kunci momen
f) Majun
2) Keselamatan Kerja
a) Gunakan peralatan servis yang sesuai dengan fungsinya
b) Ikutilah instruksi dari guru ataupun langkah kerja yang
tertulis pada lembar kerja
c) Mintalah ijin kepada guru anda bila akan melakukan
pekerjaan yang tidak tertulis pada lembar kerja
d) Bila perlu mintalah buku manual mesin sesuai dengan
obyek yang digunakan
3) Langkah kerja
a) Persiapkan alat dan bahan praktik secara cermat, efektif
dan seefisien mungkin.
b) Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh guru .
c) Lakukan langkah kerja pemeliharaan/ servis sistem injeksi
bahan bakar diesel!
d) Lakukan langkah kerja pemeliharaan/ servis pada
komponen-komponen injeksi bahan bakar diesel!
e) Buatlah catatan penting kegiatan praktik secara ringkas.
f) Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang telah
digunakan ke tempat semula, serta bersihkan tempat kerja.
78
4) Tugas
a) Buatlah laporan praktik secara ringkas dan jelas !
b) Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh
setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar 3!
79
BAB III
EVALUASI
A. Pertanyaan
1. Jelaskan dengan singkat perbedaan proses pembakaran pada mesin
diesel dengan mesin bensin!
2. Jelaskan dengan singkat hubungan antara bentuk ruang bakar
dengan sistem injeksi yang digunakan pada suatu mesin diesel!
2. Jelaskan perbedaan sistem injeksi dengan pompa injeksi sebaris
dan pompa injeksi distributor!
3. Apa fungsi sedimenter pada sistem injeksi bahan bakar mesin
diesel?
4. Apakah tidak cukup dengan saringan bahan bakar?
5. Jelaskan fungsi pompa pemindah dalam sistem injeksi bahan bakar!
6. Mengapa elemen pompa injeksi dipandang paling penting dalam
pompa injeksi ?
7. Jelaskan jenis dan fungsi nosel injeksi yang dikenal dalam sistem
injeksi bahan bakar!
8. Lakukanlah penyetelan tekanan injeksi pada nosel-nosel suatu unit
mesin diesel agar tekanannya sesuai dengan spesifikasi
9. Pada sebuah mesin diesel 4 silinder dengan pompa injeksi sebaris
yang sedang berputar, bocorkanlah sistem injeksinya dengan
mengendorkan salah satu sambungannya sampai mesin tersebut
mati. Lakukanlah pembleidingan sampai mesin hidup!
10.Buatlah percobaan dengan menyetel tekanan injeksi di atas atau di
bawah tekanan injeksi spesifikasi. Apa yang terjadi pada
kemudahan mesin hidup dan pemakaian bahan bakar serta warna
asap gas buangnya.
80
B. Kunci Jawaban
1. Proses pembakaran pada mesin bensin segera terjadi dan selesai
setelah akhir kompresi dan saat busi memercikkan bunga api,
sedangkan pada mesin diesel pembakaran dengan suhu kompresi
yang pada akhir kompresi baru dimulai persiapan
pembakaran/penundaan penyalaan, selanjutnya pembakaran
dilaksanakan secara bertahap yang memerlukan penyapuran bahan
bakar dengan udara cukup homogen
2. Pada mesin diesel dengan ruang bakar biasa/langsung banyak
menggunakan sistem injeksi langsung dengan nosel bentuk lubang,
sedangkan mesin diesel dengan ruang bakar tambahan banyak
menggunakan nosel tipe pin
3. Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi sebaris melayani
tiap silinder mesin dengan satu elemen pompa secara pribadi,
sedangkan pada sistem injeksi dengan pompa injeksi distributor,
satu elemen pompa melayani semua silinder mesin diesel.
4. Sedimenter berfungsi untuk memisahkan air yang tercampur
dengan bahan bakarnya. Saringan bahan bakar berfungsi
memisahkan kotoran/partikel padat dari bahan bakarnya
5. Pompa pemindah berfungsi untuk: (a) memindahkan bahan bakar
dari tangki ke dalam ruang pompa injeksi, dan (b) mengeluarkan
udara yang terlanjur masuk ke dalam sistem injeksi bahan bakar
6. Elemen pompa paling penting karena menentukan tekanan injeksi
dan kapasitas injeksi/jumlah bahan bakar
7. Jenis nosel adalah tipe lubang dan tipe pin. Tipe lubang terbagi
menjadi jenis lubang tunggal dan lubang banyak, dan tipe pin
terbagi menjadi jenis pasak dan throttle. Tipe lubang untuk sistem
injeksi langsung dan tipe pin untuk injeksi tidak langsung dengan
ruang bakar tambahan.
81
8. Penyetelan tekanan injeksi pada nosel-nosel suatu unit mesin diesel
agar tekanannya sesuai dengan spesifikasi
9. Pembleidingan pada unit mesin diesel sampai mesin hidup.
10.Percobaan dengan tekanan injeksi lebih besar dripada spesifikasi.
Kesimpulan seharusnya mesin tetap dapat hidup, bahan bakar
boros dan gas buangnya berwarna hitam/lebih hitam
C. Kriteria Kelulusan
Kriteria Skor
(1-10)
Bobot Nilai Keterangan
Kogninif (soal no 1 s.d. 10) 5
Ketepatan langkah kerja 1
Hasil praktik 2
Ketepatan waktu 1
Keselamatan kerja 1
Nilai Akhir
Syarat lulus
nilai minimal
56
Keterangan :
Tidak = 0 (nol) (tidak lulus)
Ya = 70 s.d. 100 (lulus)
Kategori kelulusan :
70 s.d. 79 : memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan
80 s.d. 89 : memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan
90 s.d. 100 : di atas minimal tanpa bimbingan
82
BAB IV
PENUTUP
Siswa yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat
melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya bila siswa dinyatakan tidak
lulus, maka siswa tersebut harus mengulang modul ini dan tidak
diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.
83
DAFTAR PUSTAKA
Anonim (t.th.). Pedoman Reparasi Mesin 2 D. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor.
Anonim. (1995). New Step 1 Training Manual. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor.
Anonim. (1995). Materi Pelajaran Engine Group Step 2. Jakarta: PT.
Toyota Astra Motor.
Toboldt, William K. (1977). Diesel Fundamentals, Service, Repair.
South Holland: The Goodheart-Willcox Company, Inc.
SISTEM BAHAN BAKAR DIESEL
BAB I
PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI
Modul Pemeliharaan/servis Sistem Bahan Bakar Diesel membahas
tentang sistem bahan bakar diesel beserta cara pemeliharaan/servisnya.
Tujuan dari modul ini agar mahasiswa memiliki subkompetensi yaitu
memelihara/servis sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel.
Materi modul yang akan dipelajari meliputi : (1) prinsip kerja sistem injeksi
bahan bakar diesel, (2) sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel
yang perlu dipelihara/diservis, dan (3) langkah kerja pemeliharaan/servis
sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel.
Modul ini terdiri dari atas 3 kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1
membahas tentang: prinsip kerja sistem injeksi bahan bakar diesel.
Kegiatan belajar 2 membahas tentang sistem dan komponen injeksi bahan
bakar diesel, yaitu meliputi saringan bahan bakar, pompa injeksi,
injector/pengabut, automatic timer, dan governor. Kegiatan belajar 3
membahas langkah kerja pemeliharaan/servis sistem dan komponen
injeksi bahan bakar diesel.
Setelah mempelajari modul ini diharapkan dapat memahami prinsip
kerja, sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel serta dapat
melakukan pemeliharaan/servis sistem dan komponen injeksi bahan bakar
diesel tersebut.
B. PRASYARAT
Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan
modul-modul yang harus dipelajari lebih awal sesuai dengan peta
kedudukan modul.
2
C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Petunjuk Bagi Peserta Diklat
Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam
mempelajari materi modul ini, langkah-langkah yang perlu
dilaksanakan antara lain:
a. Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian materi
yang ada pada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada
materi yang kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru yang
mengampu kegiatan belajar tersebut.
b. Kerjakanlah setiap tugas formatif (soal latihan) untuk
mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki
terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap
kegiatanbelajar.
c. Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik,
perhatikanlah hal-hal berikut ini:
1) Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang
diberikan
2) Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan
Baik
3) Sebelum melaksanakan praktik, tentukan alat dan bahan
yang diperlukan secara cermat
4) Gunakan alat sesuai prosedur yang pemakaian yang benar
5) Untuk melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas,
harus meminta ijin guru lebih dahulu
6) Setelah selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat
semula
d. Jika belum menguasai tingkat materi yang diharapkan, ulangi
lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada
3
guru yang mengampu kegiatan pembelajaran yang
bersangkutan.
2. Petunjuk Bagi Guru
Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:
a. Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar
b. Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang
dijelaskan dalam tahap belajar
c. Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan
menjawab pertamnyaan siswqa mengenai proses belajarnya.
d. Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber
tambahan lain yang diperlukan untuk belajrar
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan
D. TUJUAN AKHIR
Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam
modul ini siswa diharapkan:
1. Memahami prinsip kerja sistem prinsip kerja sistem injeksi bahan
bakar diesel
2. Memahami sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel yang
perlu dipelihara/diservis.
3. Memahami langkah kerja pemeliharaan/servis sistem dan
komponen injeksi bahan bakar diesel.
E. KOMPETENSI
Modul OPKR-20-017 B ini membentuk subkompetensi memelihara/servis sistem dan komponen injeksi bahan bakar
diesel.
Sub Materi pokok pemelajaran
Kompetensi
Kriteria kinerja Lingkup Belajar
Sikap Pengetahuan Keterampilan
Memelihara/
servis sistem dan
komponen ijeksi bahan
bakar diesel
1.Pemeliharaan/servis sistem dan
komponen injeksi bahan bakar diesel
dilaksanakan tanpa menyebabkan
kerusakan terhadap komponen atau
sistem lainnya
2.Pemeliharaan/servis pompa/komponen
injeksi bahan bakar diesel dilaksnakan
berdsarkan spesifikasi pabrik
3.Pompa/komponen injeksi bahan bakar
diesel diuji dengan persyaratan kerja
4.Kegiatan pemeliharaan/servis sistem dan
komponen dilaksanakan berdasarkan SOP
1. Prinsip kerja sistem
injeksi bahan bakar
diesel
2. Sistem dan komponen
injeksi yang perlu
dipelihara/servis
3. Langkah kerja
pemeliharaan/servis
sistem dan komponen
injeksi bahan bakar
diesel
1. Mengikuti
prosedur
pemeliharan/servis
komponen /sistem
bahan bakar diesel
dilakukan sesuai
dengan SOP
2. Memper-hatikan
factor-faktor
keselamatan kerja
dan lingkungan
1. Memahami
prosedur
pemeliharaan/servis
(termasuk
pengeluaran)
2. Prinsip kerja sistem
injeksi bahan bakar
diesel dan komponen
3. Persyarata
keamanan
peralatan/bahan
4. Prosedur pengujian
5.Persyaratan
keselamatan kerja
Melaksanakan
pemeliharaan/servis
komponen/sistem
bahan bakar diesel
secara berkala
4
5
F. CEK KEMAMPUAN
Sebelum mempelajari modul OPKR 20-017 B, isilah dengan tanda cek (v) kemampuan yang telah dimiliki siswa
dengan sikap jujur dan dapat dipetanggungjawabkan.
Sub Jawaban
Kompetensi
Pernyataan
Ya Tidak
Bila jawaban ‘ya”
kerjakan
1. Saya mampu menjelaskan prinsip kerja sistem injeksi bahan
bakar diesel
Soal tes formatif 1
2. Saya dapat menjelaskan sistem dan komponen injeksi yang
perlu dipelihara/servis
Soal tes formatif 2
Memelihara/
servis sistem dan
komponen ijeksi bahan
bakar diesel
3. Saya mampu melakukan langkah kerja pemeliharaan/servis
sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel
Soal tes formatif 3
Apabila siswa menjawab Tidak, pelajari modul ini.
5
6
BAB II
PEMELAJARAN
A. Rencana Belajar Siswa
Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi table di
bawah ini dan mintalah bukti belajar kepada guru jika telah selesai
mempelajari setiap kegiatan belajar.
Jenis Kegiatan Tanggal Waktu
Tempat
Belajar
Alasan
Perubahan
Paraf
Guru
1. Prinsip kerja sistem injeksi
bahan bakar diesel
2. Sistem dan komponen
injeksi yang perlu
dipelihara/ servis
3. Langkah kerja
pemeliharaan/ servis
sistem dan komponen
injeksi bahan bakar diesel
B. Kegiatan Belajar
1. Kegiatan Belajar 1: Prinsip Kerja Sistem Injeksi Bahan
Bakar Diesel
a. Tujuan Kegiatan Belajar 1
1) Siswa dapat menjelaskan prinsip kerja mesin diesel
2) Siswa dapat menjelaskan perbedaan utama mesin diesel
dan mesin bensin
3) Siswa dapat menjelaskan proses pembakaran mesin diesel
4) Siswa dapat menjelaskan bentuk ruang bakar mesin diesel
5) Siswa dapat menjelaskan penyaluran bahan bakar pada
sistem bahan bakar mesin diesel
7
b. Uraian Materi 1
1) Prinsip Kerja Mesin Diesel
Mesin/motor diesel (diesel engine) merupakan salah satu
bentuk motor pembakaran dalam (internal combustion engine) di
samping motor bensin dan turbin gas. Motor diesel disebut
dengan motor penyalaan kompresi (compression ignition engine)
karena penyalaan bahan bakarnya diakibatkan oleh suhu
kompresi udara dalam ruang bakar. Dilain pihak motor bensin
disebut motor penyalaan busi (spark ignition engine) karena
penyalaan bahan bakar diakibatkan oleh percikan bunga api
listrik dari busi.
Cara pembakaran dan pengatomisasian (atomizing) bahan
bakar pada motor diesel tidak sama dengan motor bensin. Pada
motor bensin campuran bahan bakar dan udara melelui
karburator dimasukkan ke dalam silinder dan dibakar oleh nyala
listrik dari busi. Pada motor diesel yang diisap oleh torak dan
dimasukkan ke dalam ruang bakar hanya udara, yang
selanjutnya udara tersebut dikompresikan sampai mencapai suhu
dan tekanan yang tinggi. Beberapa saat sebelum torak mencapai
titik mati atas (TMA) bahan bakar solar diinjeksikan ke dalam
ruang bakar. Dengan suhu dan tekanan udara dalam silinder
yang cukup tinggi maka partikel-partikel bahan bakar akan
menyala dengan sendirinya sehingga membentuk proses
pembakaran. Agar bahan bakar solar dapat terbakar sendiri,
maka diperlukan rasio kompresi 15-22 dan suhu udara kompresi
kira-kira 600ºC.
Meskipun untuk motor diesel tidak diperlukan sistem
pengapian seperti halnya pada motor bensin, namun dalam
motor diesel diperlukan sistem injeksi bahan bakar yang berupa
8
pompa injeksi (injection pump) dan pengabut (injector) serta
perlengkapan bantu lain. Bahan bakar yang disemprotkan harus
mempunyai sifat dapat terbakar sendiri (self ignition).
Penampang mesin diesel secara sederhana dapat dilihat pada
gambar 1.
Gambar 1. Skema motor diesel
2) Perbedaan utama mesin diesel dan mesin bensin
Motor diesel dan motor bensin mempunyai beberapa
perbedaan utama, bila ditinjau dari beberapa item di bawah ini,
yaitu (lihat Tabel 1)
Tabel 1. Perbedaan utama motor diesel dan motor bensin
Item Motor Diesel Motor Bensin
Siklus Pembakaran Siklus Sabathe Siklus Otto
Rasio kompresi 15-22 6-12
Ruang bakar Rumit Sederhana
Percampuran
bahan bakar
Diinjeksikan pada
akhir langkah
Dicampur dalam
karburator
Metode penyalaan Terbakar sendiri Percikan busi
Bahan bakar Solar Bensin
Getaran suara Besar Kecil
Efisiensi panas (%) 30-40 22-30
9
Motor diesel juga mempunyai keuntungan dibanding motor
bensin, yaitu:
a) Pemakaian bahan bakar lebih hemat, karena efisiensi panas
lebih baik, biaya operasi lebih hemat karena solar lebih murah.
b) Daya tahan lebih lama dan gangguan lebih sedikit, karena
tidak menggunakan sistem pengapian
c) Jenis bahan bakar yang digunakan lebih banyak
d) Operasi lebih mudah dan cocok untuk kendaraan besar,
karena variasi momen yang terjadi pada perubahan tingkat
kecepatan lebih kecil.
Di samping itu motor diesel memiliki kerugian, yaitu:
a) Suara dan getaran yang timbul lebih besar (hampir 2 kali)
daripada motor bensin. Hal ini disebabkan tekanan yang
sangat tinggi (hampir 60 kg/cm2) pada saat pembakaran
b) Bobot per satuan daya dan biaya produksi lebih besar, karena
bahan dan konstruksi lebih rumit untuk rasio kompresi yang
tinggi
c) Pembuatan pompa injeksi lebih teliti sehingga perawatan lebih
sulit
d) Memerlukan kapasitas baterai dan motor starter yang besar
agar dapat memutar poros engkol dengan kompresi yang
tinggi.
Secara singkat prinsip kerja motor diesel 4 tak adalah sebagai
berikut:
a) Langkah isap, yaitu waktu torak bergerak dari TMA ke TMB.
Udara diisap melalui katup isap sedangkan katup buang
tertutup.
10
b) Langkah kompresi, yaitu ketika torak bergerak dari TMB ke
TMA dengan memampatkan udara yang diisap, karena kedua
katup isap dan katup buang tertutup, sehingga tekanan dan
suhu udara dalam silinder tersebut akan naik.
c) Langkah usaha, ketika katup isap dan katup buang masih
tertutup, partikel bahan bakar yang disemprotkan oleh
pengabut bercampur dengan udara bertekanan dan suhu
tinggi, sehingga terjadilah pembakaran. Pada langkah ini torak
mulai bergerak dari TMA ke TMB karena pembakaran
berlangsung bertahap
d) Langkah buang, ketika torak bergerak terus dari TMA ke TMB
dengan katup isap tertutup dan katup buang terbuka,
sehingga gas bekas pembakaran terdorong keluar.
Gambar 2. Prinsip kerja motor diesel 4 tak
3) Proses pembakaran mesin diesel
Proses pembakaran dibagi menjadi 4 periode:
a) Periode 1: Waktu pembakaran tertunda (ignition delay) (A -B)
Pada periode ini disebut fase persiapan pembakaran, karena
partikel-partikel bahan bakar yang diinjeksikan bercampur
dengan udara di dalam silinder agar mudah terbakar.
11
b) Periode 2: Perambatan api (B-C)
Pada periode 2 ini campuran bahan bakar dan udara tersebut
akan terbakar di beberapa tempat. Nyala api akan merambat
dengan kecepatan tinggi sehingga seolah-olah campuran
terbakar sekaligus, sehingga menyebabkan tekanan dalam
silinder naik. Periode ini sering disebut periode ini sering
disebut pembakaran letup.
c) Periode 3: Pembakaran langsung (C-D)
Akibat nyala api dalam silinder, maka bahan bakar yang
diinjeksikan langsung terbakar. Pembakaran langsung ini
dapat dikontrol dari jumlah bahan bakar yang diinjeksikan,
sehingga periode ini sering disebut periode pembakaran
dikontrol.
d) Periode 4: Pembakaran lanjut (D-E)
Injeksi berakhir di titik D, tetapi bahan bakar belum terbakar
semua. Jadi walaupun injeksi telah berakhir, pembakaran
masih tetap berlangsung. Bila pembakaran lanjut terlalu lama,
temperatur gas buang akan tinggi menyebabkan efisiensi
panas turun.
Gambar 3. Proses pembakaran motor diesel
12
4) Bentuk ruang bakar mesin diesel
Ruang bakar pada motor diesel lebih rumit dibanding
ruang bakar motor bensin. Bentuk ruang bakar pada motor
diesel sangat menentukan kemampuan mesin, sebab ruang
bakar tersebut direncanakan dengan tujuan agar campuran
bahan udara dan bahan bakar menjadi homogen dan mudah
terbakar sekaligus.
Ruang bakar motor diesel digolongkan menjadi 2 tipe,
yaitu:
a) Tipe ruang bakar langsung (direct combustion chamber)
b) Tipe ruang bakar tambahan (auxiliary combustion chamber)
Tipe ruang bakar tambahan terdapat dalm 3 macam, yaitu:
1). Ruang bakar kamar muka (precombustion chamber)
2). Ruang bakar pusar (swirl chamber)
3). Ruang bakar air cell (Air cell combustion chamber)
Ruang bakar langsung dapat dilihat pada gambar 4.
Gambar 4. Ruang bakar langsung
Keuntungan ruang bakar langsung adalah: (1) efisiensi
panas lebih tingi, pemakaian bahan bakar lebih hemat karena
bentuk ruang bakar yang sederhana, (2) start dapat mudah
dilakukan pada waktu mesin dingin tanpa menggunakan alat
13
bantu start busi pijar (glow plug), dan (3) cocok untuk mesinmesin
besar karena konstruksi kepala silinder sederhana.
Kerugian ruang bakar langsung adalah: (1) memerlukan
kualitas bahan bakar yang baik, (2) memerlukan tekanan injeksi
yang lebih tinggi, (3) sering terjadi gangguan nozzle, umur
nozzle lebih pendek karena menggunakan nozzle lubang banyak
(multiple hole nozzle), dan (4) dibandingkan dengan jenis ruang
bakar tambahan, turbulensi lebih lemah, jadi sukar untuk
kecepatan tinggi.
b) Ruang bakar tambahan.
1) Ruang bakar muka.
Dalam ruang bakar ini bahan bakar solar disemprotkan ke
dalam ruang bakar muka oleh nozzle injeksi. Sebagian
bahan bakr yang tidak terbakar di ruang bakar muka
didorong melalui saluran kecil antara ruang bakar muka dan
ruang bakar utama. Percampuran yang baik dan terbakar
seluruhnya berada pada ruang bakar utama. Lihat gb. 5.
Gambar 5. Ruang bakar kamar muka
Keuntungan ruang bakar muka adalah: (1) jenis
bahan bakar yang digunakan lebih luas, karena
turbulensinya sangat baik untuk pengabutan, (2) perawatan
14
pompa injeksi lebih mudah karena tekanan injeksi lebih
rendah dan tidak terlalu peka terhadap perubahan saat
injeksi, dan (3) detonasi berkurang serta mesin bekerja
lebih baik karena menggunakan nozzle lubang banyak.
Kerugian ruang bakar muka adalah: (1) biaya
pembuatan lebih mahal sebab perencanaan kepala silinder
lebih rumit, (2) memerlukan motor starter yang besar dan
kemampuan start lebih jelek sehingga harus menggunakan
alat pemanas, dan (3) pemakaian bahan bakar boros.
2) Ruang bakar pusar.
Ruang bakar model pusar ini berbentuk bundar. Ketika
torak memampatkan udara, sebagian udara akan masuk ke
dalam ruang bakar pusar dan membuat aliran turbulensi.
Bahan bakar diinjeksikan ke dalam udara turbulensi dan
terbakar di dalam ruang bakar pusar, tetapi sebagian bahan
bakar yang belum terbakar masuk ke ruang bakar utama
melalui saluran tersebut. Selanjutnya capuran tersebut akan
terbakar di tuang bakar utama. Lihat gambar 6.
Gambar 6. Ruang bakar pusar
Keuntungan ruang bakar pusar adalah: (1) dapat
menghasilkan putaran tinggi, karena turbulensi yang sangat
baik pada saat kompresi, (2) Gangguan pada nozzle
15
berkurang karena menggunakan nozzle tipe pin, dan (3)
putaran mesin lebih tinggi dan operasinya lebih lembut,
menyebabkan jenis ini cocok untuk mobil.
Kerugian ruang bakar pusar adalah: (1) konstruksi
kepala silinder rumit, (2) efisiensi panas dan pemakaian
bahan bakar lebih boros dibandingkan dengan tipe ruang
bakar langsung, (3) penggunaan alat pemanas tidak begitu
efektif, sebab ruang bakar sangat luas, dan (4) detonasi
lebih besar pada kecepatan rendah.
3) Ruang bakar Air Cell
Pada ruang bakar air cell ini bahan bakar disemprotkan
langsung ke dalam air cell dan terbakar langsung di ruang
bakar utama. Sebagian bahan bakar yang yang
disemprotkan ke air cell dan terbakar, mengakibatkan
tekanan dalam air cell bertambah. Bila torak bergerak ke
TMB, udara dalam air cell keluar ke ruang bakar utama
membantu menyempurnakan pembakaran. Pada
ruangbakar ini tidak memerlukan pemanas.
Gambar 7. Ruang bakar Air Cell
Keuntungan ruang bakar air cell adalah: (1) mesin
bekerja lebih lembut karena pembakaran terjadi secara
berangsur-angsur, (2) tidak memerlukan pemanas, (3)
16
gangguan nozzle berkurang karena menggunakan nozzle
tipe pin.
Kerugian ruang bakar air cell adalah: (1) saat injeksi
bahan bakar sangat mempengaruhi kemampuan mesin, (2)
suhu gas buang sangat tinggi karena pembakaran lanjut
sangat panjang, dan (3) bahan bakar boros.
4) Penyaluran bahan bakar pada mesin diesel
Berdasarkan uraian tentang prinsip kerja mesin diesel
yang membakar bahan bakar berdasarkan suhu kompresi
secara bertahap, maka penyaluran bahan bakar pada mesin
diesel harus memenuhi syarat:
(a) Mesin diesel harus mempunyai perbandingan kompresi
yang tinggi agar mempunyai suhu dan tekanan kompresi
yang tinggi sehingga mampu membakar bahan bakar
yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar. Bahan bakar
mesin diesel mempunyai sifat titik nyalanya tinggi
sehingga harus dibuat menjadi partikel atau butiran yang
lebih kecil.
(b) Agar bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam silinder
mesin diesel dapat mudah terbakar maka diperlukan ruang
bakar yang dapat memungkinkan bahan bakar dan udara
dapat bercampur secara homogen dalam bentuk partikel
yang lebih kecil-kecil dari sebelumnya.
(c) Di samping mesin diesel harus memiliki ruang bakar yang
memungkinkan atomisasi bahan bakar, maka bahan bakar
yang disalurkan ke dalam ruang bakar harus dengan
injeksi. Dengan injeksi maka bahan bakar akan berbentuk
partikel-partikel atau butiran-butiran yang kecil. Oleh
karena itu dalam mesin diesel diperlukan peralatan untuk
17
injeksi yaitu pompa injeksi dan injector (pengabut). Pompa
injeksi berfungsi menekan bahan bakar dari tangki ke
injector, sedangkan injector berfungsi menyemprotkan
bahan bakar tepat waktu ketika diperlukan pada akhir
langkah kompresi.
(d) Berdasarkan 3 hal di atas maka pada mesin diesel
diperlukan suatu sistem bahan bakar yang dapat
memenuhi syarat agar terjadi pembakaran yang baik.
Sistem bahan bakar yang baik harus terdiri dari
komponen-komponen yang baik pula.
c. Rangkuman 1
1. Motor diesel disebut dengan motor penyalaan kompresi
(compression ignition engine) karena penyalaan bahan
bakarnya diakibatkan oleh suhu dan tekanan kompresi
udara dalam ruang bakar.
2. Perbedaan motor diesel dan motor bensin dapat ditinjau
dari: siklus pembakaran, rasio kompresi, ruang bakar,
penyampuran bahan bakar, metode penyalaan, jenis bahan
bakar, getaran, suara, dan efisiensi panas.
3. Proses pembakaran motor diesel berlangsung dalam 4
tahap, yaitu: pembakaran tertunda, perambatan,
pembakaran langsung, dan pembakaran lanjut
4. Ruang bakar mesin diesel dapat berupa ruang bakar
langsung dan ruang bakar tambahan yang berbentuk:
ruang bakar muka, ruang bakar pusar, dan ruang bakar air
cell.
5. Penyaluran bahan bakar pada mesin diesel harus
memenuhi syarat syarat yaitu: mesin memiliki
perbandingan kompresi yang tinggi, memiliki ruang bakar
18
yang memungkinkan turbulensi penyampuran bahan bakar
secara baik, bahan bakar harus ditekan dengan pompa
injeksi dan injector harus menyemprotkan bahan bakar
tersebut dalam bentuk kabut atau partikel kecil. Oleh
karena itu pada mesin diesel diperlukan sistem bahan bakar
yang didukung komponen yang baik.
d. Tugas 1
1. Sebuah motor diesel ketika distart tidak segera hidup
dengan mudah. Buatlah daftar kemungkinan penyebab
sulitnya mesin diesel hidup, ditinjau dari sistem bahan
bakar yang telah anda ketahui.
2. Gambarkan proses penyaluran bahan bakar pada motor
diesel yang anda temui di bengkel sekolah, dan jelaskan
apakah sesuai dengan diagram alir penyaluran bahan bakar
yang strandar.
e. Tes Formatif 1
1. Jelaskan prinsip kerja pada mesin diesel!
2. Jelaskan tahapan proses pembakaran pada mesin diesel
dan mengapa demikian?
3. Jelaskan fungsi alat pemanas alat pemanas (glow plug)
pada mesin diesel dan pada mesin diesel apa alat tersebut
digunakan?
4. Jelaskan jenis ruang bakar pada mesin diesel dan dimana
digunakan?
19
f. Kunci Jawaban Formatif 1
1. Prinsip kerja mesin diesel adalah seperti pada mesin
bensin hanya saja yang diisap adalah hanya udara, dan
bahan bakar baru disemprotkan di saat akhir kompresi
dan bahan bakar menyala karena suhu kompresi.
2. Proses pembakaran motor diesel berlangsung dalam 4
tahap, yaitu: pembakaran tertunda, perambatan,
pembakaranlangsung, dan pembakaran lanjut. Hal
tersebut karena sifat bahan bakar yang berbeda dengan
bensin
3. Untuk pemanas awal saat start dan digunakan pada
ruang bakar tambahan
4. Ruang bakar mesin diesel dapat berupa ruang bakar
langsung untuk injeksi langsung dan ruang bakar
tambahan untuk injeksi tidak langsung yang berbentuk:
ruang bakar muka, ruang bakar pusar, dan ruang bakar
air cell.
20
g. Lembar Kerja 1
1) Alat dan Bahan
a) 1 (satu) unit mesin diesel
b) 1 (satu) buah toolbox
c) Kunci sock dan kunci momen
d) Majun
2) Keselamatan Kerja
a) Gunakan peralatan servis yang sesuai dengan
fungsinya
b) Ikutilah instruksi dari guru ataupun langkah kerja
yang tertulis pada lembar kerja
c) Mintalah ijin kepada guru anda bila akan melakukan
pekerjaan yang tidak tertulis pada lembar kerja
d) Bila perlu mintalah buku manual mesin sesuai
dengan obyek yang digunakan
3) Langkah kerja
a) Persiapkan alat dan bahan praktik secara cermat,
efektif dan seefisien mungkin.
b) Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh
guru.
c) Lakukan diskusi tentang prinsip kerja sistem injeksi
bahan bakar diesel!
d) Lakukan analisis tentang perbedaan utama mesin
diesel dan mesin bensin!
e) Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktik
secara ringkas
f) Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang
telah digunakan ke tempat semula.
21
4) Tugas
a) Buatlah laporan praktik secara ringkas dan jelas
b) Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda
peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan
belajar 1.
22
2. Kegiatan Belajar 2: Sistem dan Komponen Injeksi Bahan
Bakar Diesel yang perlu
dipelihara/servis.
a. Tujuan Kegiatan Belajar 2
1) Siswa dapat menjelaskan jenis sistem injeksi bahan bakar
pada mesin diesel
2) Siswa dapat menjelaskan konstruksi dan cara kerja
komponen-komponen injeksi bahan bakar yang perlu
dipelihara/diservis untuk tiap-tiap jenis sistem injeksi bahan
bakar.
b. Uraian Materi 2
1) Pengertian Sistem Injeksi Bahan Bakar Mesin Diesel
Sistem injeksi bahan bakar pada mesin diesel merupakan
sistem paling penting di antara sistem-ssitem yang lain. Dengan
sistem injeksi bahan bakar yang baik dan tepat akan
menghasilkan tenaga mesin yang optimal. Sebaliknya sistem
injeksi bahan bakar yang kurang baik dan kurang tepat dapat
menyebabkan tenaga mesin diesel kurang optimal, bahkan
mungkin saja mesin diesel tidak dapat dijalankan sama sekali.
Banyak orang yang menyatakan bahwa sistem injeksi bahan
bakar pada mesin diesel merupakan jantung hidup matinya
mesin.
Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel mencakup
rangkaian komponen-komponen yang berhubungan dengan
bahan bakar, yang berfungsi mengisap bahan bakar dari tangki
bahan bakar, memompakan bahan bakar, sampai bahan bakar
tersebut diinjeksikan ke dalam ruang bakar silinder mesin dalam
rangfka memperoleh tenaga.
23
2) Fungsi Sistem Injeksi Bahan Bakar
Berdasarkan pengertian sistem injeksi bahan bakar pada
mesin diesel di atas, maka fungsi sistem injeksi bahan bakar
mesin diesel yaitu:
a) Menyimpan bahan bakar
b) Menyaring bahan bakar
c) Memompa atau menginjeksi bahan bakar ke dalam ruang
bakar silinder mesin
d) Mengabutkan bahan bakar ke dalam ruang bakar silinder
mesin
e) Memajukan saat penginjeksian bahan bakar
f) Mengatur kecepatan mesin sesuai dengan bebannya
melalui pengaturan penyaluran bahan bakar
g) Mengembalikan kelebihan bahan bakar ke dalam tangki
bahan bakar.
3) Syarat sistem injeksi bahan bakar mesin diesel
Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Memberikan sejumlah tertentu bahan bakar. Sistem injeksi
bahan bakar harus setiap saat tertentu memberikan
sejumlah tertentu bahan bakar ke tiap-tiap silinder mesin
diesel.
b) Menepatkan saat penginjeksian bahan bakar
Bahan bakar harus diinjeksikan ke dalam silinder tepat
pada saat kemungkinan mesin diesel mampu
menghasilkan tenaga yang maksimum. Bahan bakar yang
diinjeksikan terlalu cepat atau terlalu lambat selama
langkah usaha menyebabkan terjadinya kerugian tenaga.
24
c) Mengendalikan kecepatan pengiriman bahan bakar.
Kerja mesin diesel yang halus pada tiap-tiap silinder
tergantung pada lama waktu yang diperlukan untuk
menginjeksikan bahan bakar. Kecepatan mesin yang lebih
tinggi harus dicapai dengan pemasukan bahan bakar yang
lebih cepat pula.
d) Mengabutkan bahan bakar.
Bahan bakar harus sepenuhnya tercampur dengan udara
untuk pembakaran sempurna. Dalam hal ini bahan bakar
harus dikabutkan menjadi partikel-pertikeal yang halus.
Dengan demikian penginjeksian bahan bakar ke dalam
silinder mesin diesel harus pada saat yang tepat dan
jumlah yang tepat pula sesuai dengan jumlah yang
diperlukan.
4) Komponen-komponen Sistem Injeksi Bahan Bakar
Mesin Diesel
Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel dapat dibedakan
menjadi 2 (dua) cara yaitu:
a) Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi sebaris
b) Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
distributor
a)Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
sebaris (inline fuel injection pump)
Sistem injeksi bahan bakar yang menggunakan pompa
injeksi sebaris dapat dilihat pada gambar 8, yaitu dengan
pompa injeksi Bosch.
25
Gambar 8. Sistem injeksi bahan bakar dengan
pompa injeksi sebaris (Tipe Bosch)
Pada sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
sebaris seperti di atas, terdiri dari empat elemen pompa yang
melayani empat buah silinder. Dengan demikian tiap silinder
mesin diesel akan dilayani oleh satu elemen pompa secara
individual.
b) Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
distributor
Pada sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi
distributor, pompa injeksinya hanya memiliki satu buah
elemen pompa. Dengan demikian satu elemen pompa akan
melayani empat buah silinder mesin diesel melalui saluran
distribusi pada pompa. Sebagai contoh sistem bahan bakar
dengan pompa distributor dapat dilihat pada gambar 9 dan
gambar 10.
26
Gambar 9. Sistem bahan bakar dengan pompa injeksi distributor DPA
Gambar 10. Sistem bahan bakar dengan pompa injeksi distributor VE
27
Gambar 9 menunjukkan sistem bahan bakar dengan
pompa injeksi distributor tipe DPA dan gambar 10 adalah
dengan pompa injeksi distributor tipe VE. Pompa injeksi
distributor tipe DPA saat ini sudah jarang digunakan,
sedangkan pompa injeksi distributor tipe VE masih banyak
digunakan
Pompa injeksi sebaris pada umumnya digunakan untuk
mesin diesel bertenaga besar dengan ruang bakar langsung
dan penyemrotan langsung (direct injection), sedangkan
pompa injeksi distributor banyak digunakan untuk mesin
diesel bertenaga menengah dan kecil dengan ruang bakar
tambahan.
Berdasarkan gambar 8, gambar 9 dan gambar 10 di
atas maka secara umum komponen-komponen injeksi bahan
bakar mesin diesel adalah:
a) Tangki bahan bakar (fuel tank)
b) Saringan bahan bakar (fuel filter)
c) Pompa pemindah bahan bakar (fuel transfer pump)
d) Pompa injeksi bahan bakar (fuel injection pump)
e) Pipa-pipa injeksi bahan bakar (fuel injection lines)
f) Injektor (fuel injector)
g) Pipa-pipa pengembali bahan bakar (fuel return lines)
Di samping komponen-komponen utama di atas, komponen
sistem injeksi tambahan yang lain adalah:
h) Pengatur kecepatan (governor)
i) Pengatur untuk memajukan saat injeksi otomatis
(advancer/automatic timer)
28
Komponen-komponen tersebut di atas terangkai menjadi satu
kesatuan dan saling berhubungan dan saling membantu dalam
rangka penginjeksian bahan bakar ke dalam silinder mesin
dengan saat yang tepat dengan jumlah yang tepat pula.
a) Tangki bahan bakar (fuel tank)
Tangki bahan bakar berfungsi menyimpan atau
menampung bahan bakar. Tangki bahan bakar dibuat dengan
berbagai ukuran dan tiap ukuran serta bentuk tangki tersebut
dirancang untuk maksud persyaratan tertentu.
Kapasitas tangki tangki harus cukup untuk suatu jarak
tempuh tertentu atau cukup untuk digunakan dalam jangka
waktu tertentu. Bentuk dan ukuran tangki tergantung pada
ketersediaan tempat (space) serta kapasitas yang
dikehendaki. Misalnya untuk ruang mesin yang panjang atau
pendek, berbentuk bulat atau persegi.
Tangki bahan bakar harus tertutup untuk mencegah
masuknya kotoran, namun demikian harus mempunyai lubang
pernafasan (ventilation) dan untuk lubang pengisian bahan
bakar sebagai pengganti bahan bakar yang telah dipakai.
Dengan demikian paling tidak harus ada tiga buah lubang,
yaitu untuk mengisi, mengalirkan keluar dan lubang untuk
mengeringkan (draining). Kadangkala terdapat lubang untuk
saluran kebocoran bahan bakar (fuel overflow/fuel leak-off).
b) Saringan bahan bakar (fuel filter)
Penyaringan bahan bakar mesin diesel sangat penting karena
bahan bakar diesel cenderung tidak bersih baik dari kotoran
partikel atau dari air, sedangkan elemen pompa injeksi dan
29
injector dibuat presisi. Untuk memisahkan air dari bahan bakar
digunakan juga water sedimenter yang bekerja atas sifat
gravitasi air sendiri yang lebih besar daripada bahan bakarnya.
Gambar 11. Saringan bahan bakar dan sedimenter
Bila air sampai masuk ke dalam elemen pompa maka dapat
menyebabkan kerusakan pada elemen pompa karena korosi
dan pengabutan menjadi terganggu.
Untuk mengetahui bahwa air yang berada dalam
sedimenter telah banyak maka diketahui dari sistem lampu
peringatan yang sirkit kelistrikannya dapat dilihat pada
gambar 12.
Gambar 12. Sistem kelistrikan sedimenter
30
Bila volume air dalam sedimenter telah cukup banyak
(200 cc) maka pelampung akan menghubungkan water switch
(lead switch) dengan masa. Akibatnya arus listrik akan
mengalir dari baterai ke lampu filter terus ke masa,
akibantnya lampu filter akan menyala untuk memberi
peringatan kepada pengendara bahwa air yang berada pada
sedimenter perlu segera dikeluarkan.
Konstruksi sedimenter dan bagian-bagiannya dapat
dilihat pada gambar 13.
Gambar 13. Konstruksi sedimenter
Pada sistem injeksi bahan bakar sering dijumpai lebih dari
satu penyaringan bahan bakar, yaitu:
(1) Penyaring pada tangki (filter screen) atau pada pompa
pemindah, yang berfungsi Manahan partikel besar,
(2) Penyaring primer (primary filter) berfungsi menyaring
partikel-partikel kecil, dan
(3) Penyaring sekunder (secondary filter) berfungsi menyaring
partikel yang lembut.
31
c) Pompa pemindah bahan bakar (fuel transfer pump)
Pompa pemindah bahan bakar ini berfungsi untuk
mengisap bahan bakar dari tangki dan menekan bakar melalui
saringan bahan bakar ke ruang pompa injeksi. Pompa ini
dinamakan juga pompa pemberi (feed pump) atau pompa
pencatu bahan bahan bakar (fuel supply pump) atau priming
pump.
Pompa pemindah bahan bakar untuk sistem injeksi
bahan bakar dengan pompa injeksi sebaris dapat dilihat pada
gambar 14.
Gambar 14. Pompa pemindah untuk pompa injeksi sebaris
Pompa pemindah untuk pompa injeksi sebaris adalah model
pompa kerja tunggal (sigle acting) dipasang pada sisi pompa
injeksi dan digerakkan oleh poros nok pompa injeksi. Pompa
pemindah ini dilengkapi dengan pompa tangan untuk
membuang udara yang terdapat pada aliran bahan bakar
sebelum mesin dihidupkan.
Bahan bakar di dalam pompa injeksi selamanya harus cukup,
untuk itu perlu pengiriman bahan bakar ke pompa injeksi
dengan tekanan tertentu. Bila tekanan rendah di bawah
32
spesifikasi, elemen pompa tidak mampu memberikan bahan
bakar yang cukup pada kecepatan tinggi. Oleh karena itu,
tekanan pengisian harus di atas 1,8–2,2 kg/cm2 (2,56–3,11
psi).
Cara kerja pompa pemindah pada pompa injeksi sebaris dapat
dilihat pad gambar 15.
Gambar 15. Cara kerja pompa pemindah pada pompa sebaris
Pompa pemindah ini digerakkan oleh poros nok (1)
sehingga piston (5) bergerak bolak-balik untuk mengisap dan
menekan bahan bakar bila tekanan masih rendah. Bahan
bakar yang diisap akan ditekan ke dalm pompa injeksi melalui
saluran keluar (8) dan katup tekan (9) membuka sedangkan
katup masuk (6) menutup. Bila poros nok tidak menekan
tappet roller(2) maka katup tekan tetutup sedangkan katup
isap terbuka terjadilah pengiapan. Jika tekanan bahan bakar
telah melebihi spesifikasi maka tegangan pegas (7) tidak
mampu mendorong piston. Akibatnya piston tidak bergerak
dan pompa pemindah ini tidak bekerja lagi. Setelah tekanan
turun maka pompa pemindah ini akan bekerja lagi.
Pompa pemindah atau priming pump untuk pompa
injeksi distributor dapat dilihat pada gambar 16.
33
Gambar 16. Priming pump untuk pompa injeksi distributor
Priming pump untuk pompa injeksi distributor ini dilengkapi
dengan penyaring bahan bakar dan sedimenter. Cara kerja
priming pump ini adalah sebagai berikut:
Tekan handle pompa diafragma ke bawah dan bahan
bakar atau udara dalam ruang pompa akan akan membuka
outlet check valve dan mengalir ke saringan bahan bakar.
Pada saat yang sama inlet check valve akan menutup dan
mencegah bahan bakar mengalir kembali. Lihat gambar 17.
Gambar 17. Penekanan priming pump untuk membuang udara
Bila handle poma dibebaskan, tegangan pegas
mengembalikan diafragma ke posisi semula danmenimbulkan
vakum di dalam ruang pompa. Hal tersebut menyebabkan
34
inlet valve terbuka disebabkan adanya kevakuman dan bahan
bakar akan mengalir ke dalam ruang pompa. Pada saat yang
sama outlet valve akan menutup mencegah kembalinya aliran
bahan bakar. Bekerjanya turun dan naik dengan berulangulang
dan menyebabkan bahan bakar dikirim ke saringan
bahan bakar (Gambar 18).
Gambar 18. Pengisapan bahan bakar pada priming pump.
d) Pompa injeksi bahan bakar (fuel injection pump)
Pompa injeksi bahan bakar berfungsi untuk menekan bahan
bakar dengan tekanan yang cukup melalui kerja elemen
pompa. Seperti telah diuraikan di atas bahwa pompa injeksi
bahan bakar berupa pompa injeksi sebaris (gambar 19) dan
pompa injeksi distributor (gambar 20).
Gambar 19. Pompa injeksi sebaris tipe Bosch (PE)
35
Gambar 20. Pompa injeksi distributor tipe VE
(1) Pompa injeksi sebaris
Pompa injeksi sebaris banyak digunakan untuk mesin
diesel yang bertenaga besar, karena pompa injeksi ini
mempunyai kelebihan bahwa tiap elemen pompa melayani
satu silinder mesin.
Gambar 21 menunjukkan elemen pompa yang terdiri dari
plunyer (plunger) dan silinder (barrel) yang keduanya sangat
presisi, sehingga celah antara plunyer dan silindernya sekitar
1/1000 mm. Ketelitian ini cukup baik untuk menahan tekanan
tinggi saat injeksi, walaupun pada putaran rendah. Sebuah
alur diagonal yang disebut alur pengontrol (control groove),
adalah bagian dari plunyer yang dipotong pada bagian atas.
Alur ini berhubungan dengan bagian atas plunyer oleh sebuah
lubang.
Bahan bakar yang dikirimkan oleh pompa pemindah
masuk ke pompa injeksi dengan tekanan rendah. Plunyer
bergerak turun naik dengan putaran poros nok pompa injeksi.
Gerakan bolak-balik ini sesuai dengan cara kerja sebagai
berikut (Lihat gambar 22 dan gambar 23)
36
Gambar 21. Elemen pompa injeksi sebaris
Gambar 22. Proses kerja elemen pompa injeksi sebaris
Keterangan:
1= Plunyer 6= Sleeve pengontrol plunyer
2= Silinder (barrel) 7= Pinion pengontrol plunyer
3= Alur pengontrol 8= Plunger driving face
4= Lubang masuk elemen 9= Batang pengatur (control rack)
5= Katup penyalur
37
Gambar 23. Cara kerja elemen pompa injeksi sebaris
(a) Pada saat plunyer berada pada titik terbawah, bahan
bakar mengalir melalui lubang masuk (feed hole) pada
silinder ke ruang penyalur (delivery chamber) di atas
plunyer.
(b) Pada saat poros nok pada pompa injeksi berputar dan
menyentuh tappet roller maka plunyer bergerak ke atas.
Apabila permukaan atas plunyer bertemu dengan bibir
atas lubang masuk maka bahan bakar mulai tertekan dan
mengalir keluar pompa melalui pipa tekanan tinggi ke
injector.
(c) Plunyer tetap bergerak ke atas, tetapi pada saat bibir atas
control groove bertemu dengan bibir bawah lubang
masuk, maka penyaluran bahan bakar terhenti.
(d) Gerakan pluyer ke atas selanjutnya menyebabkan bahan
bakar yang tertinggal dalam ruang penyaluran masuk
melalui lubang pada permukaan atas plunyer dan mengalir
ke lubang masuk menuju ruang isap, sehingga tidak ada
lagi bahan bakar yang disalurkan.
38
Ukuran elemen pompa dapat dilihat pada gambar 24.
Tinggi pengangkatan nok adalah 8 mm, sehingga gerakan
plunyer naik turun juga sebesar 8 mm. Pada saat plunyer
pada posisi terbawah, plunyer menutup lubang masuk kirakira
1,1 mm dari besar diameter lubang masuk sebesar 3
mm. Dengan demikian plunyer baru akan menekan setelah
bergerak ke atas kira-kira 1,9 mm. Langkah ini disebut
“prestroke” dan pengaturannya dapat dilakukan dengan
menyetel baut pada tappet roller. Prestroke ini berkaitan
dengan saat injeksi (injection timing) bahan bakar keluar
pompa.
Gambar 24. Ukuran pada elemen pompa
Jumlah pengiriman bahan bakar dari pompa diatur oleh
governor sesuai dengan kebutuhan mesin. Governor mengatur
gerakan control rack yang berkaitan dengan control pinion
yang diikatkan pada control sleeve. Control sleeve ini berputar
bebas terhadap silinder. Bagian bawah plunyer (flens)
berkaitan dengan bagian bawah control sleeve. Jumlah bahan
bakar yang dikirim tergantung pada posisi plunyer dan
perubahan besarnya langkah efektif (Gambar 25). Langkah
efektif adalah langkah plunyer dimulai dari tertutupnya lubang
masuk oleh plunyer sampai control groove bertemu dengan
39
lubang masuk. Langkah efektif akan berubah sesuai dengan
posisi plunyer dan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan
sesuai dengan besarnya langkah efektif.
Gambar 25. Pengontrolan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan
Penekanan bahan bakar dari elemen pompa ke injector
diatur oleh katup penyalur (delivery valve). Katup penyalur ini
berfungsi ganda, yaitu selain mencegah bahan bakar dalam
pipa tekanan tinggi mengalir kembali ke plunyer juga
berfungsi mengisap bahan bakar dari ruang injector setelah
penyemprotan (Gambar 26).
Gambar 26. Katup penyalur
40
Dengan demikian katup penyalur pada pompa injeksi ini
menjamin injektor akan menutup dengan cepat pada saat
akhir injeksi, karena untuk mencegah bahan bakar menetes
yang dapat menyebabkan pembakaran awal (pre-ignition)
selama siklus pembakaran berikutnya.
Cara kerja katup penyalur dapat dilihat pada gambar 27.
(a) Pada saat awal penginjeksian, maka katup penyalur pada
posisi terangkat dari dudukan, dengan adanya tekanan
bahan bakar yang dipompa keluar dari pompa plunyer.
Hal ini memungkinkan bahan bakar dengan tekanan
dialirkan ke nosel injeksi.
(b) Bila tekanan penyaluran menurun dan pegas katup
penyalur menekan katup penyalur ke bawah, maka relief
valve akan menutup hubungan antara ruang penyalur
dengan pipa injeksi dan selanjutnya katup akan masuk ke
dalam sampai dudukan bersentuhan dengan body
mencegah menurunnya katup.
Gambar 27. Cara kerja katup penyalur
(2) Pompa injeksi distributor (VE)
Pompa injeksi distributor tipe VE ini dirancang dengan
plunyer tunggal untuk mengatur banyaknya bahan bakar yang
diinjeksikan dengan tepat dan membagi pemberian bahan
41
bakar ke setiap silinder mesin sesuai dengan urutan
penginjeksiannya.
Kelebihan pompa injeksi distributor tipe VE adalah:(a)
Kompak dan ringan, karena hanya 4,5 kg dan komponenkomponennya
sedikit jumlahnya, (b) mampu digunakan untuk
mesin diesel putaran tinggi, (c) seragam dalam jumlah
penginjeksian bahan bakar, (d) mudah dalam menghidupkan
mesin, (e) putaran idle yang stabil, (f) pelumasan dengan
bahan bakar sendiri, (g) mudah dalam penyetelan jumlah
bahan bakar yang diinjeksikan, (h) dilengkapi dngen solenoid
penghenti bahan bakar, (i) alat pengatur saat penginjeksian
yang bekerja secara hidrolik, dan (j) konstruksinya dirancang
sedemikian rupa sehingga kalau terjadi mesin berputar balik,
pompa tidak akan memberikan bahan bakar ke silinder.
Pompa injeksi distributor terdiri dari komponenkomponen:
(a) Pompa pemberi (feed pump) tipe sudu rotary yang
mengalirkan bahan bakar dari tangki ke dalam rumah
pompa injeksi,
(b) Katup pengatur tekanan bahan bakar di dalam feed pump
(pressure regulating valve)
(c) Katup pelimpah (overflow) untuk menyalurkan kelebihan
bahan bakar dari pompa ke tangki.
(d) Plat nok (cam plate) yang digerakkan oleh poros pompa
(drive shaft) yang menggerakkan plunyer dalam bentuk
berputar dan bolak-balik, karena plunyer bersatu dengan
cam plate
42
(e) Governor mekanik (mechanical governor) yang mengatur
jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang
bakar
(f) Pewaktu otomatis (automatic timer) yang mengatur saat
injeksi (injection timing) yang bekerja menurut tekanan
bahan bakar.
(g) Solenoid penutup bahan bakar (fuel cut-off solenoid) yang
digunakan untuk menutup aliran bahan bakar ke dalam
elemen pompa.
(i) Katup penyalur (delivery valve) berfungsi mencegah
bahan bakar dari dalam pipa tekanan tinggi masuk ke
dalam ruang elemen pompa dan mengisap sisa bahan
bakar dari injector pad akhir injeksi.
Komponen-komponen di atas dijelaskan sebagai berikut:
(a) Pompa pemberi (feed pump), Gambar 28
Pompa pemberi tipe rotari ini berada dalam pompa
injeksi yang menyalurkan bahan bakar dari tangki ke dalam
rumah pompa melalui sedimenter dan filter. Pompa pemberi
ini digerakkan oleh poros penggerak (drive shaft) dan selama
rotor berputar sudu pompa menekan keluar akibat gaya
sentrifugal. Rotor yang tidak sepusat (eksentrik) ini
menyebabkan bahan bakar akan terisap dan ditekan ke ruang
pompa.
Gambar 28. Cara kerja katup pemberi
43
(b) Katup pengatur tekanan bahan bakar (regulating valve)
Gambar 29. Katup pengatur tekanan bahan bakar
Besarnya tekanan bahan bakar pada pompa pemberi
ditentukan oleh tekanan pegas pada piston katup pengatur ini,
sedangkan piston tertekan oleh tekanan bahan bakar. Bila
kecepatan pompa bertambah maka bertambah pula tekanan
bahan bakarnya.
(c) Plunyer dan plat nok
Penyaluran bahan bakar pada pompa injeksi bahan bakar
distributor tipe VE melalui kerja komponen-komponen yang
dapat dilihat pada gambar 30 di bawah ini.
Gambar 30. Penyaluran bahan bakar pada pompa injeksi distributor tipe VE
44
Pertautan antara komponen-komponen utama pada
gambar 30 di atas dijelaskan sebagai berikut:
Pompa pemberi dan plat nok digerakkan oleh poros
penggerak (drive shaft). Plunyer dan plat nok ditekan oleh dua
buah pegas plunyer melawan roller. Plat nok mempunyai 4
buah muka nok (cam face), yang bila berputar muka nok
berada di atas roller dan plunyer bergerak maju, sehingga bila
plat nok dan plunyer berputar satu kali maka plunyer bergerak
4 kali maju mundur. Bahan bakar disalurkan ke tiap silinder
setiap ¼ putaran plunyer dan satu kali plunyer bergerak
bolak-balik. Plunyer mempunyai 4 alur pengisian (suction
groove) dan satu lubang distribusi (distribution port). Dengan
demikian pada silinder pompa terdapat 4 saluran distribusi
(distribution passage). Pengisapan terjadi bila salah satu alur
pengisian segaris dengan lubang isap, dan penyaluran bahan
bakar berlangsung bila lubang distribusi segaris dengan salah
satu dari 4 saluran distribusi.
Proses penyaluran bahan bakar terdiri dari pengisapan
(suction), penyaluran (delivery), akhir penekanan
(termination), dan penyamaan tekanan (pressure
equalization). Lihat gambar 31, 32, 33 dan 34.
Gambar 31. Pengisapan
45
Gambar 32. Penyaluran
Gambar 33. Akhir penekanan
Gambar 34. Penyamaan tekanan
46
Pada pompa injeksi distributor tipe VE ini dilengkapi
dengan penutup aliran bahan bakar ke pompa yang disebut
dengan fuel cut-off solenoid. Lihat gambar 35. Bila kunci
kontak diputar ke posisi ON maka katup solenoid akan tertarik
oleh kemagnitan sehingga saluran isap akan terbuka (gambar
35a). Bila kuncikontak diputar ke arah OFF maka kemagnitan
pada solenoid hilang dan katup solenoid akan menutup
saluran bahan bakar ke elemen pompa (Gambar 35 b).
(a) (b)
Gambar 35. Solenoid penutup bahan bakar
d) Injektor Bahan bakar (fuel injector)
Injektor bahan bakar kadangkala disebut juga
dengan pengabut atau ada yang menyebut dengan nosel
(nozzle). Disebut injector karena tugas dari komponen ini
adalah menginjeksi, dan disebut pengabut karena bahan
bakar keluar dari komponen ini dalam bentuk kabut,
sedangkan disebut nosel karena ujung komponen ini luas
penampangnya makin mengecil.
Secara garis besar nosel injeksi dapat diklasifikasikan
ke dalam 2 tipe yaitu:
(1) tipe lubang (hole type), dan
(2) tipe pin (pin type)
47
Tipe lubang terdapat dalam 2 jenis yaitu: (a) lubang satu
(single hole type) dan, dan (b) lubang banyak (multiple
hole type).
Tipe pin terdapat dalam 2 jenis yaitu: (a) tipe throttle
(throttle type), dan (b) tipe pintle (pintle type). Lihat
gambar 36.
Gambar 36. Konstruksi dan tipe nosel injeksi
Tipe nosel injeksi sangat menentukan bagi proses
pembakaran dan bentuk ruang bakar. Tipe lubang banyak
pada umumnya digunakan untuk mesin diesel dengan
injeksi langsung (direct injection), sedangkan tipe pin pada
umumnya digunakan untuk mesin diesel yang mempunyai
ruang bakar muka (precombustion chamber) dan ruang
bakar pusar (swirl chamber).
Kebanyakan nosel injeksi model pin adalah yang berjenis
throttle yang pada saat permulaan injeksi jumlah bahan
bakar yang ditekan ke dalam ruang bakar muka hanya
sedikit, tetapi pada akhir injeksi jumlah bahan bakar
semakin banyak. Kerja nosel injeksi tipe pin dapat dilihat
pada gambar 37.
48
Gambar 37. Kerja nosel injeksi tipe pin
Nosel injeksi ditempatkan pada mesin diesel dengan
pemegang nosel (nozzle holder) yang dapat menentukan
jumlah bahan bakar dan mengatur tekanan injeksi. Pada
gambar 38 ditunjukkan konstruksi nosel injeksi. Jarum
nosel ditahan oleh pena tekanan (pressure pin) dan pegas
tekan (pressure spring) yang dapat diatur oleh sekrup
penyetel (adjusting screw) sehingga membukanya nosel
injeksi dapat diatur.
Gambar 38. Konstruksi nosel injeksi
49
c. Rangkuman 2
1. Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel dibedakan
berdasarkan pompa injeksi yang digunakan, yaitu dengan
pompa injeksi sebaris dan dengan pompa injeksi distributor.
Persamaan kedua sistem injeksi tersebut adalah mempunyai
fungsi menyalurkan bahan bakar dari tangki ke dalam ruang
bakar mesin diesel. Perbedaannya utamanya adalah pada
sistem injeksi dengan pompa sebaris adalah tiab silinder
mesin dilayani oleh satu elemen pompa, sedangkan pada
sistem injeksi dengan pompa distributor semua silinder
mesin dilayani oleh satu elemen pompa.
2. Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel memiliki tugas
utama: (a) menepatkan saat penginjeksian bahan bahar ke
dalam ruang bakar mesin diesel, (b) mengatur jumlah bahan
bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar, (c)
mengendalikan kecepatan penyaluran bahan bakar ke dalam
silinder mesin, dan (d) mengabutkan bahan bakar yang
diinjeksikan ke dalam silinder mesin.
3. Komponen-komponen sistem injeksi bahan bakar secara
lengkap adalah: (a) tangki bahan bakar, (b) saringan/filter
bahan bakar dan sedimenter air, (c) pompa pemindah bahan
bakar, (d) pompa injeksi bahan bakar, (e) injector atau nosel
injeksi, (f) automatik timer, dan (g) governor. Masing-masing
komponen mempunyai fungsi sendiri dalam rangka
memenuhi fungsi utama sistem injeksi bahan bakar. Bila
salah satu komponen mempunyai masalah maka seluruh
sistem injeksi akan mengalami masalah pula.
4. Filter bahan bakar menjaga agar bahan bakar bersih dari
kotoran/deposit berbentuk padat, sedangan sedimenter
50
menampung air yang tercampur dalam bahan bakar. Bila
tidak ada filter yang baik dalam sistem injeksi bahan bakar
maka elemen pompa yang presisi akan macet. Demikian pula
tanpa sedimenter air dalam sistem injeksi bahan bakar maka
air dalam bahan bakar dapat menyebabkan korosi pada
elemen pompa yang dampaknya elemen pompa tidak dapat
berfungsi.
5. Pompa pemindah mempunyai fungsi memompa bahan bakar
dari tangki ke ruang pompa ijeksi. Di samping itu pompa
pemindah yang dilengkapi dengan pompa tangan berfungsi
menghilangkan udara (bleiding) dari sistem injeksi bahan
bakar khususnya yang berasal dari aliran tangki ke pompa
injeksi.
6. Elemen pompa injeksi pada kedua jenis pompa injeksi di
samping berbeda jumlahnya juga berbeda bentuknya.
Elemen pompa pada pompa injeksi sebaris mempunyai
lubang di dalamnya dan alur pengontrol, sedangkan elemen
pompa pada pompa injeksi distributor tipe VE mempunyai 4
alur pemasukan dan satu lubang distributor.
7. Baik pada pompa injeksi sebaris maupun pada pompa injeksi
distributor memiliki governor yang berfungsi sama tetapi
berbentuk berbeda. Begitu juga komponen untuk
memajukan saat injeksi yaitu automatik timer atau advancer
mempunyai bentuk mekanisme yang berbeda meskipun
mempunyai fungsi yang sama.
8. Injektor atau nosel injeksi mempunyai bentuk utama tipe
lubang dan tipe pin. Nosel injeksi tipe lubang mempunyai
jenis lubang satu dan lubang banyak. Nosel tipe pin
mempunyai jenis trotlle dan pintle/pasak. Tipe lubang
51
biasanya digunakan pada mesin diesel dengan injeksi
langsung. Tipe pin biasanya digunakan pada mesin diesel
dengan ruang bakar muka dan ruang bakar pusar.
d. Tugas 2
1. Bila terjadi jumlah bahan bakar yang diinjeksikan pada nosel
injeksi tidak sama, maka sebutkan penyebabnya baik pada
pompa injeksi sebaris maupun pompa injeksi distributor.
2. Gambarkan secara skematis komponen-komponen sistem
injeksi bahan bakar dalam suatu sistem injeksi bahan bakar
yang lengkap dengan saluran pengembalinya.
e. Tes Formatif 2
1. Terdapat 2 macam sistem injeksi bahan bahan bakar pada
mesin diesel. Jelaskan persamaan dan perbedaan utama
dari 2 macam sistem injeksi bahan bakar tersebut!
2. Jelaskan 4 fungsi pokok sistem injeksi bahan bakar mesin
diesel!
3. Sebutkan 4 komponen penting sistem injeksi bahan bakar
mesin diesel yang perlu diservis/dipelihara! Apakah
dampaknya bila hal itu tidak dilaksanakan?
4. Jelaskan 2 fungsi utama dari pompa pemindah (transfer
pump) dalam sistem injeksi bahan bakar mesin diesel?
5. Jelaskan urutan pemasangan fliter dan sedimenter air pada
sistem injeksi bahan bakar, manakah yang lebih dahulu
dipasang? Apakah dampak yang terjadi bila kedua
komponen tersebut tidak terpasang pada sistem injeksi
bahan bakar?
6. Fungsi utama pompa injeksi bahan bakar adalah
menepatkan saat injeksi dan mengatur jumlah bahan
52
bakar. Jelaskan kedua fungsi tersebut pada kedua jenis
pompa injeksi dan komponen apa saja yang mengatur!
7. Jelaskan perbedaan bentuk elemen pompa pada pompa
injeksi sebaris dan pompa injeksi distributor tipe VE !
8. Jelaskan jenis nosel injeksi pada sistem injeksi bahan bakar
mesin diesel dan digunakan pada mesin diesel jenis apa?
9. Jelaskan fungsi katup penyalur pada elemen pompa injeksi!
53
f. Kunci Jawaban Formatif 2
1. Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi sebaris
dan dengan pompa injeksi distributor. Persamaannya
adalah mempunyai fungsi menyalurkan bahan bakar dari
tangki ke dalam ruang bakar mesin diesel. Perbedaannya
adalah pada sistem injeksi dengan pompa sebaris adalah
tiap silinder mesin dilayani oleh satu elemen pompa,
sedangkan pada sistem injeksi dengan pompa distributor
semua silinder mesin dilayani oleh satu elemen pompa.
2. Sistem injeksi bahan bakar mesin diesel memiliki tugas:
(a) menepatkan saat penginjeksian bahan bahar ke
dalam ruang bakar mesin diesel, (b) mengatur jumlah
bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar, (c)
mengendalikan kecepatan penyaluran bahan bakar ke
dalam silinder mesin, dan (d) mengabutkan bahan bakar
yang diinjeksikan ke dalam silinder mesin.
3. Saringan, pompa pemindah, pompa injeksi dan nosel
injeksi. Bila tidak diservis maka kemungkinan mesin tidak
hidup dengan baik dan komponen tersebut akan cepat
rusak
4. Pompa pemindah mempunyai fungsi memompa bahan
bakar dari tangki ke ruang pompa ijeksi. Di samping itu
pompa pemindah yang dilengkapi dengan pompa tangan
berfungsi menghilangkan udara (bleiding) dari sistem
injeksi bahan bakar khususnya yang berasal dari aliran
tangki ke pompa injeksi.
5. Filter bahan bakar menjaga agar bahan bakar bersih dari
kotoran/deposit berbentuk padat, sedangan sedimenter
menampung air yang tercampur dalam bahan bakar. Bila
54
tidak ada filter yang baik dalam sistem injeksi bahan
bakar maka elemen pompa yang presisi akan macet.
Demikian pula tanpa sedimenter air dalam sistem injeksi
bahan bakar maka air dalam bahan bakar dapat
menyebabkan korosi pada elemen pompa yang
dampaknya elemen pompa tidak dapat berfungsi.
Sedimenter mendahului filter.
6. Fungsi menepatkan agar injeksi tepat pada saat
diperlukan pembakaran dan jumlah juga akan
menentukan daya mesin saat diperlukan. Komponen
tersebut pada elemen pompa
7. Elemen pompa sebaris mempunyai bentuk yang
berlubang di tengah dan satu alur berbentuk helix,
sedangkan pada pompa distributor mempunyai bentuk
berlubang ditengah dengan empat alur lurus.
8. Injektor atau nosel injeksi mempunyai bentuk utama tipe
lubang dan tipe pin. Nosel injeksi tipe lubang
mempunyai jenis lubang satu dan lubang banyak. Nosel
tipe pin mempunyai jenis trotlle dan pintle/pasak. Tipe
lubang biasanya digunakan pada mesin diesel dengan
injeksi langsung. Tipe pin biasanya digunakan pada
mesin diesel dengan ruang bakar muka dan ruang bakar
pusar.
9. Katup penyalur ini berfungsi ganda, yaitu selain
mencegah bahan bakar dalam pipa tekanan tinggi
mengalir kembali ke plunyer juga berfungsi mengisap
bahan bakar dari ruang injector setelah penyemprotan
55
g. Lembar Kerja 2
1) Alat dan Bahan
a) 1 (satu) unit mesin diesel
b) 1 (satu) unit pompa injeksi sebaris
c) 1 (satu) unit pompa injeksi distributor
d) 1 (satu) unit nosel injeksi
e) 1 (satu) buah toolbox
f) Kunci sock dan kunci momen
g) Majun
2) Keselamatan Kerja
a) Gunakan peralatan servis yang sesuai dengan
fungsinya
b) Ikutilah instruksi dari guru ataupun langkah kerja
yang tertulis pada lembar kerja
c) Mintalah ijin kepada guru anda bila akan melakukan
pekerjaan yang tidak tertulis pada lembar kerja
d) Bila perlu mintalah buku manual mesin sesuai dengan
obyek yang digunakan
3) Langkah kerja
a) Persiapkan alat dan bahan praktik secara cermat,
efektif dan seefisien mungkin.
b) Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh
guru.
c) Lakukan diskusi tentang jenis sistem injeksi bahan
bakar pada mesin diesel!
d) Lakukan analisis tentang konstruksi dan cara kerja
komponen-komponen sistem injeksi bahan bakar!
e) Buatlah catatan-catatan penting kegiatan praktik
secara ringkas
56
f) Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang telah
digunakan ke tempat semula.
g) Bersihkan tempat kerja
4) Tugas
a) Buatlah laporan praktik secara ringkas dan jelas
b) Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda
peroleh setelah mempelajari materi pada kegiatan
belajar 2.
57
3. Kegiatan Belajar 3: Langkah Kerja Pemeliharaan/
Servis Sistem dan Komponen
Injeksi Bahan Bakar Diesel
a. Tujuan Kegiatan Belajar 3
1) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pada tangki bahan
bakar dengan cara yang sesuai standar yang ditentukan
2) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pompa pemindah
bahan bakar dengan cara yang sesuai standar yang
ditentukan
3) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pada saringan
bahan bakar dengan cara yang sesuai standar yang
ditentukan
4) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pada pompa
injeksi bahan bakar sesuai standar yang ditentukan
5) Siswa dapat melakukan pemeliharaan pada nosel injeksi
dengan cara yang sesuai standar yang ditentukan
b. Uraian Materi 3
Yang dimaksud pemeliharaan/servis komponen sistem
injeksi bahan bakar motor diesel dalam hal ini adalah meliputi
pemeriksaan, atau pengujian atau perbaikan komponen
tersebut agar sesuai dengan spesifikasi dari pabrik atau paling
tidak mendekati spesifikasi tersebut. Pemeliharaan/servis
tersebut harus dilakukan secara berkala sesuai dengan tugas
komponen dalam sistem tersebut.
Langkah kerja yang dilakukan dalam pemeliharaan/servis
tersebut adalah meliputi: pembongkaran, pembersihan,
perbaikan, penyetelan, pemasangan dan perngujian.
58
1) Pemeliharaan/servis pada tangki bahan bakar
Tangki bahan bakar biasanya mengalami persoalan, yaitu
adanya kebocoran, pengembunan dan kotor. Untuk
membersihkan dan memperbaiki tangki bahan bakar harus hatihati
karena dapat membahayakan. Bila perbaikan tangki
dilakukan di dekat percikan api, rokok, atau nyala api dapat
mengakibatkan kebakaran.
Langkah pemeriksaan dan perbaikan pada tangki bahan
bakar adalah sebagai berikut:
a) Melepaskan tangki dari unit mesinnya
b) Membersihkan tangki dengan air panas atau uap
c) Mengeringkan tangki dengan udara kompresor
d) Memeriksa kebocoran tangki dengan:
(1) Cara basah
Cara basah ini dilakukan dengan menutup lubang
keluar tangki dan membersihkan permukaan sampai
kering. Selanjutnya tangki diletakkan ditempat yang
mudah dilihat seluruh permukaannya. Tangki diisi
dengan air sedangkan lubang masuk tangki
dihubungkan dengan udara yang bertekanan. Bila
terdapat kebocoran dapat dilihat adanya titik-titik air
pada permukaan tangki tersebut.
(2) Cara tekanan udara
Cara tekanan adalah dengan cara menutup lubang
masuk sedangkan lubang keluar dihubungkan dengan
udara bertekanan. Selanjutnya tangki direndam ke
dalam air. Bila terdapat kebocoran akan muncul
gelembung (bubbles).
59
e) Bila ada kebocoran dilanjutkan dengan pematrian
(soldering) atau pengelasan (welding)
2)Pemeliharaan/servis pada pompa pemindah bahan
bakar
Pemeliharaan/servis pada pompa pemindah/penyalur
bahan bakar (khususnya pada pompa injeksi sebaris) dilakukan
sebagai berikut:
a) Pengujian pompa pemindah
(1) Pengujian kapasitas hisap (dengan test bench)
(a) Mengoperasikan pompa pemindah ini dengan 60
langkah per menit. Pompa pemindah untuk pompa
injeksi sebaris harus sudah keluar dalam 25 langkah
(b) Mengatur penguji pompa penyalur pada 150 rpm,
dan menguji kapasitas hisap. Bahan bakar harus
keluar dalam 40 detik. Lihat gambar 39
Gambar 39. Pengujian kapasitas hisap pompa pemindah
(pada pompa injeksi sebaris)
(2) Pengujian kemampuan pompa
Menghubungkan pengukur tekanan pada bagian
tekanan pompa pemindah ini.
(a) Pompa diputar dengan 600 rpm. Tekanan keluar
lebih besar dari : 1,8 –2,2 kg/cm2
60
(b) Mengoperasikan pompa pemindah pada 1000 rpm
dan mengukur volume pengeluaran dari pompa
lebih besar dari 900 cc/menit
Gambar 40. Pengujian kemampuan pompa pemindah
(pada pompa injeksi sebaris)
b)Pembongkaran pompa pemindah
Bila pompa pemindah akan dipersihkan/diperbaiki maka
harus dibongkar sesuai dengan nomor urut pada bagian pompa
(Gambar 41). Bila batang pendorong (10) masih cocok dengan
rumah pompa penyalur, diusahakan jangan dibuka bila tidak
perlu. Bila dibuka perhatikan posisi pemasangannya (Gb. 42)
Gambar 41. Bagian-bagian pompa pemindah bahan bakar
61
Gambar 42. Posisi batang pendorong
c) Pemeriksaan pompa pemindah
(1) Memeriksa piston (no. 9), batang pendorong (no.10) dan
rumah pompa dari keausan atau kerusakan (Gb. 43).
Celah standar: Piston = 0,009-0,013 mm.
Batang pendorong= 0,003-0,006 mm
Gambar 43. Pemeriksaan piston pada rumah pompa
(2) Memeriksa keausan Check valve (no. 5) dan dudukan
katup (Gambar 44)
Gambar 44. Pemeriksaan Check Valve dan dudukan katupnya
62
(3) Memeriksa keausan tappet (no.7) dan roller (Gb. 45)
Gambar 45. Pemeriksaan tappet dan roller
(4) Memeriksa kemungkinan kerusakan pada katup
pengatur dan pegas piston (Gambar 46)
Gambar 46. Pemeriksaan katup pengatur dan pegas piston
(5) Pemeriksaan tekanan dan isapan pada pompa dengan
cara menutup lubang masuk pompa priming dengan
jari kuat-kuat (Gambar 47)
Gambar 47. Pemeriksaan tekanan dan isapan pompa
63
e) Perakitan Pompa Pemindah
Setelah pemeriksaan dan pembersihan komponen
pompa pemindah maka selanjutnya pompa dirakit
kembali sesuai dengan nomor urut pada gambar 48 di
bawah ini.
Gambar 48. Perakitan komponen pompa pemindah
3) Pemeliharan/servis Saringan Bahan Bakar
a) Pembongkaran saringan bahan bakar
Saringan bahan bakar pada mesin diesel secara ideal
tidak hanya satu buah , tetapi dapat berjumlah 3 buah
saringan, yairu: (1) saringan pada tangki atau pompa
pemindah (filter screen), untuk penahan partikel besar, (2)
saringan primer (primary filter), untuk penyaring partikel
kecil, dan (3) saringan sekunder (secondary filter), untuk
penyaring partikel halus.
Dalam hal ini akan ditunjukkan pembongkaran pada satu
buah saringan saja (Gambar 49). Pembongkaran dilakukan
menurut nomor urut yang tercantum pada gambar tersebut.
64
Adapun langkah pembongkaran dan pemeriksaan
sebagai berikut:
Keterangan: 1 = Baut tengah, paking dan bodi bawah
2 = Paking dan elemen
3 = Paking, plat dan pegas
4 = Paking
Gambar 49. Urutan pembongkaran saringan bahan bakar
(1) Mengendorkan baut pengikat dan melepaskan bodi
bagian bawah (Gambar 50)
Gambar 50. Mambuka bodi bawah saringan bahan bakar
65
(2) Membersihkan bagian-bagian yang dibongkar (Gb. 51)
Gambar 51. Membersihkan bagian saringan yang dibongkar
(3) Memeriksa lubang di bagian tengah dari kemungkinan
tersumbat, kotor atau bengkok (Gambar 52)
Gambar 52. Memeriksa lubang dari kotoran dan kebengkokan
b) Perakitan saringan bahan bakar
(1) Perakitan saringan bahan bakar dilakukan sesuai dengan
urutan nomor-nomor gambar 53 di bawah ini
(2) Memasang ring O (Gambar 54)
(3) Memasang bodi bawah dan mengencangkan bautnya
(Gambar 55)
(4) Setelah pemasangan selesai, memeriksa saringan dari
kebocoran (Gambar 56)
66
Keterangan: 1= Paking
2= Paking, plat dan pegas
3= Paking dan elemen
4= Baut pengikat, paking dan bodi bawah
Gambar 53. Urutan perakitan komponen saringan bahan bakar
Gambar 54. Memasang ring O
67
Gambar 55. Memasang bodi bawah dan mengencangkan bautnya
Gambar 56. Memeriksa saringan dari kebocora
4) Pemeliharan/servis Pompa Injeksi Bahan Bakar
a) Pembongkaran pompa injeksi
Pembongkaran pompa injeksi didasarkan pada hasil
kalibrasi pompa injeksi pada mesin penguji/kalibrasi (test
bench). Bila ternyata hasil kalibrasi menunjukkan adanya
kerusakan, pompa injeksi dibongkar untuk diperiksa
kerusakan tersebut. Pembongkaran bagian-bagian (part)
pompa injeksi diusahakan menggunakan alat servis khusus
(Special Service Tool/SST) yang telah tersedia sesuai dengan
tipe pompa injeksi yang tercantum pada buku petunjuk
servis dari pabrik (manual book). Pembongkaran meliputi:
(1) governor, (2) Control rack, (3) Poros nok, (4) Tappet
68
roller, (5) Pegas pengontrol, (6) Elemen pompa (plunyer dan
silinder/barrel), dan (7) Katup pemberi, dudukan katup
pemberi dan pemegangnya.
b) Pemeriksaan dan perbaikan
Sebelum melaksanakan perbaikan bahwa jangan
menyentuh permukaan dari plunyer dan katup pemberi.
Beberapa bagian pompa injeksi yang perlu diperiksa dan
diperbaiki di antaranya:
(1) Pemeriksaan Katup pemberi (delivery valve), sebagai
berikut:
(a) Menarik katup ke atas dan menutup lubang pada bagian
dasar dudukan katup dengan ibu jari. Bila katup
dilepaskan akan turun dengan cepat dan berhenti di
tempat ring pembebas menutup dudukan lubang katup
(Gambar 57). Bila tidak demikian berarti katup rusak dan
diganti satu set.
Gambar 57. Memeriksa kerapatan katup pemberi
(b) Menutup lubang dasar dudukan katup dengan ibu jari.
Selanjutnya katup dimasukkan ke dalam dudukan katup
69
dan ditekan dengan jari. Bila jari dilepaskan katup akan
naik ke atas pada posisi semula dan bila tidak demikian
berarti katup telah aus, dan harus diganti satu set
(Gambar 58)
Gambar 58. Memeriksa keausan katup pemberi
(c ) Menarik katup ke atas. Bila katup dilepaskan katup akan
turun akibat beratnya sendiri. Bila rusak harus diganti
satu set (Gambar 59)
Gambar 59. Memeriksa kerja katup pemberi
(2) Pemeriksaan Plunyer dan Silinder/Barrel, diperiksa
sebagai berikut:
70
(a) Memiringkan sedikit silinder dan mengeluarkan plunyer.
Bila plunyer dilepaskan akan turun pelan-pelan oleh beratnya
sendiri. Selanjutnya plunyer diputar dan melakukan
pemeriksaan seperti sebelumnya. Bila pada satu posisi tidak
baik, plunyer dan silinder diganti satu set (Gambar 60).
Gambar 60. Memeriksa presisi plunyer dan silinder
(3) Pemeriksaan Control rack dan pinion
Pemeriksaan ini dilakukan dengan permukaan gigi pinion
dari kerusakan atau keausan.
(4) Pemeriksaan tappet dan roller dan bushing dari
kemungkinan aus dan kerusakan. Diperiksa pula
kelonggarannya pada kondisi terpasang.
(5) Pemeriksaan poros nok dari keausan dan kerusakan.
Diperiksa pula perapat olinya, bantalannya.
5)Pemeliharaan/servis Nosel Injeksi (Injektor)
a) Pembongkaran nosel injeksi
(1) Nosel injeksi sebelum diservis lebih dahulu dilepaskan
dari unit sistem injeksi bahan bakar. Selanjutnya
nosel ditempatkan menurut urutan nomor silinder
mesin.
(2) Pengujian injeksi, dilakukan dengan memasang nosel
pada tester, dan mengeluarkan udara melalui
71
pemegangnya (Gb. 61). Selanjutnya tekanan injeksi
diuji dengan memompa tester sebanyak 50-60 kali
tiap menit (Gb. 62). Hasil tekanan selanjutnya dilihat
(Standar nosel baru lebih tinggi daripada nosel bekas).
Bila diperlukan penyetelan tekanan dapat dilakukan
pada mur penyetel (Gb. 63)
Gambar 61. Pembuangan udara pada tester nosel injeksi
Gambar 62. Menguji tekanan nosel injeksi pada tester
Gambar 63. Penyetelan tekanan pada nosel injeksi
72
(3) Kondisi semprotan bahan bakar dari nosel injeksi harus
berbentuk lingkaran (dengan kertas pada jarak 30 cm
dari ujung nosel) (Gambar 64). Pada nosel injeksi harus
tidak terdapat tetesan (Gambar 65).
Gambar 64. Bentuk semprotan pada nosel injeksi
Gambar 65. Bentuk semprotan bahan bakar yang baik
(4) Selanjutnya bila dilakukan pengujian kekedapan solar,
pada tekanan 100 kg/cm2 tidak terdapat kebocoran pada
dudukan katup nosel dan mur pengikatnya (Gambar 66)
(5) Pembongkaran bagian-bagian nosel injeksi
Gambar 66. Uji kekedapan solar
73
b)Pembersihan nosel
Mencuci dan membersihkan nosel dengan menggunakan
pembersih dan solar. Pembersih dapat berupa kayu atau
sikat tembaga yang lembut. Dudukan nosel dibersihkan
dengn skrap pembersih. Lubang bodi nosel injeksi
dibersihkan dengan jarum pebersih.
c) Menguji peluncuran jarum nosel (Gambar 67)
(1) Membersihkan bodi dan jarum dengan solar
(2) Menarik jarum nosel kira-kira sampai setengahnya di
dalam bodi dan melepaskan
(3) Jarum akan meluncur dengan lembut akibat beratnya
(4) Putar sedikit posisi jarum dan lakukan test yang sama
(5) Bila salah satu posisi jarum peluncuran tidak lembut,
nosel harus diganti dalam satu set
Gambar 67. Menguji peluncuran jarum nosel
d)Merakit nosel injeksi bahan bakar
Merakit bagian-bagian nosel injeksi dengan urutan
kebalikan dari pembongkaran
74
c. Rangkuman 3
1) Langkah kerja dalam pemeliharaan/servis sistem dan
komponen injeksi bahan bakar pada motor diesel adalah
meliputi pembongkaran, pembersihan, pemeriksaan,
perbaikan, perakitan/pemasangan, dan pengujian.
2) Pemeliharaan/servis pada tangki bahan bakar berupa
pemeriksaan dari kebocoran dan perbaikan.
3) Pemeliharaan/servis pada pompa pemindah/pemberi berupa
pengujian kapasitas dan tekanan pemompaan,
pembongkaran, pemeriksaan keausan, perbaikan, perakitan
dan pengujian kebocoran
4) Pemeliharaan/servis pada pompa injeksi didasarkan pada hasil
kalibrasi kemampuan pompa injeksi pada test bench.
Berdasarkan hasil kalibrasi dapat dilakukan penyetelan atau
perbaikan. Perbaikan pada pompa injeksi harus dilakukan
pembongkaran bagian (part) pompa injeksi tersebut dengan
menggunakan SST yang tersedia.
5) Pemeliharaan/servis pada elemen pompa meliputi
pemeriksaan kebersihan, presisi dan keausan pada plunyer
dan silindernya
6) Pemeliharaan/servis pada katup pemberi adalah juga pada
kebersihan, presisi dan keausan pada katup pemberi dan
dudukan katup pemberinya.
7) Pemeliharaan/servis bagian pompa yang lain juga dilakukan
pada tappet roller dengan lubang tappet tersebut, poros nok
dan dudukannya/bantalannya yang dilperiksa keausannya dan
kebengkokannya
75
8) Pemeliharaan/servis pada nosel injeksi meliputi kemampuan
tekanan injeksi, kebersihan, presisi dan keausan jarum nosel
terhadap dudukannya.
d. Tugas 3
1) Bukalah elemen pompa yaitu plunyer dan silinder suatu
pompa injeksi sebaris, selanjutnya buatlah kesimpulan tentang
kondisi elemen pompa dan tanda-tanda pemasangan pada
elemen pompa tersebut.
2) Ujilah tekanan injeksi pada nosel-nosel injeksi suatu unit
mesin diesel dan simpulkan kondisi tiap noselnya. Bila perlu
lakukaknlah penyetelan tekanan tersebut.
e. Tes Formatif 3
1) Suatu unit mesin diesel dengan pompa injeksi sebaris
mengalami kehabisan bahan bakar dan mati. Setelah diisi
bahan bakar mesin sulit dihidupkan. Lakukanlah suatu
pekerjaan sehingga mesin tersebut dapat hidup kembali.
2) Setelah dikalibrasi diperoleh suatu silinder menghasilkan
kapasitas bahan bakar paling sedikit dibandingkan silinder
lainnya. Lakukanlah perbaikan pada silinder tersebut
3) Diperoleh hasil uji tekanan injeksi pada nosel-nosel injeksi
suatu unit mesin diesel 4 silinder tidak sama. Lakukanlah
penyetelan pada nosel tersebut agar tekanan injeksi sama
76
f. Kunci Jawaban Formatif 3
1) Melakukan pembleidingan (mengeluarkan udara dari sistem
injeksi bahan bakar) dengan memanfaatkan pompa priming
2) Bila dilakukan penyetelan tetap tidak menghasilkan kapasitas
injeksi yang sama maka dlakukan pembongkaran,
pemeriksaan, perbaikan/penggantian unit elemen pompa yang
bersangkutan dan perakitan serta pengujian kembali.
3) Masing-masing nosel injeksi diuji dengan tester, dibongkar,
dibersihkan, ditambah/dikurangi ring/perapat/shim dan diuji
kembali tekanan injeksinya sampai terjadi kesamaan tekanan.
77
g. Lembar Kerja 3
1) Alat dan Bahan
a) (satu) unit mesin diesel
b) 1 (satu) unit pompa injeksi sebaris
c) 4 (empat) buah nosel injeksi
d) 1 (satu) buah toolbox
e) Kunci sock dan kunci momen
f) Majun
2) Keselamatan Kerja
a) Gunakan peralatan servis yang sesuai dengan fungsinya
b) Ikutilah instruksi dari guru ataupun langkah kerja yang
tertulis pada lembar kerja
c) Mintalah ijin kepada guru anda bila akan melakukan
pekerjaan yang tidak tertulis pada lembar kerja
d) Bila perlu mintalah buku manual mesin sesuai dengan
obyek yang digunakan
3) Langkah kerja
a) Persiapkan alat dan bahan praktik secara cermat, efektif
dan seefisien mungkin.
b) Perhatikan instruksi praktik yang disampaikan oleh guru .
c) Lakukan langkah kerja pemeliharaan/ servis sistem injeksi
bahan bakar diesel!
d) Lakukan langkah kerja pemeliharaan/ servis pada
komponen-komponen injeksi bahan bakar diesel!
e) Buatlah catatan penting kegiatan praktik secara ringkas.
f) Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan yang telah
digunakan ke tempat semula, serta bersihkan tempat kerja.
78
4) Tugas
a) Buatlah laporan praktik secara ringkas dan jelas !
b) Buatlah rangkuman pengetahuan baru yang anda peroleh
setelah mempelajari materi pada kegiatan belajar 3!
79
BAB III
EVALUASI
A. Pertanyaan
1. Jelaskan dengan singkat perbedaan proses pembakaran pada mesin
diesel dengan mesin bensin!
2. Jelaskan dengan singkat hubungan antara bentuk ruang bakar
dengan sistem injeksi yang digunakan pada suatu mesin diesel!
2. Jelaskan perbedaan sistem injeksi dengan pompa injeksi sebaris
dan pompa injeksi distributor!
3. Apa fungsi sedimenter pada sistem injeksi bahan bakar mesin
diesel?
4. Apakah tidak cukup dengan saringan bahan bakar?
5. Jelaskan fungsi pompa pemindah dalam sistem injeksi bahan bakar!
6. Mengapa elemen pompa injeksi dipandang paling penting dalam
pompa injeksi ?
7. Jelaskan jenis dan fungsi nosel injeksi yang dikenal dalam sistem
injeksi bahan bakar!
8. Lakukanlah penyetelan tekanan injeksi pada nosel-nosel suatu unit
mesin diesel agar tekanannya sesuai dengan spesifikasi
9. Pada sebuah mesin diesel 4 silinder dengan pompa injeksi sebaris
yang sedang berputar, bocorkanlah sistem injeksinya dengan
mengendorkan salah satu sambungannya sampai mesin tersebut
mati. Lakukanlah pembleidingan sampai mesin hidup!
10.Buatlah percobaan dengan menyetel tekanan injeksi di atas atau di
bawah tekanan injeksi spesifikasi. Apa yang terjadi pada
kemudahan mesin hidup dan pemakaian bahan bakar serta warna
asap gas buangnya.
80
B. Kunci Jawaban
1. Proses pembakaran pada mesin bensin segera terjadi dan selesai
setelah akhir kompresi dan saat busi memercikkan bunga api,
sedangkan pada mesin diesel pembakaran dengan suhu kompresi
yang pada akhir kompresi baru dimulai persiapan
pembakaran/penundaan penyalaan, selanjutnya pembakaran
dilaksanakan secara bertahap yang memerlukan penyapuran bahan
bakar dengan udara cukup homogen
2. Pada mesin diesel dengan ruang bakar biasa/langsung banyak
menggunakan sistem injeksi langsung dengan nosel bentuk lubang,
sedangkan mesin diesel dengan ruang bakar tambahan banyak
menggunakan nosel tipe pin
3. Sistem injeksi bahan bakar dengan pompa injeksi sebaris melayani
tiap silinder mesin dengan satu elemen pompa secara pribadi,
sedangkan pada sistem injeksi dengan pompa injeksi distributor,
satu elemen pompa melayani semua silinder mesin diesel.
4. Sedimenter berfungsi untuk memisahkan air yang tercampur
dengan bahan bakarnya. Saringan bahan bakar berfungsi
memisahkan kotoran/partikel padat dari bahan bakarnya
5. Pompa pemindah berfungsi untuk: (a) memindahkan bahan bakar
dari tangki ke dalam ruang pompa injeksi, dan (b) mengeluarkan
udara yang terlanjur masuk ke dalam sistem injeksi bahan bakar
6. Elemen pompa paling penting karena menentukan tekanan injeksi
dan kapasitas injeksi/jumlah bahan bakar
7. Jenis nosel adalah tipe lubang dan tipe pin. Tipe lubang terbagi
menjadi jenis lubang tunggal dan lubang banyak, dan tipe pin
terbagi menjadi jenis pasak dan throttle. Tipe lubang untuk sistem
injeksi langsung dan tipe pin untuk injeksi tidak langsung dengan
ruang bakar tambahan.
81
8. Penyetelan tekanan injeksi pada nosel-nosel suatu unit mesin diesel
agar tekanannya sesuai dengan spesifikasi
9. Pembleidingan pada unit mesin diesel sampai mesin hidup.
10.Percobaan dengan tekanan injeksi lebih besar dripada spesifikasi.
Kesimpulan seharusnya mesin tetap dapat hidup, bahan bakar
boros dan gas buangnya berwarna hitam/lebih hitam
C. Kriteria Kelulusan
Kriteria Skor
(1-10)
Bobot Nilai Keterangan
Kogninif (soal no 1 s.d. 10) 5
Ketepatan langkah kerja 1
Hasil praktik 2
Ketepatan waktu 1
Keselamatan kerja 1
Nilai Akhir
Syarat lulus
nilai minimal
56
Keterangan :
Tidak = 0 (nol) (tidak lulus)
Ya = 70 s.d. 100 (lulus)
Kategori kelulusan :
70 s.d. 79 : memenuhi kriteria minimal dengan bimbingan
80 s.d. 89 : memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan
90 s.d. 100 : di atas minimal tanpa bimbingan
82
BAB IV
PENUTUP
Siswa yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat
melanjutkan ke modul berikutnya. Sebaliknya bila siswa dinyatakan tidak
lulus, maka siswa tersebut harus mengulang modul ini dan tidak
diperkenankan untuk mengambil modul selanjutnya.
83
DAFTAR PUSTAKA
Anonim (t.th.). Pedoman Reparasi Mesin 2 D. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor.
Anonim. (1995). New Step 1 Training Manual. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor.
Anonim. (1995). Materi Pelajaran Engine Group Step 2. Jakarta: PT.
Toyota Astra Motor.
Toboldt, William K. (1977). Diesel Fundamentals, Service, Repair.
South Holland: The Goodheart-Willcox Company, Inc.
Langganan:
Postingan (Atom)